• Home
  • News
  • Credit Suisse: Kekayaan Global tumbuh 6.4%, dipimpin oleh Amerika Serikat
Kamis, 23 November 2017 16:21:00

Credit Suisse: Kekayaan Global tumbuh 6.4%, dipimpin oleh Amerika Serikat

Total kekayaan rumah tangga di Indonesia meningkat 4,4% menjadi USD1,8 triliun
BAGIKAN:
ist|pelitabatak
Jakarta (Pelita Batak) :
Data Global Wealth Report 2017 yang dipublikasikan Credit Suisse Research Institute menemukan kekayaan global meningkat sebesar 30% sejak krisis keuangan global dimulai 10 tahun lalu. Dalam 12 bulan sampai pertengahan 2017, kekayaan global tumbuh lebih cepat dibandingkan beberapa tahun terakhir, dengan rata-rata kekayaan per orang dewasa mencapai rekor tertinggi baru.

Temuan-temuan utama di Indonesia:
- Kekayaan rumah tangga di Indonesia tumbuh 4,4% menjadi USD1,8 triliun. Angka ini diproyeksikan akan meningkat 8,7% per tahun dalam lima tahun ke depan sehingga mencapai USD2,8 triliun pada tahun 2022.

- Diukur dalam Rupiah, kekayaan per orang dewasa telah naik lebih dari enam kali lipat selama periode 2000-2017 menjadi USD11.000. Depresiasi nilai tukar sebesar 32% sejak tahun 2010 telah menyebabkan kekayaan per orang dewasa naik lebih lambat dalam ukuran dolar AS. Namun, kekayaan per orang dewasa dalam dolar AS telah meningkat lebih dari empat kali lipat sejak tahun 2000. (Figur 1, Halaman 58)

- Di Indonesia, 88% aset kotor merupakan aset riil. Utang pribadi rata-rata hanya menyumbang 7% aset kotor di Indonesia. (Figur 2, Halaman 58)

- Pada tingkat kekayaan yang lebih tinggi, ada sekitar 111.000 jutawan dengan harta diukur dalam dolar AS dan 868 individu berkekayaan bersih ultra tinggi (Ultra High Net Worth Individual/UNHWI), dan angka ini diperkirakan akan meningkat lebih dari 10% setiap tahunnya dalam lima tahun ke depan menjadi 180.000 jutawan dan lebih dari 1.400 UNHWI pada tahun 2022.

Menurut Global Wealth Report edisi kedelapan, sejak awal sampai pertengahan 2017, total kekayaan global naik mencapai 6,4%, atau USD16,7 triliun menjadi USD280 triliun, kenaikan tercepat sejak 2012. Angka ini mencerminkan keuntungan yang besar di dalam pasar ekuitas, sejalan dengan peningkatan serupa dalam aset non-finansial, yang untuk pertama kalinya pada tahun ini bergerak di atas level sebelum krisis tahun 2007. Pertumbuhan kekayaan juga melebihi pertumbuhan populasi, sehingga kekayaan rata-rata per orang dewasa tumbuh sebesar 4,9% dan mencapai rekor tertinggi baru sebesar USD56.540 per orang dewasa.

"Sepuluh tahun sejak awal krisis keuangan global, kami melihat adanya peningkatan signifikan dalam kekayaan di semua wilayah di dunia. Di negara asal kami, Swiss, kekayaan per orang dewasa telah meningkat lebih dari 40% selama periode ini dan terus memuncaki peringkat global. Dalam laporan Global Wealth Report Credit Suisse Research Institute tahun ini, kami mengeksplorasi prospek kekayaan generasi milenial, yang muncul di masa yang lebih menantang dari generasi sebelumnya," kata Urs Rohner, Kepala Credit Suisse Research Institute dan Kepala Dewan Direksi Credit Suisse Group.

Amerika Serikat memimpin kenaikan dalam kekayaan global, terutama didorong oleh aset finansial yang lebih kuat, dengan pertumbuhan kekayaan sebesar USD8.5 triliun yang merepresentasikan setengah dari total pertumbuhan kekayaan global dalam 12 bulan terakhir. Kekayaan di AS mencapai sekitar USD93,6 triliun tahun ini, setara dengan 33% dari total kekayaan global. Eropa menjadi yang tertinggi kedua dalam kenaikan kekayaan mutlak antar wilayah sebesar USD4,8 triliun atau 6.4% sehingga mencapai total USD80 triliun, dengan Eurozone menyumbang USD3,1 triliun atau hampir 20% dari total kenaikan kekayaan di dunia.

Kenaikan kekayaan di Asia Pasifik 3%, didorong oleh Tiongkok


Wilayah Asia Pasifik terjadi kenaikan kekayaan sebesar 3% atau USD2,6 triliun menjadi USD89 triliun sepanjang 2016. Pertumbuhan lebih lambat karena terjadi pergerakan mata uang yang turun. Dengan nilai tukar yang tetap, kekayaan naik sebesar 5,9% di wilayah Asia Pasifik. Tiongkok memimpin pertumbuhan kekayaan di Asia Pasifik dengan total kekayaan meningkat 6,3% atau USD1,7 triliun menjadi USD29 triliun, menjadi negara dengan kenaikan kekayaan terbesar kedua sesudah AS. Kekayaan Jepang menurun 6,1% menjadi USD23,7 triliun karena depresiasi mata uang terhadap dolar AS; dalam ukuran yen, total kekayaan di Jepang meningkat sedikit 2,8%.


Kekayaan rata-rata di Australia dan Singapura termasuk tertinggi secara global


Secara global, Swiss tetap negara terkaya di dunia dalam hal kekayaan per orang dewasa dengan USD537.600 di tahun 2017, diikuti oleh Australia (USD402.600), dan Singapura (USD268.000) di peringkat kesembilan (lihat Tabel 2) di antara negara-negara dengan perekonomian terbesar. Dalam hal kekayaan median, negara-negara dengan level ketidaksetaraan kekayaan lebih rendah terus memiliki kekayaan median per orang dewasa yang lebih tinggi, dengan Swiss (USD229.000) dan Australia (USD195.400) sebagai dua yang tertinggi di dunia, dengan Jepang (USD123.700) di peringkat ketujuh dan Singapura (USD108.900) di peringkat kesembilan.



Tema utama yang dibahas dalam Global Wealth Report 2017 termasuk:
Milenial - generasi yang tidak beruntung


Awal yang sulit serta kondisi pasar yang buruk dialami oleh milenial di awal masa dewasa mereka. Hal ini kemungkinan besar akan membatasi peluang milenial untuk meningkatkan kekayaan mereka. Generasi ini tidak hanya terpukul oleh kerugian modal akibat krisis keuangan global, namun juga menghadapi langsung masalah pengangguran yang timbul setelah krisis, meningkatnya ketidaksetaraan pendapatan serta harga properti yang meningkat, peraturan hipotik yang lebih ketat, dan, di beberapa negara, kenaikan utang mahasiswa yang cukup besar. Milenial juga cenderung mendapatkan akses yang lebih sedikit ke dana pensiun daripada para pendahulunya.

Dampak kekayaan dari krisis keuangan global dan isu-isu lain yang dihadapi oleh milenial ditunjukkan oleh, misalnya, fakta data terbaru AS yang menunjukkan kekayaan rata-rata orang berusia 30-39 (USD72.400) pada tahun 2017 adalah 46% di bawah kekayaan pada usia yang sama dengan mereka yang pada tahun 2017 berusia 40-49 (USD134.800).

Data ini mengisyaratkan, milenial berada di posisi awal yang tidak menguntungkan membuat mereka lebih berhati-hati terhadap utang daripada gerenasi sebelumnya. Rasio utang terhadap pendapatan mereka dimulai lebih tinggi daripada kelompok sebelumnya, sebelum menurun karena mereka tampaknya menjadi lebih berhati-hati setelah krisis.

Sebagian milenial telah menjadi makmur meskipun menghadapi kesulitan, seperti tercermin dalam gambaran lebih positif yang diperlihatkan milenial di Tiongkok dan juga sejumlah pasar negara berkembang lainnya. Meskipun jumlahnya masih sangat
kecil, ada juga kenaikan baru-baru ini, secara mutlak, dalam jumlah miliarder muda.

Akan tetapi, prospek global secara keseluruhan untuk milenial adalah mereka tidak hanya akan mengalami tantangan yang lebih besar dalam membangun kekayaan mereka di masa depan, namun juga akan terus menghadapi ketidaksetaraan kekayaan yang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.

Kecenderungan jumlah jutawan


Jumlah jutawan secara global telah meningkat sebesar 170% sejak tahun 2000, sementara jumlah individu dengan nilai kekayaan sangat tinggi (UHNWI, orang-orang yang memiliki kekayaan di atas USD50 juta) telah meningkat lima kali lipat, membuat mereka menjadi kelompok pemegang kekayaan yang paling cepat tumbuh sejauh ini. Komposisi segmen jutawan berubah dengan cepat. Pada tahun 2000 sebanyak 98% jutawan terkonsentrasi pada negara-negara berpenghasilan tinggi. Sejak saat itu, telah bertambah 23,9 juta "jutawan baru"; 2,7 juta-12% dari total jutawan baru-di antaranya berasal dari negara berkembang. Transformasi ini bahkan lebih luar biasa di segmen UHWNI. Ekonomi berkembang menyumbang 6% dari segmen ini pada tahun 2000, namun sejak saat itu telah mendatangkan 22% pertumbuhan UHNWI (24.500 orang dewasa). Tiongkok sendiri menambahkan sekitar 17.700 orang dewasa-15% dari UHNWI baru di dunia.

Dari tahun 2016 sampai 2017, jumlah jutawan secara global tumbuh 7% atau 2,3 juta orang menjadi 36 juta orang, dengan pertumbuhan terbesar berasal dari AS, negara-negara Eropa Barat (Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Swedia) dan juga pasar kekayaan utama dan negara maju di Asia. Di wilayah tersebut, jumlah jutawan Australia bertambah 202.000 orang menjadi 1,2 juta orang, jutawan Tiongkok bertambah 138.000 menjadi dua juta orang, dan jutawan Taiwan bertambah 58.000 orang menjadi 381.000 orang. Sementara jumlah jutawan di Asia Pasifik tumbuh 3% pada tahun 2017, di tingkat atas piramida kekayaan, di wilayah ini terjadi pertumbuhan tercepat secara global dari segi jumlah UHNWI (pertumbuhan 18% menjadi 37.420) dan miliarder (24% menjadi 910) pada pertengahan tahun 2017.

Prospek kekayaan untuk lima tahun ke depan

Menurut laporan tersebut, kekayaan global akan terus tumbuh pada laju yang sama dengan lima tahun terakhir di 3,9% menjadi Rp341 triliun pada tahun 2022, meskipun lajunya lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya, yaitu 5,4%. Negara ekonomi berkembang diperkirakan akan menghasilkan kekayaan yang lebih cepat dari negara-negara maju namun lebih lambat dari perkiraan sebelumnya, dan kemungkinan akan mencapai 22% pangsa kekayaan global pada tahun 2022. Tidak mengherankan bahwa kontribusi terkuat diharapkan dari Tiongkok, diperkirakan sekitar Rp10 triliun atau peningkatan sebesar 33%.

Kekayaan non-finansial akan sedikit melampaui kekayaan finansial sekitar 1% tahun dalam lima tahun ke depan. Kredit juga diharapkan tumbuh lebih cepat daripada kekayaan finansial dan non-finansial di tahun-tahun mendatang setelah periode stabilitas di antara tahun 2007 dan 2010. Utang rumah tangga diperkirakan akan meningkat sebesar 37% dalam lima tahun ke depan menjadi 15% dari aset kotor.

Prospek segmen jutawan terlihat optimis dan diperkirakan akan meningkat sebesar 22% (4% per tahun) dari 36 juta orang saat ini menjadi 44 juta di tahun 2022; di dalamnya, segmen UHNWI cenderung meningkat sebesar 30% (5,5% per tahun) atau 45.000 menjadi 193.000 orang dalam lima tahun.

Kekayaan di Asia Pasifik diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,3% per tahun atau 29% sehingga mencapai USD115 triliun pada tahun 2022, dengan pertumbuhan tercepat berasal dari negara-negara berkembang seperti India (7,5% per tahun), Indonesia (8,7% per tahun), dan Filipina (9,4% per tahun). Di Asia Pasifik, jumlah jutawan diperkirakan akan meningkat sebesar 7,2% per tahun menjadi 11,7 juta pada tahun 2022, sementara segmen UHNW diperkirakan akan bertambah sekitar 52.000 orang dengan laju 6,8% per tahun.(*)

  BeritaTerkait
  • Memperkuat Smart Cities

    12 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak): Sistem tarif transportasi kota (Muni Fare) di San Fransisco baru saja di-hack, dan ternyata penyusup itu meng-install ransomware ke dalam sistem, dan meminta uang tebusan untu

  • Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK bidang Perekonomian: Pondasi Ekonomi Bagus Jadi Modal Dasar

    2 bulan lalu

    Jakarta (Pelita Batak):  Menko Darmin Nasution menegaskan, ekonomi Indonesia terus menunjukkan perbaikan yang menggembirakan. Hal itu ditunjukkan dari berbagai indikator ekonomi, antara lain: kem

  • Ketua DK OJK: Keuangan Syariah Solusi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

    tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad menyebutkan bahwa Keuangan Syariah bisa menjadi salah satu solusi dunia dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs)

  • Risiko Kredit Diperkirakan Akan Menurun Dan Fungsi Intermediasi Terus Membaik

    10 bulan lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan pada Kamis 16 Februari 2017 memandang kondisi stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang

  • Nommensen Studi Banding dan Siap Jajaki MoU Dengan UPH

    4 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak) :Dalam rangka meningkatkan mutu akademik, kualitas lulusan, tata kelola kampus dalam hal manajemen keuangan, dan persiapan pendirikan kelas Internasional dengan double degree Univ

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online