KSP Makmur Mandiri
Selasa, 06 November 2018 08:43:00

Sumbangsih Yusril untuk Pemilu yang Benar dan Fair

BAGIKAN:
Ist
Yusril Ihza Mahendra
Oleh: Bachtiar Sitanggang

Di era Orde Baru, saya sering diundang meliput kegiatan kampanye pengusaha nasional H. Probosutedjo (almarhum) di wilayah Sumatera Utara terutama di kawasan perkebunan seperti Sumalungun, Deliserdang dan sekitar kota Medan, dimana ia jadi calon anggota DPR RI dari Golongan Karya.

Karena adik Presiden Soeharto itu calon anggota DPR Golkar pasti dibanjiri peserta kampanye dan saat itu hampir semua mengaku Golkar kalau tidak, dianggap mbalelo, tidak heran kalau Golkar meraih suara sampai 70 %, dan yang 30 % dibagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI-belum ada PDI-P).

Dalam setiap kampanye Probosutedjo sering menyelipkan kata-kata, "si tunjang na gedap, si togu na hundul", pepatah Batak, di tempat kampenye tersebut pasti banyak orang Batak, walaupun tidak semuanya mengerti  arti, maksud dan tujuan dari kata "si tunjang na gedap (seharusnya na gadap- yang rebah), si togu nahundul".

Kebiasaan itu memang sering dikenal di masyarakat Batak Toba, yaitu  "menendang yang jatuh/rebah, menuntun yang duduk", ungkapan itu dikemukakan (kira-kira) menjelaskan, mengapa memilih yang sudah tahu akan kalah, daripada suara kita terbuang lebih baiklah mendukung yang sudah dapat diperkirakan menang. Kira-kira demikianlah pemahaman saya atas ungkapan Probo tersebut, dan kalaupun kita bilang "kurang kena" perumpamaan itu digunakan karena yang rebah  ditendang, orang yang mengaku "orang" Siantar itu hanya tertawa saja.

Kita menyinggung ungkapan tersebut sehubungan dengan pernyataan Prof. Dr.  Yusril Ihza Mahendra SH yang  resmi menjadi kuasa hukum pasangan Calon Presiden/Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Tahun 2019, Ir. Joko Widodo- Prof. Dr. KH Ma'ruf Amin. Keputusan Yusril,  gurubesar FH Universitas Indonesia tokoh serba bisa itu mengejutkan termasuk kalangan Partai Bulan Bintang (PBB) di mana ia sebagai Ketua Umum.

Profesor hukum tata negara yang pernah Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia itu, selain birokrat dan poliitisi juga seorang ulama, dia juga sering bersuara vokal mengoreksi penegakan hukum dan penerapan peraturan perundang-undangan. 

Banyak mengagumi  keputusan Prof. Yusril tersebut sebagai advokat profesional, yang tentunya tidak memilih dan memilah perkara yang mau ditangani ataupun orang yang akan dibela berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan termasuk politik. Secara politik tidak begitu jelas dan konkrit keberpihakan Yusril apakah ke Paslon No. 01 atau Paslon No. 02 yang sering diketahui umum bahwa gurubesar yang satu ini vokal mengeritik penegakan hukum, tidak mempersoalkan  kebijakan pemerintah apalagi menyerang pribadi seperti tokoh-tokoh lain.

Diakui Yusril, bahwa Erick Tohir Ketua Tim Kampanye Nasional Jokwi-Ma'ruf Amin memintanya dan menyetujui menjadi lawyer Paslon No. Urut 01 tersebut, sebenarnya adalah hal biasa sebagai seorang lawyer, tetapi dalam politik akan menjadi bahan "gorengan" apalagi bagi mereka yang merasa tidak nyaman dengan keputusan itu. 
 
Dari segi politik, ungkapan Probosutedjo di atas menarik dikaitkan dengan keputusan Yusril tersebut, apalagi dikaitkan dengan kondisi perpolitikan kita belakangan ini di mana ujaran kebencian, hujatan, fitnah dan hoax seolah sudah menjadi bagian makanan kita. Dan Yusril bertekad untuk melawan itu dengan mengemukakan fakta-fakta. Sebagai lawyer  profesionaladalah suatu keharusan membela yang benar, tidak ada yang dilanggar.

Kalaupun Yusril tahun 2014 sebagai kuasa hukum Prabowo Subianto-Hatta Radjasa menggugat di Mahkamah Konstitusi, tidak ada persoalan, sebab masalahnya sudah selesai dan yang sekarang adalah masalah pemilu 2019 nanti. Caleg aja dari Pemilu ke Pemilu gonta-ganti partai  seperti kutu loncat atau lompat pagar tidak masalah lagi.

Itulah perkembangan politik nasional kita saat ini, keputusan Yusril tersebut mungkin lebih seru dibanding pengumuman Yenny Wahid tentang Keputusan Keluarga Gus Dur dan Gus Durian yang mendukung paslon no. Urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin.

Yusril sebagai negarawan tentu  punya perhitungan baik dan benar menjadi penasihat hukum Jokowi-Ma'ruf Amin untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD tahun 1945, sehingga dia berkeinginan memberi sumbangsih nyata untuk pemilu yang benar-benar fair. ***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.    
  BeritaTerkait
  • Sutrisno Pangaribuan Prihatin : 'Para Pemuja Kekerasan, Berhentilah!'

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Belum lama berselang kita menyaksikan aksi alat negara melakukan kekerasan terhadap wartawan di sekitar Lanud Soewondo, kita kembali disuguhi berita kekerasan yang dilakuka

  • Patricia Siahaan: You Are A True Leader Djoss, Dont Ever Doubt That!

    5 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Debat publik ketiga telah digelar di Hotel Santika Premiere Dyandra Medan, Selasa (19/6/2018) malam. Menandakan rangkaian debat publik yang memaparkan visi misi Paslon Cagub-Cawag

  • Frustrasi Politik: Gerakan Ganti Presiden 2019!

    4 bulan lalu

    Pelitabatak.com - Sebagai orang yang pernah aktif di gerakan mahasiswa, saya selalu berpandangan positif terhadap setiap gerakan rakyat, termasuk di dalamnya gerakan protes, dan aksi massa. Tentu deng

  • Spontanitas Bunga dan Lillin Penuh Makna Untuk Ahok

    2 tahun lalu

    Berawal  dengan karangan bunga yang penuh dengan cinta dan kasih, kemudian muncul gerakan seribu lilin untuk Ahok sebagai ungkapan yang penuh dengan cinta dan kasih atas apa yang dialami oleh

  • Mungkinkah Menistakan Agama?

    2 tahun lalu

    Demonstrasi dalam rangka membela Tuhan makin banyak. Hal ini membuat saya bertanya, "Mungkinkah membela agama?". Pertanyaan selanjutnya, "Sebegitu lemahkah Tuhan dan Agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?"

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb