KSP Makmur Mandiri
Rabu, 26 September 2018 13:31:00

Demam Semua Merasa Mampu

BAGIKAN:
ist|pelitabatak
Oleh: Bachtiar Sitanggang

KITA pernah saksikan di televisi, seorang calon bupati bermain hujan-hujanan mengenakan celana dalam, karena tidak terpilih sementara hartanya terkuras. Konon, di Sidikalang, pada awal reformasi, tukang kayu yang kreatif, menjelang pemilu menyiapkan tongkat dan peti. Alasannya, akan banyak calon DPRD yang terkena stroke karena tidak terpilih dengan banyaknya partai waktu itu.

Perhitungannya banyak partai dan calon, jadi bagi mereka yang sakit butuh tongkat dan kursi roda itu. Itu hanya cerita saja, benar atau tidak, kurang tahu. 

Alasan si tukang kayu itu kuat, karena awal reformasi partai banyak dan tiap partai mencalonkan 3-4 orang saja maka jumlahnya membeludak, sementara kursi yang tersedia terbatas.

Orang mencalonkan diri sebenarnya bukan karena "kemampuan",  tetapi karena persyaratan partai saja agar tidak dilikuidasi, maka setiap daerah pemilihan (dapil) harus ada calon, walaupun sadar tipis akan terpilih. Kalau tidak terpilih paling tidak menambah  daftar riwayat hidup.

Caleg pasti ada interaksi dengan pemilih, yang sedikit banyak mengeluarkan dana, minimal kaos oblong, aqua atau nasi bungkus dan transportasi, itu namanya biaya politik. Mungkin lain lagi dengan "upeti" kepada partai yang mungkin disebut "money politics" termasuk serangan fajar menjelang pemungutan suara ke pemilih, perorangan maupun kelompok.

Hal-hal seperti itu lumrah, sehingga siapa pun yang jadi calon baik kepala daerah maupun anggota legislatif pasti kantongnya terkuras. Belakangan Partai Nasdem mengharamkan itu, yang lain mereka sendiri yang tahu.

Mudah-mudahan tidak terjadi efek negatif yang kita sebut di atas walaupun gejala itu ada, mengapa? Karena partai peserta Pemilu tahun 2019 ada 14, Kalau di Tapanuli Utara ada 15 Kecamatan dan kursi yang tersedia hanya 35 orang.
 
Tapanuli Utara dengan 5 dapil masing-masing dapil 1: 8 kursi; dapil 2: 6 kursi; dapil 3: 7 kursi; dapil 4: 9 kursi dan dapil 5: 5 kursi, ke-35 kursi itu diperebutkan 14 partai, jadi kemungkinan menang bagi para caleg tahun ini, silakan timbang-timbang sendiri. Demikian juga pemilih, apa mau pilih yang sudah tahu kalah?

Kalau setiap partai mencalonkan 5 orang dari tiap dapil (contoh) berarti 14 partai dengan 5 calon berarti minimal 70 calon, dan 35 dari situ akan tersingkir, ya sebaiknya pilih orang yang ingin mengabdi, jangan yang "gila hormat" apalagi pencari kerja  termasuk yang hidupnya tidak menentu  dan lain-lain.

Mari kita ikuti perkembangan ini di daerah kita masing-masing dan pilihlah yang identitasnya jelas jangan terbeban dengan marga dan terikat dengan Dalihan Natolu, somba marhula-hula, elek marboru jala manat mardongan tubu.

Dan sebaiknya menghindar dari ungkapan yang tidak perlu dikembangkan di orang Batak Toba, yaitu "marbulu suhar", suhar bulu ditarik dongan suhar do tarikon. Artinya "ber-bambu terbalik", "kalau teman menarik bambu terbalik (dari ujungnya) terbalik pula kita menariknya". Sudah tahu teman menarik bambu terbalik, kok kita ikuti? 

Hal ini sering muncul di kala pemilihan baik di tingkat skala kecil sampai skala besar dan luas partai maupun nasional. Selama kita "terikat" dengan kebiasaan itu sulit untuk memperoleh figur yang benar-benar memiliki pribadi yang  kemampuan untuk menduduki suatu posisi yang benar-benar melayani warganya.

Viral sekarang di media sosial, maraknya mempromosikan diri dan saudara dengan menggugah ikatan kekerabatan, paling sulit kalau berbeda partai dengan pemilih? Itulah sekarang yang sedang dan akan kita hadapi di tahun politik, dan tergantung pada hati nurani masing-masing, beli kecap mana? Semua nomor satu, walaupun tidak disebutkan prosesnya, apakah kedele pilihan atau kedele karbitan? Kedele sudah tidak terpakai, tetapi karena ada peluang jadi dijadikan kecap?

Kelihatannya masih memakan waktu untuk memperoleh wakil-wakil yang berkompeten untuk duduk sebagai wakil rakyat di lembaga perwakilan rakyat. Sebab para calon sendiri tidak menakar diri termasuk partai masih asal ada. Menunggu saatnya tiba, marilah kita gunakan hak pilih kita sesuai hati nurani, kalau tak ada rotan akar pun berguna.*

(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)
  BeritaTerkait
  • Caleg Pelengkap Penderita

    3 minggu lalu

    TULISAN Bachtiar Sitanggang, wartawan senior dan advokat senior,  di pelitabatak.com dengan judul "Demam Semua Merasa Mampu" (26/09/2018), sangat menarik diperbincangkan.Banyak calon legislatif (

  • Malapetaka "Martangan Pudi" Dalam Kehidupan Rumah Tangga Suku Batak

    2 tahun lalu

    Dalam membina keharmonisan suatu rumah tangga, perlu ada saling keterbukaan dalam sikap antara si suami dan istri, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dari setiap pasangannya. Banyak yang mengatakan keluarga suku Batak terkenal dengan kesetia

  • Huawei Undang 15 Mahasiswa Terbaik Indonesia ke Tiongkok

    2 tahun lalu

    Shenzhen(Pelita Batak): PT Huawei Tech Investment (Huawei Indonesia), penyedia solusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) global terkemuka, untuk keempat kalinya kembali mengajak 15 mahasiswa

  • K-Link Untuk Masyarakat Indonesia: Satu Rumah, Beragam Solusi

    2 tahun lalu

    Medan(Pelita Batak): Awal tahun 2016, website Creative Trader melansir sebuah artikel yang menyatakan bahwa perekonomian Indonesia pada tahun tersebut tidak mengalami pertumbuhan yang diharapkan. H

  • Jargon Minoritas-Mayoritas Keagamaan Belum Hilang

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Masa Bakti 2015 – 2020, Baktinendra Prawiro,MSc,MH mengatakan persoalan politik di I

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb