KSP Makmur Mandiri
Rabu, 12 Desember 2018 06:21:00

Pertobatan Tanpa Pamrih

Oleh: Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
IST|pelitabatak
Ilustrasi
PERISTIWA politik yang sungguh menarik di tahun politik saat ini adalah perilaku seorang tokoh nasional yang menyatakan dirinya bertobat dan menyesali perbuatannya yang tidak baik langsung mengaku salah kepada orang yang dia sakiti dan serang.

Dia itu adalah La Nyalla Mattalitti, mantan Ketua Umum PSSI, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Ketua Pemuda Pancasila Jawa Timur, dengan terang-terangan mengakui kesalahannya yang menyebarkan isu bahwa Presiden Joko Widodo adalah PKI dan aktivis PKI, keturunan China dan beragama Kristen di tahun 2014 lalu di kala Jokowi sebagai Capres berpasangan dengan Jusuf Kalla.
La Nyalla Mattalitti katanya sudah meminta maaf kepada Jokowi dan menyatakan kini telah bertobat. "Waktu itu wajar saya bilang gitu karena oposisi, oposisi kan apa aja dihajar lawannya. Karena sekarang saya bukan oposisi, saya harus tobat," ungkapnya di kediaman Ma'ruf Amin, Jl Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (11/12/2018).

Pertobatan dan penyesalannya mengembuskan berbagai isu negatif lainnya tentang Jokowi saat Pilpres 2014. Ia juga mengaku menjadi salah satu pihak yang ikut menyebarkan Obor Rakyat, media propaganda yang merugikan Jokowi.

"Saya datang ke beliau, saya minta maaf. Bahwa saya yang isukan Pak Jokowi PKI. Saya yang fitnah Pak Jokowi Kristen, China. Saya yang sebarkan Obor di Jawa Timur, Madura. Akhirnya saya datang ke beliau dan sampaikan, saya mau minta maaf tiga kali. Alhamdulillah dimaafkan, ya sudah. Kalau sudah berani seperti itu, berarti, yang saya tahu tidak betul Pak Jokowi anti-Islam,"

Tak hanya meminta maaf tetapi  juga turut membantu capres nomor urut 01 itu membersihkan namanya dari isu anak PKI, kata La Nyalla.

Sekarang Jokowi petahana dan mencalonkan diri lagi dan berhadapan dengan rivalnya di tahun 2014 yaitu Prabowo Subianto. Pada Pilpres 2014 La Nyalla Mattalitti sebagai opposisi pendukung Prabowo, yang menurut La Nyalla apa saja dilakukan untuk menghancurkan lawannya sebagai opposisi seolah dihalalkan menggunakan cara apapun, ternyata tidak demikian, Yang benar itu adalah benar dan kebohongan itu pasti terungkap terbukti dari pengakuan La Nyalla sendiri.

Barangkali  apa yang dilakukan La Nyalla Mattalitti dengan pertobatan dan penyesalannya itu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, terutama politisi dan elit partai serta para pendukung pasangan calon Presiden/Wakil Presiden, supaya tidak menghalalkan segala cara melainkan mari mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, sebab lebih dari itu berasal dari si jahat. 

Itulah yang mungkin mengiang dalam hati La Nyalla sehingga dia menyatakan penyesalah dan mengaku salah langsung kepada Jokowi. Kita berharap pengakuan salah serta pertobatan itu tanpa pamrih, artinya bukan karena didorong kebencian kepada pihak lain serta tidak mengharapkan balas budi dan imbal jasa.
Kita tidak perlu selidik, bagaimana seandainya Jokowi tidak terpilih tahun 2014 atau seandainya tidak ada "masalah" antara  La Nyalla dengan Prabowo, yang nyata sekarang bahwa La Nyalla mengungkapkan penyesalannya berbuat yang tidak baik dan benar, dan mudah-mudahan pengakuan itu ikhlas.

Sebab kadangkala para politisi sering bertindak tergantung "enaknya lauk-pauk" atau yang dilihat kanan pada hal yang diintip kiri. Kita aminkan saja apa pengakuan yang bersangkutan bagaimana "asli"-nya, lihat nantilah.

Itulah gambaran politik di negara kita, menyaksikan perilaku politik belakangan ini ada baiknya kita bercermin apakah politisi kita telah berpolitik yang baik dan benar? Apakah kita bisa berpolitik yang santun, bersih, cerdas dan beretika? Apakah tidak bisa mengemukakan program Kesinambungan dari yang sudah ada dengan peningkatan yang sudah berlangsung serta mengoreksi yang salah dan keliru serta melakukan pembaruan dari yang sudah ada? Sehingga tidak usah menghujat, menjelek-jelekkan menyebar berita bohong? 

Kita berharap di tahun politik ini banyak orang seperti La Nyalla Mattalitti dan tidak harus menunggu lima tahun baru "bertobat" dan "menyesal" atas perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, sekarang saja memulai berpolitik santun, bersih dan beretika. ***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat  berdomisili di Jakarta.
  BeritaTerkait
  • Puncak Perayaan Tahun Kelurga HKBP Selayang Resort Langkat Hulu Meriah

    3 tahun lalu

    Langkat  (Pelita Batak): Perayaan Puncak  Tahun Keluarga  HKBP Se-Resort Langkat  Hulu digelar halaman Gereja HKBP Selayang Resort Langkat Hulu Jalan  Pendidikan  No 3

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    2 tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Pahitnya Kehidupan Antarkan DL Sitorus 'Rebut' Kesempatan Hidup

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Ternyata kisah hidup yang pahit semasa kecil yang menempah DL Sitorus atau pemilik nama lengkap Darianus Lungguk memaksanya untuk merebut kehidupan yang sukses itu baginya. Bukan

  • Ephorus HKBP Layani Partangiangan Bona Taon dan Launching Pelayanan 2018 HKBP Distrik XIX Bekasi

    12 bulan lalu

    Oleh:Penulis, Pdt. Alter Pernando SiahaanOmpu i Ephorus: saya memberikan perhatian khusus kepada perpustkaan dan klinik ini, karena saya sangat bangga atas pelayanan gereja ini, tentu ini menjadi cont

  • Khotbah Natal Pemprovsu, 19 Desember 2018 di Hotel Danau Toba, Medan, pkl 17.00: "Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita" (1 Korintus 1:30)

    4 minggu lalu

    Oleh: Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPHP/WA: 0812-62472015Sub Tema: "Dengan Perayaan Natal Pemprovsu Berhikmat Melayani Masyarakat Menuju Sumut Lebih Bermartabat."PengantarSaudara

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb