KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 26 Januari 2019 09:43:00

Kota Medan Milik Warga

BAGIKAN:
Ist
Papan bunga yang menjadi kontroversi
Oleh: Bachtiar Sitanggang

Kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2018 lalu efektif menggerakkan hati semua pihak dalam memelihara keindahan dan kebersihan kota, lebih maju selangkah dari tahun-tahun sebelumnya.

Kalau Orde Baru dengan program penghargaan Adipura ke kota-kota terbaik, bersih dan tertata diumumkan serta mendapat piala dari Presiden menjadi kebanggaan kota, lalu diarak keliling kota.

Pada pengelolaan kota itu dipaksakanmenjelang datangnya panitia atau tim pemeriksa dan menilai Adipura. Pemerintah kota memaksakan diri membersihkan kota dengan spanduk-spanduk menyambut rumah-rumah dan pagar dicat dan pot-pot bunga bermunculan. 

Sebenarnya, kondiri normal kota bersangkutan sehari-harinya, tidak seperti itu hanya menjelang penilaian Adipura saja gerakan kebersihan itu muncul, waktu itu sebagai suatu gerakan untuk hidup bersih, dimaklumi saja. 

Sekarang KLHK realistis, mengatakan yang bersih itu bersih dan yang kotor itu kotor dan yang jorok itu jorok, dan kota Medan tidak mungkin berkelit. Jorok itu adalah kotor yang menjijikkan, sudah berlangsung lama.

Kota Medan mendapat predikat "Kota Metropolitan Terjorok" dari KLHK, pasti berdasarkan analisa dan para meter, dan masyarakat kota Medan sendiri pasti mahfum atas predikat itu.

Setelah predikat "kota metropolitan terjorok" mencuat banyak komentar di media sosial, lalu tenggelam dan tidak ada "gerakan" Pemkot Medan untuk membenahi dirinya yang disebut jorok itu.

Mungkin itulah yang mendorong kelompok Aliansi Sayang Medan mengirim karangan bunga ke kantor Walikota Medan di Jln. Kpt Maulana Lubis, Medan Petisah Rabu (23/1) lalu  yang bertuliskan "Selamat Sukses Kepada Walikota Medan Atas Penghargaan Kota Terjorok Bagi Kota Medan Tahun 2019. Semoga Bapak Sehat Selalu". 

Karangan bunga tersebut lebih ramai lagi dibanding pengumuman KLHK kota Medan "kota metropolitan terjorok", karena dianggap langsung menohok sang walikota Dzulmi Eldin, orang nomor satu dan penanggungjawab kota. Tapi hebatnya beliau yang satu ini, adem ayem saja sebagai pemiliki kota, mungkin salah satu solusi mengatasi masalah adalah diam. 

Perlu diapressiasi cara Aliansi Sayang Medan yang kreatif dan mendidik dengan mengirim karangan bunga mengajukan aspirasi, tidak heboh dan tidak membuat kegaduhan, tidak mencaci maki menyalahkan pihak tertentu. 

Mudah-mudahan karangan bunga itu juga bagian dari kesadaran bahwa mereka sendiri juga punya andil dalam ke-jorok-an kota Medan, seperti sebagian besar penduduk kota medan, tentunya juga pendatang tidak menjaga keasrian kota secara terus menerus.

Yang ingin kita kemukakan bahwa ke-jorok-an kota Medan bukan hanya tanggungjawab Walikota, tetapi tanggungjawab bersama. Mulai dari rumahtangga, supir angkot, pelayan toko dan restoran, tukang parkir, guru-guru dan pemuka agama dan terutama elit politik.

Seorang teman pernah berceritra, ketika pergi ke Tokyo, Jepang merasa malu, bertemu dengan seorang pemandu wisata yang warga negara Indonesia. Begitu sampai di dalam bis, setelah perkenalan dirinya dan ucapan selamat datang, dia langsung menunjukkan plastik dan membaginya kepada setiap orang dan meletakkannya di tempat dekat pintu. Katanya, dia sering malu melihat orang Jepang, karena orang-orang Indonesia sembarang buang sampah, untuk itu, katanya lagi, tolong kantong plastik ini di bawa juga ke mana-mana, sehingga setiap sampah dimasukkan ke kantong plastiknya dan nanti kalau sudah ada tong sampah masukkan ke dalamnya. Terakhir, katanya lagi, tolong kalau bapak-bapak ibu-ibu kembali ke Indonesia, lakukan juga seperti itu. Jangan kita tertib di negara orang di negara kita sendiri tidak disiplin dan tidak taat aturan. Mungkin perlu direnungkan warga Medan.

Kita berharap, dengan peristiwa karangan bunga itu membuat kita sadar bahwa tidak mungkin orang lain yang membersihkan lingkungan kita, jadi warga Medan jangan berharap warga kota lain mengurusi sampah, demikian juga para pejabat kota, jangan sampai anak-anak murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan  Taman Kanak-kanak (TK) menuntut Pemkot mundur karena tidak mampu dan mau atasi kejorokan kota. "Selamat Sukses Kepada Walikota Medan Atas Penghargaan Kota Terjorok Bagi Kota Medan Tahun 2019. Semoga Bapak Sehat Selalu". ***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.
  BeritaTerkait
  • Pemprov Sumut Diminta Segera Ambil Alih Lahan di Bandung

    3 tahun lalu

    Santer disorot publik Sumut kini adalah adanya tanah seluas 3.000 meter persegi, di jalan Batu Tulis III, Kelurahan Batu Nunggal, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, yang terdaftar sebagai aset pemerintah provinsi Sumut. Terkait tanah ini, Komisi C menda

  • Akhyar Nasution Minta Masyarakat Berpartisipasi Dukung Porwil

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Wakil Wali Kota Medan, Ir Akhyar Nasution MSi mendukung penuh digelarnya Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) III Kota Medan tahun 2017. Selain menjadi ajang pembinaan atlet-atl

  • Keluarga Pasien RSUD Pirngadi Ngadu Sambil Menangis

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Dihari pertama  kerja ditahun 2018, Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi langsung  melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD

  • RE Nainggolan : Tangisan Siliyana Angelita Manurung Tidak Bisa Dibiarkan dan Terulang

    9 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Viralnya informasi di media online tentang "Anak Gadis Penjual Tuak Menangis: Mama Aku Diarak Warga dan Diikat di Pohon semisal Binatang" mengusik perhatian masyarakat di Kota Med

  • Wujudkan Kebersihan di Medan DKP Siapkan Masterplan Tata Kelola Sampah

    6 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan (DKP) sampai kini masih mempersiapkan masterplan terkait tata kelola sampah di Kota Medan. Dengan masterplan ini nantinya, pengelolaan s

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb