• Home
  • News
  • Jangan Paksakan Pengajuan Dossier Geopark Kaldera Toba ke UNESCO
KSP Makmur Mandiri
Senin, 28 November 2016 16:54:00

Kesimpulan Kelompok Pakar Geopark Kaldera Toba

Jangan Paksakan Pengajuan Dossier Geopark Kaldera Toba ke UNESCO

BAGIKAN:
TAp|PelitaBatak
Para Kelompok Pakar, Sahat Simatupang, Yusran Syafri, Prof Dr Zulkifli Lubis, Rosdiana Simarmata, dan Dr RE Nainggolan,MM

Medan (Pelita Batak) :
Setelah gagal menjadi anggota Global Geopark Network (GGN) UNESCO tahun lalu, Badan Pelaksana Geopark Kaldera Toba (BP GKT) diminta tidak buru-buru memaksakan pengajuan kembali, dan lebih baik memastikan persiapan maksimal, sehingga tidak kembali mengalami kegagalan untuk kedua kalinya.

"Sejujurnya, kita belum melihat ada perubahan signifikan dari kondisi sebelumnya di mana kita mengalami kegagalan. Artinya, jika pengajuan dilakukan kembali dalam waktu dekat, kita khawatir akan bernasib sama, dan itu tentu akan semakin mengecewakan kita semua,” ujar Dr RE Nainggolan, saat menutup rapat kelompok pakar, Senin (28/11/2016) di Sekretariat RE Foundation, Medan. Selain RE, rapat tersebut juga dihadiri Prof Dr Zulkifli Lubis, Rosdiana Simarmata, Yusran Syafri, dan Sahat Simatupang.

Kelompok Pakar merasa perlu menyampaikan hal tersebut menyusul adanya sinyalemen Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menginginkan pengajuan kembali dossier ke UNESCO. “Untuk itu, kita mengadakan pertemuan dan sepakat untuk menyampaikan beberapa butir rekomendasi kepada BP GKT,” katanya.

BP GKT diminta mendorong pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan dan pembenahan di berbagai sektor yang berkaitan dengan ‘supervulcano’ geopark. Selain itu, pengajuan dossier ke Unesco di tahun 2016 agar benar-benar dilakukan dengan persiapan yang lebih matang. Karena pengajuan yang tidak diikuti kesiapan di lapangan akan menjadi kegagalan kedua kalinya dan akan menyulitkan pengajuan berikutnya.

 “Sebenarnya, UNESCO memberikan tenggang waktu selama dua tahun setelah pengajuan yang belum berhasil di tahun 2015, sehingga masih ada waktu satu tahun untuk membenahi kekurangan di lapangan. Tidak apa-apa terlambat, tetapi berhasil daripada buru-buru hanya untuk gagal,” ujarnya.

Selain itu, BP GKT juga diminta menyampaikan kondisi apa adanya di lapangan kepada pemerintah, sehingga ditemukan solusi termasuk ketersediaan anggaran dan regulasi bila dibutuhkan.

Pada bagian lain, RE mengingatkan Tim UNESCO bekerja dengan standar internasional, dengan ketelitian dan objektivitas tinggi. “Jadi, jangan berharap akan ada maaf, pengertian, saling memamahi dan segala macam seperti kultur kita di sini. Mereka itu profesional, jadi kita harus siap,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Zulkifli Lubis. “Kita jangan pernah berpikir akan bisa mengelabui tim UNESCO. Berbahaya. Jika sampai misalnya mereka menulis report yang tidak baik, makin habis peluang kita. Lebih baik matangkan persiapan. Bahkan matang 80% pun jangan. Bila perlu, 120%, karena standar kematangan kita dengan UNESCO mungkin berbeda. Jadi ada spare 20%,” katanya.

Pertemuan tersebut juga menekankan perlunya BP GKT memberikan informasi perkembangan tentang kegiatan yang sudah dilakukan, dan seberapa jauh poin-poin perbaikan yang diminta oleh tim UNESCO, yang telah bisa dipenuhi.

Tim UNESCO misalnya meminta adanya program pendidikan terpadu untuk masing-masing geo-area, dan program pendidikan yang memadukan 4 pendidikan regional di bawah tema ‘supervulcano’ geopark.

Program pendidikan ini harus diimplementasikan, tidak hanya berupa laporan. Harus ada informasi–informasi dan display pada Pusat Informasi Geopark yang baru. Tema ‘supervulcano’ geopark harus diintegrasikan dengan materi-materi  pendidikan. Situs mana yang menjadi geosite penting harus diidentifikasi untuk menjelaskan cerita ‘supervulcano’.

Panel edukasi pada geosite-geosite saat ini harus lebih difokuskan pada informasi tematik. Panel edukasi harus ditulis dengan tingkat pemahaman dua macam pengunjung yaitu masyarakat lokal dan turis mancanegara. Saat ini, panel informasi ditulis dengan bahasa yang ditujukan untuk audien dengan tingkat pemahaman geologi tinggi. Panel informasi harus ditulis dengan bahasa yang dapat dipahami oleh pengunjung.(TAp/TN)

  BeritaTerkait
  • Pemprov Sumut Dinilai Tak Punya Komitmen Soal Nasib Kaldera Toba

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Pemprov Sumut termasuk Gubsu HT Erry Nuradi dinilai tidak memiliki komitmen yang jelas soal nasib Geopark Kaldera Toba, terkait pengajuan kembali menjadi anggota Taman Bumi (Global Geopark Network) GGN UNESCO.

  • RE Nainggolan: Harus Satukan Sikap dan Tekad Agar UNESCO Akui Ulos

    2 tahun lalu

    Tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM mengajak seluruh elemen masyarakat menyatukan sikap dan tekad untuk mengajukan ulos sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Rencana dan pekerjaan yang mulia, jika masih ada orang maupun kelompok yang mau memperjuangkan

  • Jika Ingin Go UNESCO, Ulos Harus Menjadi 'Ulos Indonesia'

    2 tahun lalu

    Pengajuan ulos sebagai warisan budaya tak benda menjadi warisan budaya internasional atau dunia harus pertama sekali ulos menjadi milik Indonesia. Tidak lagi disebut sebagai ulos batak atau yang lainnya, melainkan menjadi 'ulos Indonesia'.

  • Geopark Kaldera Toba Kembali Diajukan ke Unesco

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Ketua Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (BP GKT), Alimin Ginting mengatakan geopark kaldera toba harus terus berbenah sekaitan dengan rencana pengajuan kembali sebagai Global Geopark Network ke Unesco.

  • Franse Sihombing : Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba Harus Serius

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Badan Pengelolaan Geopark Kaldera Toba diminta untuk serius dalam melakukan perbaikan kawasan Geopark Kaldera Toba sebagaimana disampaikan tim Unesco saat dossier yang diaj

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet