KSP Makmur Mandiri
Jumat, 29 Maret 2019 14:15:00

Pemimpin dan Gembala

BAGIKAN:
Ist
Gembala ilustrasi
Oleh: Bachtiar Sitanggang

Sabtu pekan lalu, saya bersama beberapa keluarga  hadir sebagai hula-hula  ni marhaha-maranggi dari parboru (pihak pengantin perempuan)  di pesta adat pernikahan di salah satu gedung di Jakarta Timur. 

Biasanya hula-hula ni  marhaha-maranggi (bersaudara) hanya memiliki sedikit "peran" dalam pesta adat,  yaitu saat memasuki gedung, duduk, makan lalu  mangulosi sebagai grup kedua setelah keluarga besar marga pengantin perempuan, menyusul hula-hula ni anak manjae,  sehingga waktu menunggu di pesta  agak membosankan.

Masih bagus kalau bisa "ngantuk" mengingat ingar-bingar  bunyi musik dan penyanyi yang tampil  di pesta itu. 

Satu-satunya alat untuk "membunuh waktu" adalah main smartphone (telepon cerdas).  Begitulah yang dirasakan dan dilakukan oleh seorang kemenakan saya, yang usia kami tidak jauh berbeda. Ia pun sibuk "memainkan" telepon cerdasnya,  di antaranya,  mengamati gambar  yang dikirim seseorang kepadanya melalui media sosial WhatsApp (WA). Gambar itu adalah foto seorang tokoh berpakaian stelan jas, di sebelahnya seorang pengusaha yang mengenakan ulos warna kemerah-merahan kemudian dua  ibu, satu dengan baju terusan warna kream dan satu lagi kembang kehitam-hitaman. Teks gambar itu menyebutkan: "Pendeta Darwin Lumban Tobing (kiri) foto bersama usai mengulosi pengusaha Indra Cahya Uno (ketiga dari kanan), Sabtu (3/11/2018)".

Foto dan beritanya dimuat 4 November 2018 oleh SuaraKarya.id,  yang menjelaskan adanya acara malam puji-pujian bernuansa tradisi komunitas Tano Batak yang diselenggarakan HKBP Grand Wisata Distrik XIX Bekasi yang dihadiri Praeses Pdt Banner Siburian dan Pdt Benni Sihombing,   anggota DPR dari PDIP Sukur Nababan,  serta sejumlah artis ternama.

Tema gawe-an itu: Dan Rumah Yang Hendak Kudirikan Harus Besar, Sebab Allah Kami Lebih Besar dari Segala Allah. Tidak begitu jelas apakah acara itu dalam rangka pengumpulan dana, sebagaimana sering dilakukan gereja HKBP,  dengan mengundang calon Wapres Sandiaga Salahuddin Uno, yang karena kesibukannya diwakili oleh abangnya Indra Cahyo Uno dan menerima ulos. Dalam berita itu  tidak disebutkan apakah Indra Cahyo menyumbang atau tidak.

Yang  menjadi persoalan  bagi kemenakan saya ini mengapa Ephorus  mangulosi abang dari Sandiaga Uno?  Sebagai jemaat HKBP yang cinta akan pemimpin gerejanya, mungkin dia merasa kesal. Pertanyaan saya, apa ada larangan mangulosi? Jawabnya, "memang tidak ada,  tetapi waktunya tidak tepat. Apa kata jemaat melihat ini?"  Kami pun berdebat agak lama,  mempersoalkan antara perasaan dengan akal sehat, yang tidak ketemu atau nyambung.

Dia tidak puas, dengan setengah marah,  walaupun saya lebih tua dan dalam tatanan keluarga sebagai amangudanya, dia mengatakan tidak menerima "omongan sok tahu" saya.  Lalu saya bilang,  "Kenapa kamu marah sama saya".

Lalu dia menunjukkan foto lain  di telepon cerdasnya, yang menunjukkan empat  ibu, tiga ibu muda mengapit seorang ibu yang lebih tua dan duduk di kursi dengan mengacungkan "jempol dan telunjuk" Kemenakan saya ini nyeletuk lagi, "Bagaimana yang ini?" Suaranya keras, sehingga beberapa orang memperhatikan kami.  Saya jadi malu. "Sude do belaonmu," katanya. Artinya,  "semua kamu bela."
 
Ternyata gambar pertama, dimuat  4 November 2018, dan menjadi pertanyaan mengapa baru  muncul pertengahan Maret 2019? Gambar keempat ibu yang mengacungkan jempol dan telunjuk itu pun tidak jelas kapan dibuat dan dalam kaitan apa (mudah-mudahan tidak dalam rangka kampanye).

Apa artinya ini? Kejadian itu harus disikapi secara bijak dan jemaat HKBP sadar atas fungsi, tugas dan tanggung jawabnya sebagai warga negara,   terutama sebagai umatNya.

Belakangan gambar-gambar tersebut menjadi bahan analisis mereka yang  pro-kontra. Dalam hal ini ada empat kelompok,  pertama yang membela, kedua memprotes, ketiga bersikap jalan tengah, dan keempat cuek atau tidak peduli. Saya sendiri tidak tahu berada di pihak yang mana.
Tetapi, kejadian ini menjadi pelajaran penting,  dan dari ke-empat sikap di atas dapat dipetik beberapa hal yaitu,  pengumpulan dana untuk gereja sebaiknya selektif,  jangan terpaut  pada duitnya. Dalam pemberian ulos seyogianya sesuai adat Batak, yaitu dari hula-hula ke boru. Kegiatan gerejawi  seyogianya menggunakan simbol ke-Kristen-an yaitu Alkitab dan Salib.

Maaf, semua tahu: "guru kencing berdiri murid kencing berlari", apa pun yang dilakukan pemimpin akan menjadi perhatian dari yang dipimpin.  Seyogianya para pemimpin  perlu sadar akan keberadaannya agar  tidak membingungkan yang dipimpin, apalagi pemimpin itu juga adalah gembala. Gembala mengorbankan jiwa-raganya untuk menyelamatkan yang digembalakan, bukan sebaliknya.
Tentang gambar keempat ibu yang disinggung di atas, masuk juga ke "WA Sen Oikumene UI group" komentar seorang anggota, "kupikir nggk sampai ke WAG kita photo itu..Yang duduk itu istri..", namanya  disebut  dan yang tiga lagi adalah pendeta dan dua istri pendeta di kantor Distrik Medan.  "Postingan itu oleh Pdt...., tapi karena respons jemaat sdh di hapus". 

Perlu diingat, "satu gambar  bisa bermakna seribu kata", untuk itu  para pemimpin sekaligus gembala seyogianya memelihara kepemimpinan dan kepeng-gembala-annya. Bagi yang pernah melihat gambar-gambar dan berita tersebut kita maknai saja  sebaik mungkin untuk kemuliaan Tuhan.(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)
  BeritaTerkait
  • Ini Pendapat Ephorus Emeritus HKBP Pdt JR Hutauruk tentang Pdt Robinson Butarbutar

    3 tahun lalu

    Sipoholon (Pelita Batak) :<br></br> Emeritus Ephorus HKBP (Periode 1998-2004) Pdt Dr JR Hutauruk meminta kepada seluruh warga jemaat dan para calon untuk tetap menjaga semangat kedamaian serta persatuan HKBP dalam melaksanakan Sinode Godang d

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    2 tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Gereja Perlu Bentuk Lembaga Jaminan Pembiayaan untuk Bisnis UKM Rakyat

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Kalangan gereja atau lembaga-lembaga dan komunitas Nasrani di negeri ini sudah saatnya membentuk semacam lembaga jasa pembiayaan (multi finance) untuk mendorong perwujudan

  • Sihar Khidmat Ikuti KKR Paskah GKII

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara (Sumut) Sihar Sitorus hadiri Kebangkitan Kebangunan Rohani (KKR) Paskah Gereja Kemenangan Iman Indonesia (GKII) yang diikuti puluhan

  • Konsultasi Nasional, HKBP Berupaya Memahami Diri Sendiri

    11 bulan lalu

    HARI ini, Selasa 11 Juli 2018, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) melakukan Konsultasi Nasional bertempat di Gedung Marpikkir, Jakarta Timur dan esok dilanjutkan di Hotel Cempaka Putih Jakarta Pusat

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb