KSP Makmur Mandiri
Rabu, 01 Mei 2019 13:49:00

Si Jago Mundur

BAGIKAN:
Ist
Ilustrasi
Oleh Bachtiar Sitanggang

Lagu anak-anak top di tahun 1992 berjudul "Si Jago Mogok" yang dilantunkan penyanyi cilik Puput Melati, di pagi hari ada saja keluarga yang memperdengarkan lagu tersebut dengan keras melalui kaset. Atau gadis-gadis cilik sedang bermain sering melantunkannya.

Lagu tersebut terkenang kembali membaca berita adanya kata-kata mundur, akan mundur bila tidak mampu atau kalau tidak didukung, sebagaimana dikemukakan tiga orang Kepala Daerah di Sumatera Utara (Sumut), yaitu Bupati Mandailing Natal (Madina) Dahlan Hasan Nasution yang mengajukan pengunduran diri dari jabatannya karena perolehan suara Calon Presiden petahana kecil.
Kedua dilontarkan Bupati Tapanuli Utara (Taput) Nikson Nababan siap mundur jika Taput tidak sejahtera, dan untuk kesejahteraanitu katanya Pemerintah harus mendukung dengan pembuatan jalan tol Danau Toba-Sibolda dan adanya universitas negeri di daerahnya.

Yang paling seru ancaman mundur dari jabatannya oleh Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, dia akan mundur dalam waktu empat bulan lagi jika masyarakat Sumut tidak mau dipimpin olehnya lagi. Dia kecewa katanya karena pada saat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) yang seharusnya dihadiri pimpinan daerah dan lembaga ternyata diwakilkan, mungkin para wakil itu tidak representatif sehingga Edy kecewa, sempat ditawarkan untuk diulang Musrenbang tersebut.

Menyimak tokoh-tokoh "Si Jago Mundur" ini dimulai dari Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution, mengajukan permohonan tertulis untuk mengundurkan diri,  alasannya sebagai orang berpendirian, dia merasa (mungkin) petahana sebagai Calon Presiden telah berbuat banyak di daerahnya, ternyata rakyatnya tidak "menghargai" kinerja itu, membuat dia kecewa. Alasan itu sah-sah saja, namanya politik, "si ingot gotil-gotil do adong" (yang ingat cubit-an yang ada) maknanya kira-kira, yang ingat kebaikan tidak ada melainkan yang diingat adalah yang tidak baik.

Pengunduran diri itu katanya salah prosedur, dan Dahlan harus tetap bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Lain dengan Nikson Nababan, yang "ditembak" bukan rakyatnya, melainkan Pemerintah Pusat agar jalan tol Medan-Danau Toba dilanjutkan ke Sibolga. Memang kalau hanya di pinggiran Danau Toba, Tarutung dengan Taput-nya akan terpinggirkan, baik dari bandara Silangit maupun tol ke Danau Toba. Satu-satunya cara mempercepat pembangunan sampai Tarutung dan pantai barat Sumut satu-satunya dengan jalan tol sampai Sibolga dan adanya Universitas negeri di Taput.
Memang sampai saat ini hanya Karesidenan Tapanulilah yang tidak memiliki universitas negeri walau sudah 74 tahun merdeka.

Akan tetapi dalam pemberitaan, Nikson hanya mengharapkan perputaran uang dari calon mahasiswa pendatang yang nanti menimba ilmu dari daerah lain. Sang Bupati lupa, bahwa sejak jaman duilu sampai sekarang harta orang-orang Batak habis untuk menyekolahkan putra-puterinya ke luar daerah. Sudah  berapa triliun rupian uang keluar dari Tapanuli menyekolahkan putra-putrinya ke luar daerah sejak duilu sampai sekarang? 
Hal tersebut mungkin tidak ada dalam memori sang Bupati, pada hal salah satu "penyebab" Tapanuli Peta Kemiskinan di Sumatera Utara yang bergaung di tahun 1983 termasukbiaya pendidikan yang dikeluarkan para orang tua yang sampai menjual "tano mahiang dohot tano maraek" menyekolahkan anak-anaknya terkait dengan prinsip "anakkon hu ido hamoraon di au".

Masalah "si Jago Mundur" ketiga adalah dari sang Jenderal Edy Rahmayadi, Gubernur Sumut, yang mengancam akan mundur 4 bulan lagi kalau masyarakat Sumut tidak mau dipimpinnya lagi. Hal itu diungkapkan saat peresmian kantor PWI Sumut Minggu, 28 April lalu.

Sebagai seorang yang sudah bertekad lahir bathin untuk mengabdi dan melayani masyarakat memang "sakit" kalau tidak disambut positif. "Hansit mulak mangido, hansitan mulak mangalean", artinya sakit kalau ditolak di kala kita meminta, tetapi jauh lebih sakit kalau pemberian kita ditolak". Edy Rahmayadi mengikhlaskan dirinya untuk memimpin tetapi tidak dihargai, memang beralasan "ancaman" itu.

Kita yakin, kata-kata mundur dari ketiga Pemimpin di atas, menjadi alat pemacu dan pemiculah bagi semua pihak, perlunya koreksi, penyesuaian diri, pemimpin tidak mudah. Tetapi mungkin dengan kerendahan hati serta sikap bersahabat dengan rakyat maka dengan saling asih, asah, asuh akan dapat saling pengertian. Semoga para pemimpin tidak keseringan bawa perasaan (baper).***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.       
  BeritaTerkait
  • Tak Terima Penertiban, Preman Hantam Kepala Satpol PP Dengan Batu

    3 tahun lalu

    Dari penyisiran yang dilakukan, seorang pria sempat diamankan karena dicurigai sebagai pelakuknya. Namun pria itu akhirnya dilepas kembali karena tak terbukti melakukannya. Meski tak berhasil menemukan preman tersebut, Sofyan memastikan sang pelaku segera

  • Bank Sumut Diminta Berikan Bunga Nol Persen Bagi Pedagang Pasar Tarutung yang Terbakar

    2 tahun lalu

    Tarutung (Pelita Batak) :Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi meminta para pedagang yang kiosnya terbakar di Pasar Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara untuk tetap tenang dan sabar sembari

  • Ini Tujuh Nilai Budaya Batak Toba sebagai Kearifan Lokal Menurut Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):   Setiap keluarga sebagai anggota masyarakat kiranya perlu menggali dan menghidup nilai-nilai dalam budaya dalam kaitannya dengan sikap hidup dan etika bisnis Bat

  • Jargon Minoritas-Mayoritas Keagamaan Belum Hilang

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Masa Bakti 2015 – 2020, Baktinendra Prawiro,MSc,MH mengatakan persoalan politik di I

  • BMW Indonesia hadirkan generasi ketujuh BMW Seri 5 rakitan lokal

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) :Sedan bisnis paling sukses di dunia hadir secara perdana di Indonesia. BMW Indonesia secara resmi luncurkan generasi ketujuh BMW Seri 5 yang hadir dengan dua varian, yaitu All-

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb