• Home
  • News
  • Beberapa Fakta Terkait Meninggalnya DL Sitorus
Selasa, 08 Agustus 2017 17:07:00

Beberapa Fakta Terkait Meninggalnya DL Sitorus

BAGIKAN:
ist|pelitabatak
PelitaBatak.com - Hingga akhir hayatnya, sosok DL Sitorus menarik perhatian banyak orang. Masa kecil yang pilu, mas amuda yang sukses dan selama hidupnya ia selalu jadi perhatian publik, bahkan tak jarang berurusan dengan pemerintah dan hukum.

Ketika ia meninggal, kabar tentang kematiannya begitu cepat menyebar dan menjadi viral. Tak hanya itu, banyak hal-hal aneh dan unik terkait kematiannya, dan hal itu masih jadi sorotan hangat media, baik media besar maupun media-media daring yang memang menjamur di era digital ini. Beberapa hal aneh itu dirangkum berikut ini:

1. Ingin Meninggal di Pesawat

Sebagaimana diketahui, DL Sitorus meninggal dunia saat hendak terbang dengan pesawat Garuda Indonesia GA 188 rute Jakarta-Medan pada Kamis (3/8/17) siang. Sitorus yang sudah berada di pesawat tiba-tiba sesak nafas lalu dinyatakan meninggal dunia oleh dokter di bandara. Artis Batak Novita Dewi Marpaung di akun instagramnya menyatakan bahwa DL Sitorus memang berkeinginan meninggal di pesawat.

2. Tak Sakit, tapi Minta Kursi Roda


Menurut salah seorang putranya, Hakim Sitorus, tidak ada tanda-tanda ayahnya menderita sakit menjelang kematiannya. "Informasi yang saya terima, bapak sudah lemas, dan waktu naik pesawat dia minta dipakaikan kursi roda," kata Hakim di rumah duka Jalan Kebun Raya II, Duri Kepa, Jakarta Barat, Jumat (4/8/17) sebagaimana dilansir tempo.co.

Hakim merasa aneh dengan permintaan ayahnya yang menggunakan kursi roda sebelum terbang ke Medan. Sebab, biasanya DL Sitorus jalan kaki. "Biasanya bapak jalan kaki, enggak ada yang dampingi, bapak single fighter-lah," kata Hakim.

3. Cuma 9 Bulan, Ia Menyusul Ibunda

Salah satu topik yang banyak ditulis media adalah rasa hormat DL Sitorus yang luar biasa kepada ibundanya. Ia disebut-sebut sangat patuh kepada ibundanya, almarhumah Theresia Panjaitan atau Op. Sabar Boru. DL Sitorus seolah pergi menyusul ibu yang sangat dihormatinya itu.

Theresia br Panjaitan berpulang pada usia 98 tahun di Ruma Parsaktian keluarga DL Sitorus di Parsambilan, Desa Sinta Dame, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Selasa (25/10/16).

4. Lama Dikebumikan

Sesuai rencana, Senin (7/8/17) hari ini, jenazal DL Sitorus akan diberangkatkan dari Jakarta menuju Bandara Silangit, Taput. Selanjutnya akan dibawa ke rumah duka di Ruma Parsaktian keluarga almarhum di Desa Cinta Damai, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa).

Dan sesuai rencana juga, DL Sitorus akan dimakamkan pada Jumat (11/8/17) mendatang. "Untuk acara pemakaman, dijadwalkan Jumat di pekamanan keluarga almarhum di Parsambilan, Desa Cinta Damai. Sebelumnya akan digelar acara adat mangarapot, mompo, selanjutnya manuan oppu-oppu," ujar Drs Monang Sitorus, kerabat almarhum DL Sitorus, sebagaimana dilansir newtapanuli.com, Minggu (6/8/17). Itu artinya, selama 9 hari DL Sitorus disemayamkan sebelum dikebumikan. Itu termasuk persemayaman yang cukup lama.

5. Sudah Persiapkan Peti Mati Sejak 3 Tahun Lalu

Sebuah postingan di akun Facebook atas nama Sirait Herta, tiga tahun lalu DL Sitorus sudah mempersiapkan diri untuk menghadap ketika Sang Khalik dan memesan peti mati pada CV Citra Ajibata.

"3 thn lalu suatu kehormatan yg besar opung percayakan CV Citra Ajibata mengerjakan peti mati ini. begitu selesai peti mati ini waktu itu Opung sangat puas dgn hasilnya," tulis akun Sirait Herta.

Menanggapi postingan itu, Iin Herdita Veronica Sirait mengatakan bahwa peti mati itu penuh kenangan. Soalnya DL Sitorus memesan peti mati kepada ayah Iin ketika mereka mengunjungi DL Sitorus di Lapas.

"Peti mati penuh kenangan" waktu oppung itu kasih pesan sama bapak waktu kami dilapas dulu. Saya yg duluan nangis, pikir2 dengar peti mati serasa meyeramkan dan langsung lihat oppung itu juga dulu sudah mulai sesak2 nafas," ucapnya.

Melihat Iin menangis, DL Sitorus sempat kebingungan bercampur sedih. Namun kemudian DL dengan tegar mengatakan bahwa peti mati itu merupakan adat istiadat yang harus dijalankan.

"Dengan kebingungan bercampur sedih beliau langsung berkata "adat doi inang, di Toba disebut parmual-mualon" itulah kata2 oppung itu seolah menjawab semua pertanyaan kami dalam hati. tapi dalam hati sudah sesak juga orang masih hidup tapi dipersiapkan peti matinya suami istri lagi," tulis akun Iin Herdita Veronica Sirait. (sopobatak/int)

  BeritaTerkait
  • Pemko Pematangsiantar Jemput Adipura ke Siak Riau

    tahun lalu

    Berselang tiga tahun, setelah tahun 2013, Kota Pematangsiantar kembali meraih Anugerah Adipura dan Adiwiyata tahun 2016. Penjabat Walikota, Drs Jumsadi Damanik, SH M.Hum akan menerima secara langsung dari Presiden Joko Widodo di Kabupaten Siak, Provinsi R

  • Presiden Jokowi Ajak Anak Muda Hasilkan Terobosan Aplikasi Digital

    12 bulan lalu

    Jakarta (Pelita Batak): Presiden Jokowi mengemukakan, berkat perkembangan teknologi digital kita sekarang hidup di dunia yang terasa tanpa sekat dan tanpa batasan fisik. Banyak negara-negara yang w

  • Tim Advokasi Pers Sumut Ragukan Hasil Investigasi TNI AU

    11 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak) :Tim Advokasi Pers Sumut meragukan hasil investigasi yang dilakukan tim investigasi TNI AU terhadap kasus Sari Rejo. Dimana banyak ditemukannya kejanggalan dan tidak sesuai dengan kenyataan.

  • Kejatisu Sosialisasi Tim Pengawal, Pengamanan, Pemerintahan dan Pembangunan di Humbahas

    11 bulan lalu

    Doloksanggul(Pelita Batak): Tugas dan fungsi TP4 (Tim Pengawal, Pengamanan, Pemerintahan dan Pembangunan) Kejaksaan RI Pusat dan Daerah yaitu mengawal, mengamankan dan mendukung keberhasilan jalann

  • Medan Bisa Tiru Konsep Yogya Kawasan Kumuh Disulap Jadi Rusunawa

    11 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak) : Konsep Pemerintah Kota Yogyakarta nampaknya perlu ditiru oleh Pemerintah Kota Medan dalam hal mengubah kawasan kumuh di Daerah Aliran Sungai (DAS) atau yang disebut code menjadi rumah susun warga.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 Pelita Batak Online