• Home
  • News
  • Kasus Pembunuhan Anak di Doloksanggul: Hakim Vonis Bebas Ayah Almarhum Aldi Sibarani. Jadi Siapa Sebenarnya Pembunuh Aldi Sibarani ?
KSP Makmur Mandiri
Jumat, 21 Juli 2017 14:12:00

Kasus Pembunuhan Anak di Doloksanggul: Hakim Vonis Bebas Ayah Almarhum Aldi Sibarani. Jadi Siapa Sebenarnya Pembunuh Aldi Sibarani ?

BAGIKAN:
Abed Ritonga
Kapolres dan terdakwa saat rekonstruksi beberapa waktu lalu, sebelum dilimpahkan ke kejaksaan.
Doloksanggul(Pelita Batak): Tokoh masyarakat Kabupaten Humbanghasundutan Erikson Simbolon kepada pelitabatak.com mengaku terkejut setelah mengetahui hal ini. Ia menanggapi vonis bebas majelis hakim kepada Mangasa Sibarani merupakan sebuah denomena baru dalam penegakan hukum di negara ini. dan mengaku sangat kecewa atas putusan hakim yang menjatuhkan vonis bebas kepada Mangasa Sibarani.

"Nah, pihak Kejaksaan kami harapkan agar melakukan kasasi atas putusan ini, masyarakat yang mengikuti berita ini sangat kecewa karena kasus ini sangat mengguncang Humbanghasundutan dulunya, mulai dari pencarian korban sampai rekonstruksi dan sampai putusan ini kita ikuti terus perkembanganya. Jadi polisi juga harus bertanggungjawab dalam penyelidikanya. Paling membingungkan saya kan pelaku sudah mengakui perbuatanya kog gak di pertimbangkan hakim? Jadi siapa dong pelaku sebenarnya kalau begitu?"kata Erikson.

Seperti di kutip dari laman New Tapanuli, bahwa Mangasa Sibarani (39), terdakwa kasus pembunuhan anak kandungnya sendiri, Aldi Manata Sibarani (10) divonis bebas majelis hakim. Vonis inipun memunculkan misteri baru, siapa sebenarnya pembunuh Aldi.

Diketahui, Mangasa Sibarani divonis bebas oleh majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Tarutung, Rabu 19 Juli 2017. Padahal sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Mangasa Sibarani dituntut 20 tahun penjara pada sidangyang berlangsung Kamis 8 Juni lalu.

Sontak vonis ini membuat orangtua Mangasa Sibarani, Op Polo Sibarani dan keluarga lainnya terkejut. "Kalau bukan dia (Mangasa) yang membunuh cucuku itu (Aldi), lantas siapa pelakunya?" ujarnya saat diwawancarai.

"Soal vonis bebas, kami merasa lega. Tetapi vonis bebas itu menjadi beban baru kami. Siapa sebenarnya pelakunya. Tolonglah hal ini diungkap," pintanya.

"Terus terang, sebagai orangtua terdakwa dan kakek korban, saya tidak menyangka kejadian ini. Cucuku Aldi sudah pergi untuk selama-lamanya. Siapa yang menjadi pelaku pembunuhan itu? Kami sudah terlanjur malu. Anak saya didakwa membunuh cucu kami," tandasnya.

Dia juga merasa bersalah atas ungkapannya yang menyatakan terdakwa bukan anaknya lagi. "Sejak kejadian itu, kami sudah mengikhlaskan terdakwa bukan lagi anggota keluarga kami. Sebab perbuatan terdakwa sebagaimana rekonstruksi yang digelar Polres Humbahas lalu merupakan aib besar, karenanya kami sempat menganggap dia sudah tiada. Sudah saya katakan bahwa anak saya tinggal 7 orang lagi, 3 laki-laki dan 4 perempuan. Saya tidak lagi menghitung Mangasa sebagai anak saya. Dan, sekarang saya menyesal dan berharap banyak kepada aparat hukum untuk mengungkap siapa pelaku pembunuh cucuku yang sebenarnya," tandasnya.

Keluarga lainnya juga mengamini pernyataan Op Polo Sibarani. "Semula kami sudah ikhlaskan, terdakwa mati di penjara saja. Kami tidak tahu mau bilang apa lagi. Yang terpenting bagi kami, siapa pelaku utama pembunuhan Aldi itu. Janganlah terdakwa dipaksakan seolah-olah pelaku pembunuhan. Kalu memang benar pelakunya Mangasa, kami sudah mengikhlaskannya mati di penjara. Tetapi kalau tidak dia yang melakukan, siapa orangnya? Kami beberapa kali menjadi korban," tandasnya.

Sebelumnya, dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Sarma Siregar, tim JPU Bambang didampingi Arjansah dalam amar tuntutan mengatakan bahwa terdakwa Mangasa Sibarani alias Mangasauli telah melakukan tindak pidana kekerasan yang mengakibatkan kematian anaknya sendiri, Aldi Manata Sibarani.

Pihak JPU juga menjerat Mangasa Sibarani dengan hukuman pidana penjara 20 tahun dikurangi masa tahanan, denda Rp50 juta subsider 6 bulan.

"Tuntutan tersebut sesuai dengan pasal 80 ayat 4 UU No.35/2014 UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak," ujarnya.

Pengacara Rudi menjelaskan, sesuai pengakuan terdakwa, kliennya dipaksa petugas untuk mengakui dan menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP).
Selain itu, selama pemeriksaan, kliennya dipukul oleh petugas sehingga dalam pengungkapan kasus ini, terdakwa di bawah tekanan.

"Dasar pembelaan kita, sampai saat ini terdakwa tidak mengaku sebagai pelaku atas kematian anaknya, Aldi Manata Sibarani," ungkapnya.

Sebelumnya, pada 2 Maret lalu, Polres Humbahas melakukan rekonstruksi terhadap pembunuhan Aldi Sibarani oleh bapak kandungnya, Mangasa Sibarani. Dalam rangkaian cerita rekonstruksi tersebut, Mangasa, seorang supir angkutan umum warga Desa Aek Lung, Kecamatan Doloksanggul, Humbahas, tega menganiaya anak kandungnya, Aldi Sibarani, hingga tewas hanya gara-gara telat membeli rokok dari warung.

Bahkan, tersangka membuang jasad anaknya ke semak-semak setelah tewas hingga baru ditemukan oleh warga 5 hari kemudian dalam keadaan tubuh mulai membusuk.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu (12/2) sekira pukul 17.00 WIB, dimana pelaku awalnya menyuruh korban membeli sebungkus rokok ke salah satu warung yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumah mereka usai makan bersama adik korban, Andre Sibarani.

Namun, berselang setengah jam ditunggu, Aldi tak kunjung datang dan pelaku mulai kesal.

Selanjutnya, dia menanyakan seorang pengendara yang kebetulan melintas dari depan rumahnya apakah bertemu anaknya di perjalanan. Tapi, pengendara tersebut mengatakan tidak melihat anak pelaku. Pelaku kemudian masuk ke rumahnya dan menunggu sekitar tiga menit. Tapi, korban tak juga datang. Kemudian, pelaku meminjam sepedamotor tetangganya untuk mencari Aldi ke arah warung.

Sesampainya di warung, ia bertanya kepada pemilik warung apakah benar Aldi membeli rokok dari warung tersebut. Oleh pemilik warung mengaku bahwa benar Aldi benar membeli rokok dari warung tersebut.

Mendapat informasi tersebut, kemudian ia pulang ke rumah. Namun, sesampainya di rumah, Aldi tidak berada dirumah. Ditunggu lima belas menit kemudian, Aldi juga tak kunjung datang, sehingga pelaku mengambil inisiatif mencari Aldi dengan mengemudikan mobil angkutan umum miliknya bersama anak bungsunya, Andre.

Namun, di perjalanan, Aldi tiba-tiba keluar dari arah semak belukar hingga tertabrak mobil yang dikemudikannya. Lalu, turun melihat anaknya yang sudah terduduk di belakang mobil.

Saat itulah pelaku emosi hingga memukul, mencekik leher, membenturkan kepala anaknya ke badan mobil, bahkan menginjak perut korban hingga terkapar.

Setelah terkapar, pelaku kemudian menggendong korban dan memasukkannya ke dalam jok belakang mobil untuk dibawa ke salah satu pos kesehatan yang ada di desa itu.

Akan tetapi, sesampainya di pos kesehatan desa, pelaku melihat tubuh anaknya tidak bergerak lagi. Bahkan, setelah dipanggil, juga tidak menyahut.

Bahkan pelaku malah menyulut tangan anaknya dengan api rokok yang sedang dihisapnya ke tangan korban, namun korban tak bergerak lagi.

Dia kemudian memastikan denyut nadi anaknya, ternyata anaknya sudah meninggal.

Lalu, pelaku mengangkat jasad Aldi dengan kedua tangannya keluar dari dalam mobil dan menyuruh anak bungsunya naik ke gendongan punggungnya.

Kemudian, dia membawa Aldi dan adiknya ke salah satu perladangan kopi. Lalu, membuang jasad Aldi ke parit semak-semak yang ada di pinggiran ladang kopi tersebut.

Usai memnbuang jasad anaknya, pelaku pulang bersama anak bungsungnya, Andre, ke rumah mereka. Sesampainya di rumah, dia mencuci bagian belakang mobil dan jok yang terkena bercak darah korban. Jaketnya yang juga ikut terkena bercak darah juga ia cuci.

Kapolres Humbahas AKBP Nicolas Ari Lilipaly dan jajarannya mengatakan kalau orangtua korban tunggal sebagai pelaku pembunuhan yang sebelumnya dikabarkan hilang secara misterius.

"MS sebagai pelaku adalah berdasarkan keterangan anak kandungnya, Andre, yang langsung menyaksikan seluruh peristiwa tersebut. MS juga sebagai pelaku tunggal dalam tragedi pembunuhan tersebut," ujarnya.

Namun kini hakim membebaskan terdakwa. Lalu siapa yang bunuh Aldy? Polisi dan jaksa mesti kerja keras lagi.(Abed Ritonga)
  BeritaTerkait
  • Ayah Almarhum Aldi Sibarani Divonis Hakim Bebas, Warga Aek Lung Humbahas Demonstrasi Tuntut Keadilan

    10 bulan lalu

    Doloksanggul, Humbanghasundutan (Pelita Batak): Vonis hakim Pengadilan Negeri Tarutung baru-baru ini yang membebaskan  terdakwa pembunuh almarhum Aldi Manata Sibarani yang merupakan ayah kandung

  • NKRI Sudah Final, Penyeragaman Tidak Relevan

    12 bulan lalu

    ~Oleh:  Dr Bernard Nainggolan, SH, MH, Ketua Pengurus Nasional Perkumpulan Senior GMKISEBAGAI warga negara, kita sangat konsern terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan men

  • Ini Sejarah Raja Sihotang

    6 bulan lalu

    Oleh: Drs Robinson Hasugian dan Mader Hasugian, S.KomSihotang Orang Kaya Tua (Hasugian Sitolu Tali) merupakan anak ke-7 dari Raja Sigodang Ulu Sihotang yang pergi meninggalkan Negeri Sihotang (Samosir

  • Peristiwa Kematian Tahanan Polsek Batangtoru Masih Tanda Tanya Keluarga

    9 bulan lalu

    Tapsel (Pelita Batak) : Beberapa kejanggalan dalam kasus kematian Rifzal Riandi Siregar (25), Tahanan Polsek Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan dalam kasus penganiayaan Oknum Anggota Polisi itu di

  • Mau Fee 7,5% dan Rp500 Ribu per Bulan dari BPJS Ketenagakerjaan? Ini Caranya...

    5 bulan lalu

    Medan(Pelita Batak): Guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya jaminan sosial, BPJS Ketenagakerjaan menggalakkan program Penggerak Jaminan Sosial Indonesia (PERISAI). Dengan bergabung di

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet