• Home
  • News
  • FGD FBBI: Pernikahan Adat Batak Antara Momok dan Keharusan
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 15 Juli 2017 12:57:00

FGD FBBI: Pernikahan Adat Batak Antara Momok dan Keharusan

BAGIKAN:
Ist
FGD FBBI membahas pelaksanaan adat Batak
Laporan Ronsen LM Pasaribu

Focus Group Diskusi Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI), dalam rangka memperingati HUT FBBI ke III diperingati dengan sederhana, bahkan tak ada persiapan khusus seperti sedianya ulang tahun sebuah organisasi. Namun demikian, DPP FBBI melaksanakan kegiatan kebiasaan yang sudah dilaksanakan saat HUT I dan II yaitu FGD. Selain itu disepakati menerbitkan Buku HUT FBBI ke III, yang akan diterbitkan pada Bulan September 2017 mendatang.

FGD kali ini, menampilkan Drs. Advendes Pasaribu Ultop, Kepala Bidang Gasibu (Gerakan Seribu) dan Perwakilan FBBI i Abu Dhabi sebagai pemantik diskusi. Nara sumber Drs. Choky Pardede, Kabid Komunikasi dan Publikasi dan Ronsen LM Pasaribu, Ketum FBBI sekaligus sebagai moderator. Hadir pengurus DPP dan DPD DKI Jakrta.

Advendes Pasaribu menyampaikan pengamatannya banyak generasi muda galau dengan masalah kesulitan yang dihadapi rencana pernikahan dengan adat batak karena beberapa hal. Antara lain, biaya yang tinggi, pelaksanaan adat yang menyita waktu yang lama. Biaya berkaitan dengan sinamot yang di luar jangkauannya, Biaya pesta yang tinggi jika dilihat tingkat tarif gedung dan konsumsi. Acara adat na gok ini membuat momok, atau ketakutan bagi kedua calon mempelai. Tentu, faktor biaya ini sepertinya menjadi jalan buntu sehingga muncul ketakutan, dan sangat mungkin muncul istilah Panglatu (perjaka lajang tua) atau Pertu (perawan tua).

Bagaimana pernikahan yang efisien, mampu menyesuaikan situasi dan kondisi yang dialami kedua pihak tanpa harus dipaksanakan dari sudut biaya dan waktu yang lebih singkat? Ini tantangan yang harus dibicarakan dan dicarikan solusi, supaya generasi muda batak melakukan pernikahan dengan pilihan istri/suami yang sudah dicintainya boleh berlangsung dengan ketentuan adat, gereja dan pemerintah.

Choky Pardede, menyampaikan pandangan bersifat testimoni. Kawin maduma (mangoli dung matua), karena adanya kendala justru dari diri sendiri yang terkesan ego agar memiliki kemampuan keuangan dahulu baru nikah.
Penundaan yang dilaksanakan ternyata setelah dikaji di kemudian, berpendapat seharusnya tidak perlu ditunda. Yang diperlukan komitmen kedua pihak saling menyadari kondisi masing-masing. Orangtua kita sudah mengatakan 'adat do na metmet, adat do na balga', hanya masalahnya komitmen kesiapan kedua pihak baik orangtua maupun penganten.

Ronsen Pasaribu mengamini pandangn Advendes maupun Choky Pardede. Masalahnya komplek bila diri sendiri yang menjalani, sebab memang faktor pernikahan itu tidak hanya diri sendiri yang mempengaruhi. Bisa kedua orang tua, bisa keluarga di Jakarta ini, bisa Raja Adat dan sebagainya. Pernikahan sangat tergantung pada kebesaran hati kedua pihak orang tua. Misalnya, pihak laki lemah keuangan, pihak Perempuan bisa menghendel acara pernikahan sehingga berjalan dengan baik. Sinamot pun bisa disepakati juga. Nilai Rp1 juta bisa disebut Rp100 juta, kata Advendes.
Jika upaya kesepakatan tidak tercapai, sesuai pengalaman yang ada ada dua cara ditempuh yaitu Kawin lari. Kedua calon berangkat ke Bonapasogit, lalu menginap di rumah Guru Huria (Pelayan Tuhan di Gereja), kemudian pihak keluarga Laki akan menjalankan adat istiadat di Bonapasogit, sampai dilaksanakan pernikahan adat nagok. Cara kedua, dilangsungkan pernikahan secara Gereja dan Negara namun adat nagok dilaksanakan belakangan (Sulang-sulang pahompu). Ini juga dua cara yang bisa dicapai demi mewujudkan niat pernikahan di kalangan orang batak.

Djalan Sihombing,SH, menyoroti sejarah pernikahan di Bonapasogit yang pada umumnya masyarakat petani dimana masih banyak waktu untuk melangsungkan pernikahan dengan, tahap dan waktunya cukup lama. Zaman dulu, masih banyak waktu berpantun sesama pemuda Batak. Ini membuktikan banyak waktu pertemuan sesama pemuda (doli-doli dohot namarbaju). Sedangkan sekarang dan ke depan, terutama di kota-kota besar dimana waktu kerja sangat terjadwal, maka tidak banyak waktu berlama-lama dalam acara adat. Apalagi kedua pengantin sudah tidak terbiasa lagi mengikuti adat yang memakan waktu cukup lama. Pada umumnya yang sudah lahir di kota mengeluh dengan lamanya waktu adat perkawinan. Kita bayangkan pengantin bangun pukul 05.00 WIB pagi dan masih dinasehati di rumah sampai pukul 22.00 WIB tanpa istirahat. 

Sebaiknya waktu bisa dipersingkat sesimple mungkin, yang penting syarat adat "suhi ampang na opat" dilaksanakan sudah dapat disebut adat na gok dan makna adat itu tidak hilang. Jadi prinsip adat kecil atau adat besar bisa berlangsung (adat do na gelleng, adat do na balga). Untuk apa acara perkawinan mewah, tapi ke depannya menjadi kesulitan. Jadi, yang penting maknanya tidak hilang.

Selain itu, bagi orang Batak, pernikahan sebenarnya diatur oleh tiga hukum, Hukum Positif (UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan), Hukum Agama dan Hukum Adat. Mana yang dominan, sebenarnya yang dominan Hukum Agama (khusus Kristen) karena agama Kristen tidak mengenal perceraian kalau bukan karena perzinahan. Artinya hukum Negara dan Adat, bisa menyesuaikan khususnya adat.

Sedangkan Hukum Negara tidak jadi masalah karena tidak memerlukan biaya besar. Jadi kembali ke adat yang membuat pernikahan ini sulit bagi sebagaian orang. Harus ada jalan keluar dengan mempersingkat waktu tetapi maknanya tidak hilang. Perlu penyederhanaan adat itu sendiri.

Rustika,SH mengatakan saya melihatnya kedua pihak perlu komitmen akan makna pernikahan itu sendiri, pernikahan sebagai amanat Tuhan. Maka jika faktor uang yang signifikan seperti besarnya sinamot, pesta yang butuh biaya besar, ada yang menikah di gereja kharismatik. Jadi, perlu penyederhanaan biaya.

Rosmawati br Siregar berpendapat menikah dengan pemuda Kristen dari suku lain yaitu NTT. Itu pilihan terbaik, karena sempat pihak keluarga orang batak yang semula melamarnya, ada keberatan keluarga akibat dia tidak punya saudara laki-laki (yang hidup), tidak ada tulang nantinya. Ini hambatan keluarga, nantinya dianggap tidak "sangap". Akhirnya, keputusan diambil, dengan calon lainnya dari NTT dengana memberikan marga Rajagukguk. Semua bisa berjalan lancar dan kebahagiaan juga mereka dapatkan.

Toni Limbong menyebutkan adat, adalah kesepakatan kedua pihak. Yang penting adalah kesepakatan kedua calon mempelai, yang sudah mencintai. Bila tidak sepakat, ada sarana adat, sulang-sulang pahompu. Guna mewadahi kepentingan pemuda, perlu dipikirkan Gereja membuat ruang kecil yang bisa dilangsungkan pernikahan orang batak dalam skala kecil. Sehingga biaya gedung bisa menolong jemaatnya yang punya keterbatasan.

Obet Hutabarat berpendapat saya sebagai orang batak terdorong untuk mengetahui lebih banyak lagi soal adat batak. Topik ini sedikit banyak saya dengar dan setuju dicarikan solusi agar jangan terhambat pelaksanaan pernikahan yang sudah saling mencintai hanya gara gara besar biaya, jadi batal.

Julious Pasaribu, SH mengatakan adat namenek, adat na balga. Pengalaman pribadi yang mengambil boru dari Toraja, merasakan faktor kesulitan mengikuti adat di kalangan orang batak saat itu. Walau sekarang, ternyata adat Toraja juga tidak kurang murahnya, tetap saja punya adat yang memerlukan dana yang tidak sedikit. Jadi, dana yang besar, karena tuntutan adat istiadat setempat.

Johannes Situmorang, memandang bahwa soal dana ini adalah urusan orang tua. Justru yang menjadi masalah saat ini bagi orang batak adalah kecocokan pria dan wanita.
Banyak anak muda batak yang sulit menentikan pilihannya. Keterbukaan sangat kurang, saling menunggu sehingga banyak anak muda jadi usianya jadi diatas 30 tahun baru nikah. Namun sepakat agar anak muda perlu keberanian dan komitmen bersama dalam melangsungkan pernikahan.

Delly br Sinaga berharap ada kompromoni kedua pihak saling menerima jika ada yang punya kendala. Jangan sampai gagal karena adanya kendala dana sedangkan kecuanya sudah saling mengasihi.

Kesimpulan yang diambil dalam FGD ini, secara ringkas sebagai berikut :
1. Pernikahan orang batak didasari pengenalan dan komitmen yang tinggi sehingga siap untuk menghadapi pernikahan yang sederhana sekalipun, jika orang tua memutuskan acaranya sederhana.
2. Pihak lembaga adat batak, di kedua pihak hendaknya tidak merupakan pihak yang mendorong agar terjadi pernikahan dengan tuntutan dana besar, mengingat pengaruh di luar kedua suhut (keluarga) dalam kenyataan turut mempengaruhi dalam mengambil keputusan.

Diskusi ini masih memerlukan FGD lanjutan, lebih membahas dari sudut yang lebih mendalam dari sisi Theologi dan adat istiadatnya itu sendiri. Diskusi yang pertama ini, lebih pada identivikasi permasalahan apa yang ditemui oleh orang batak dalam pernikahan dengan acara Adat na gok di perkotaan ini.(*)
  BeritaTerkait
  • Dari Forum Diskusi Pemerhati Pengembangan Pariwisata Danau Toba

    2 tahun lalu

    Oleh Ronsen LM PasaribuDalam rangka mendukung percepatan pengembangan  Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KPSN) Danau toba, FBBI telah menghadiri undangan  Direktur Utama BPODT, Arie Pra

  • 6 Lokasi Wisata Alam di Tanah Batak

    3 tahun lalu

    Sejumlah lokasi wisata terbaik di Tanah Batak, berikut ini bisa menjadi panduan bagi Anda yang ingin bepergian bersama keluarga atau teman-teman di sekitar Tanah Batak.

  • Ulos Warisan Budaya Bangso Batak Jadi Media Diplomasi Kebudayaan

    3 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) memandang perlu dan penting untuk mengangkat kembali ulos menjadi warisan leluhur bangsa Batak untuk dilestarikan. Karena itu, di Sekretariat YPDT di Cawang, Jakarta Timur, YPDT mengadakan disku

  • Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) Gelar Diskusi Kamisan: Dulu, Ada Doa Khusus untuk Tenun Ulos Batak

    3 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Ulos adalah salah satu kekayaan warisan leluhur bangsa Batak. Kondisi warisan leluhur tersebut makin tergerus oleh minimnya minat kita mencintai ulos. Generasi muda makin tid

  • Ini Dia Kegiatan Pengurus Daerah FBBI Selama 2016

    3 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) merilis kegiatan pengurus daerah yang telah dilaksanakan sebagai berikut di bawah ini.   a. DPD FBBI Provinsi Riau.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb