KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 06 Oktober 2018 08:21:00

Jangan Pernah Mengubah Kebinekaan Kita

BAGIKAN:
Ist
Kebhinekaan
Oleh: Bachtiar Sitanggang

ADA berita menarik yang dimuat detik.com Jumat, 5 Oktober 2018, di saat kita merayakan Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke-73. Berita menarik itu adalah dialog antara seorang prajurit dengan seorang Presiden, yaitu Presiden RI yang pertama sekaligus Proklamator,  Dr. Ir. Haji Sukarno.
Menurut Mayjen TNI (Purn) I Gede Kompyang Manila (IGK Manila), pada  Januari 1967, dia bersama dua orang rekannya ditugaskan komandannya di Polisi Militer TNI AD (Pomad) Letkol Noorman Sasoso untuk suatu tugas rahasia, mengawal seorang orang tua yang tidak diketahuinya, dengan tugas mengawal sang orang tua di rumah besar dan berhalaman luas, menjaga agar tidak ada yang mengunjungi sekaligus agar orang tua itu tidak boleh pergi meninggalkan tempatnya.

Pagi harinya, ketiga tentara ini kaget sebab yang dikawalnya adalah Panglima Besar Pemimpin Besar Revolusi, Proklamator dan masih berstatus Presiden, Sukarno, yang pada saat itu sedang menyiapkan pidato Nawaksara tahun 1967. 

"Pagi itu Bung Karno hanya mengenakan pantolon dan kaos oblong, " kata Manila yang dikutip detik.com dari buku "IGK Manila Panglima Gajah, Manajer Juara".

Memang pertemuan Manila dengan Presiden Sukarno bukan yang pertama kali. Ketika Presiden berkunjung ke Magelang, saat Manila masih Taruna, dia turut dalam jamuan makan malam sebagai Taruna asal Bali. Seusai makan, Bung  Karno, katanya,  menanya Manila, "Setelah selesai dari Akademi tugas apa yang diinginkan", dengan lugunya Manila menjawab, "Saya ingin menjadi pengawal Presiden*. Dan semua yang mendengar,  termasuk KSAD Jenderal Ahmad Yani,  tertawa, kata Manila.

Kembali ke tugas IGK Manila, selama 10 hari mengawal, cuma Manila yang menetap mendampingi PBR yang kesepian itu, karena kedua temannya sering menyelinap ke luar menemui pacar-pacarnya.
Manila bersaksi, meski berstatus Presiden bahwa menu makanan yang disantap Sukarno selama di Wisma Yaso adalah sama dengan jatah ransum prajurit. Karena bosan, sesekali Manila diminta membeli  masakan Padang di Pejompongan. "Menu nasi bungkus itu kemudian disantap berdua".

Perwira muda Manila, katanya, pernah mendapat wejangan dari sang Presiden yang sedang kesepian dan masih gemar bicara politik itu,  katanya, mengingatkan: "Manila, kalau kamu menjadi pemimpin di Indonesia, ada satu hal yang tak boleh kamu  lupakan: jangan pernah mengubah kebinekaan kita. Kekuatan kita ada pada kebinekaan itu". 
Dan menurut Manila,  nasihat sekaligus peringatan Bung Karno yang satu itu melekat kuat dalam ingatannya. Biasalah, Bung Karno berseloroh tentang kebinekaan,  menurut Manila, Bung Karno katanya ingin punya istri banyak dari Sabang sampai Merauke. Kala itu, Bung Karno sudah pernah punya istri dari Sumatera, Sunda, Jawa, Sulawesi, Kalimantan. "Mungkin Papua belum, Pak?" celetuk Manila. Bung Karno, kata Manila,  tertawa lepas mendengar seloroh itu. "Iya ya. Lagi nyari ini," timpal Bung Karno.

Manila juga bercerita kepada detik.com tentang Presiden Soeharto, yang pernah dikawalnya ketika di Kostrad. Saat bertemu di Cendana setelah lengser dari Istana, Manila mengungkapkan bahwa betapapun sang Jenderal Besar jauh lebih beruntung ketimbang Sukarno. Saat sakit Soeharto masih mendapatkan perawatan di rumah sakit terbaik, ditangani dokter kepresidenan.
"Tapi Bung Karno itu kalau sakit hanya diberi Naspro," kata Manila kepada detik.com  di kantornya, Akademi Bela Negara, beberapa waktu lalu. 

Uraian IGK Manila di atas, untuk tidak mengubah kebinekaan kita,  karena "Kekuatan kita ada pada kebinekaan itu". Menjadi tantangan bagi pemimpin sekarang dan juga bagi generasi muda, apakah kita sadar bahwa tindak tanduk dan tingkah pola kita sering tidak memelihara kebinekaan. Padahal Indonesia  dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, yang terdiri dari 17.000-an pulau serta dihuni ratusan suku.

Pada tahun politik ini dan di saat memperingati hari TNI ke-73, hendaknya pengalaman dan uraian IGK Manila di atas menjadi pelajaran dan renungan bagi kita sebagai bangsa dan masyarakat Indonesia yang majemuk.(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)
  BeritaTerkait
  • "Hancur Demi Kawan" Prinsip yang Hanya Dimiliki Orang Batak!

    2 tahun lalu

    BUDAYA Batak memang paling beda dari budaya-budaya lain yang ada di Indonesia bahkan dunia. Mulai dari adat istiadat, kekerabatan, bahasa, kesenian, kepercayaan, serta tidak kalah juga prinsip orang Batak itu sendiri.

  • Jangan Anggap Remeh Gangguan Indra Pengecap

    2 tahun lalu

    Medan(Pelita Batak): Sebagian besar orang memilih makanan berdasarkan rasanya yang enak dibandingkan dengan kandungan zat gizinya dan mungkin Anda salah satunya. Anda dapat merasakan rasa makanan y

  • Rahasia Hati dan Sebiji Kacang Ijo Dari Elia Massa Manik ( Anak Kos Cisitu, Bandung, TL 83)

    2 tahun lalu

    ELIA Massa Manik berhasil melalui masa-masa sulit dan mampu menyelamatkan "kapal" PT Elnusa Tbk yang hampir tenggelam. Ia memimpin Elnusa ketika kasus pembobolan dana perusahaan Rp 111 mi

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Depriwanto Sitohang Solusi Cerdas Bagi Dairi di Era Millenial dan Digital

    8 bulan lalu

    Tulisan ini bukan untuk mengkultuskan seseorang, tetapi hanyalah bagian dari pendidikan politik. Saya sangat menerima saran dan kritik aats tulisan ini. Tetapi tujuan saya hanya untuk mmeberikan sebua

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb