KSP Makmur Mandiri
Rabu, 24 Juli 2019 13:04:00

Membedakan yang Baik dan Benar

BAGIKAN:
Ist
Ilustrasi
Oleh Bachtiar Sitanggang

SAYA pernah kesulitan menjawab pertanyaan anak saya ketika dia masih SD, puluhan tahun lalu di era Orde Baru. Pertanyaan sederhana, tetapi susah menjawabnya, yaitu: "mengapa dikatakan pemilihan Presiden, pada hal calonnya hanya satu?" Terus terang saya sulit menerangkannya walaupun saya tahu, karena menurut saya, keadaan dan kenyataan berbeda dari akal sehat.

Puluhan tahun kemudian, atau sekarang, pertanyaan itu bergejolak lagi di benak saya, dan mungkin bagi banyak orang yang berupaya taat aturan dan hukum, etika dan moral, serta takut akan Tuhan. Artinya, mereka yang masih tetap berupaya untuk berperilaku sesuai fungsi, tugas, dan tanggung jawabnya.

Mengapa saya katakan pertanyaan itu bergejolak kembali, karena sekarang, menurut hemat banyak orang, sudah sulit mencari contoh dan panutan di tengah-tengah masyarakat, bangsa termasuk sebagai warga gereja. Mudah-mudahan salah anggapan yang demikian, tetapi kurang lebih demikianlah.

Banyak orang yang seolah-olah tertulari virus menghalalkan segala cara, merasa diri benar dan lebih suci dari orang lain, dan bahkan lebih berhak, sehingga lupa tugas, fungsi dan tanggung jawab, serta kewajibannya. Setiap kali berlangsung pemilihan, apakah benar jujur, adil, langsung, umum, bebas dan rahasia?

Apakah para pemimpin konsekuen dan konsisten dengan ucapannya? Apakah semua pendeta adalah anak-anak Allah pembawa damai? Disebutkan: "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah".

Hal-hal itu dikemukakan sebagai ungkapan kegundah-gulauan hati melihat situasi sekarang ini. Lihat di DPR pada saat sidang banyak kursi kosong. Kalangan pimpinan partai politik mengurusi kursi, tidak jelas siapa kawan dan di mana lawan. Ada penghujat menjadi sahabat dan segala macam perilaku yang sulit untuk diteladani, apalagi dibedakan mana yang baik dan benar dengan yang tidak baik dan salah.

Ada gereja HKBP tempat beribadah yang seakan-akan jadi arena tinju. Pendeta di gereja itu sudah dianggap bukan pembawa damai, ditolak untuk melayani, seperti yang viral belakangan ini. Sampai jubah pendeta robek ditarik. Di gereja lain polisi sampai mengawal di depan mimbar. Ada ibu-ibu yang berteriak histeris, ibadah pun terhenti.

Ada apa, siapa yang dirasuk setan seperti di Kapernaum pada zaman pelayanan Tuhan Yesus? Yesus pernah diteriaki di rumah ibadah oleh seorang yang dirasuk setan. Orang itu berteriak: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu Engkau: Yang kudus dari Allah". (Lukas 4: 34).

Siapakah yang kerasukan setan ketika keributan terjadi di dua gereja yang viral tersebut? Kok jemaat tega menolak pendeta, dan pendeta yang sudah ditolak masih ngotot? Siapa yang membiarkan iblis sampai merasuk hingga ibadah terhenti? Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian itu, jemaat atau pendeta yang bersangkutan, atasannya atau pimpinan HKBP? Atau kita sudah gamang tidak tahu lagi membedakan yang baik dan benar di tengah-tengah gereja itu?

Di mana para pemimpin dan penanggung jawab-nya? Di mana pendeta resort, praeses, kepala-kepala biro dan Kepala departemen, Sekjen,dan Ephorus? Apakah tidak risih menyaksikan kejadian seperti itu, tidak malu pada diri sendiri, tidak takut terhadap Kristus? Mungkin jawabannya enteng, "karena bukan kau yang urus".

Semua kejadian itu pasti bukan "tsunami" yang muncul tiba-tiba dan seketika. Sesuai keterangan yang viral soal ini telah lama dilaporkan ke Ephorus. Mudah-mudahan Roh Kudus bekerja di hati para penanggung jawab, sehingga tergerak hatinya menyelesaikan setiap gejolak. Jangan terjadi pembiaran yang akan menambah dosa termasuk yang menonton kebringasan, seperti yang viral itu.

Pengalaman, untuk mengatasi gejolak di gereja sebaiknya tidak digunakan akal sehat manusia, tapi takutlah akan Tuhan dan jangan menambah dosa. Selesaikan dengan doa, amarah akan padam dan damai akan tiba. Mudah-mudahan tidak ada lagi di antara kita yang kerasukan setan. *
(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)
  BeritaTerkait
  • Mengenali Perang Strategi Antar Restoran Batak

    2 tahun lalu

    Menggunakan label "suku" seperti BPK, Makan Khas Batak, Makanan Muslim, Restauran Padang dan lainnya dalam ilmu Ekonomi Pemasaran disebut kebijakan segmentasi pasar atau konsumen. Tentu t

  • Menelusuri Liku-liku Jalan di Bonapasogit dan Merajut Semangat Leluhur

    2 tahun lalu

    Pulang ke kampung saya, Sigolang di lereng pebukitan Bukit Barisan di deretan Tapanuli Selatan sangat berkesan. Keberangkatan kali ini, diawali dihari Kamis, tanggal 27 April 2017 dengan bangun san

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    2 tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Respons Permintaan Ephorus HKBP, Walikota Jambi Janji Segera Terbitkan IMB HKBP Aurduri Jambi

    2 tahun lalu

    Penulis: Pdt. Alter Pernando Siahaan, Sekretaris Khusus Ephorus HKBPWalikota Jambi bapak Syarif Fasha, ME mengatakan berjanji secepatnya menerbitkan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) Gereja HKBP Aurduri

  • Jaringan Jokowi Millenial Sumut Deklarasi Menangkan Capres 01

    6 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Seribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Medan menyamakan persepsi untuk mendukung pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden nomor urut 0

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb