• Home
  • Budaya
  • RE Nainggolan: Harus Satukan Sikap dan Tekad Agar UNESCO Akui Ulos
Kamis, 25 Agustus 2016 11:46:00

RE Nainggolan: Harus Satukan Sikap dan Tekad Agar UNESCO Akui Ulos

BAGIKAN:
Pelita Batak :
Tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM mengajak seluruh elemen masyarakat menyatukan sikap dan tekad untuk mengajukan ulos sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Rencana dan pekerjaan yang mulia, jika masih ada orang maupun kelompok yang mau memperjuangkan dan melestarikan budaya lokal.
 
Hal itu disampaikan RE Nainggolan pada penutupan seminar nasional Langkah Pengajuan Ulos Menjadi Warisan Budaya Dunia ke UNESCO, di Aula Sekolah Pascasarjan Universitas Sumatera Utara (USU), Rabu (24/8/2016). Dengan diakuinya ulos sebagai warisan budaya dunia, akan menjadi dokumen penting sebagai pengakuan bahwa ulos merupakan  hak intelektual masyarakat Batak khususnya dan Indonesia umumnya.
 
"Kita menghargai dan mengapresiasi sebagai pikiran-pikiran yang mengandung jiwa dan makna. Sebab tidak ada acara adat Batak dimanapun dan kapanpun tanpa ulos," ujar Founder RE Foundation ini.
 
Sebab perjalanan waktu juga akan membawa masyarakat Batak berhadapan dengan ritme kehidupan yang senantiasa terjadi kreativitas, fashion dan sebagainya. "Pasti akan terjadi inkulturasi dari ulos itu. Bisa saja ada perubahan disain yang baru tentang ulos itu," ujarnya.
 
Ke depan, lanjut mantan Sekretaris Daerah Provinsi Sumut ini, hubungan kehidupan masyarakat Batak khususnya dengan ulos akan semakin terjadi berbagai peristiwa. Baik dalam tata cara pemakaian, tata adat bisa saja berbeda sesuai dengan lokasi masing-masing.
 
Ia pun menyemangati panitia pengusulan Ulos ke UNESCO yang diketuai Enni Martalena Pasaribu agar tetap bekerja keras. Tidak dipungkiri, akan ada banyak yang ingin melemahkan posisi panitia. "Ibu Pasaribu jangan pernah berhenti," ujarnya.
 
Turut hadir dalam seminar mewakili gubernur Sumut, Wakil Wali Kota Medan ir Akhyar Nasuion, pakar geopark kaldera Toba Wilmar Simanjorang, RAY Sinambela, Anggota DPRD Medan Anton Panggabean SE MSi, tokoh masyarakat Gandi Parapat, Drs Harri Naibaho, MM Sekjen Punguan Pomparan Si Raja Oloan Se-Indonesia, Jadi Pane,SPd, budayawan Manguji Nababan, para panitia Suryani Siahaan, Inong Hanna Simbolon ST MM, ir Susilo Karunianingsih, Vera Pasaribu, Royana Marpaung, Sarma Sianipar, dan humas Adol Frian Rumaijuk STP serta undangan lainnya. 
Para pembicara Prof Dr Robert Sibarani, MS (Direktur Sekolah Pascasarjana USU), Prof Dr Prudentia, MPSS (dari Ditjen Kebudayaan), Sartika Simamora (Ketua Dekranasda Taput), dan Torang Sitorus (collector). 
 
Sementara Wakil Walikota Medan, Akhyar Nasution, juga mendukung penuh upaya pegiat ulos membawa kebudayaan ulos menuju Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO.
 
"Ini hal yang sangat luar biasa. Kita setuju sekali. Sesungguhnya bukan ulos saja yang harus diajukan ke UNESCO, tapi banyak sekali budaya kita yang harus didaftarkan dan mendapatkan pengakuan dari dunia," kata Akhyar.
 
Menurutnya, keberadaan budaya lokal di Indonesia begitu banyak. Apalagi sesuai dengan Undang-undang dasar (UUD) 1945 menyebutkan, puncak kebudayaan lokal merupakan budaya nasional.
 
Tapi selama ini, sebut Akhyar, banyak masyarakat yang tidak percaya dengan potensi budaya lokal di Indonesia. Padahal, sudah jelas pegiat ulos kini bekerja keras membawa ulos menuju warisan budaya hingga ke UNESCO.
 
"Ternyata dari budaya bisa membangun, menyemangati dan menginspirasi masyarakat. Jadi kebudayaan kita harus dibangun bersama, seperti budaya bersih dan gotong royong. Selama ini hal demikian kita sering abaikan. Tak hanya ulos, tapi kain songket, batik dan maaf, koteka juga bagian dari budaya kita yang harus dilestarikan. Itu budaya kita dan harus dikembangkan," ungkapnya.
 
Akhyar juga menyebutkan, negara yang besar adalah mereka yang menghargai dan menjaga budayanya. Seperti Jepang dengan samurainya dan China dengan tanah leluhurnya di Tiongkok.
 
"Selaku pemerintah kota, kita menyiapkan apa yang dibutuhkan masyarakat dan permintaan pasar. Pemerintah sifatnya memfasilitasi," terangnya.
 
Sebelumnya, Ketua Seminar Nasional Langkah Pengajuan Ulos Menjadi Warisan Budaya Dunia ke UNESCO, Enni Martalena Pasaribu mengatakan, ulos merupakan budaya warisan milik Indonesia.
 
"Makanya kita ingin ulos melangkah ke dunia internasional. Sekalian kita menjaga agar tidak ada lagi pihak lain yang mengklaim budaya kita. Itulah salah satu langkah yang kita lakukan," kata Enni.
 
Narasumber yang diundang pada seminar nasional itu adalah Prof Dr Pudentia dari Ditjen Kebudayaan, Prof Dr Robert Sibarani, Direktur Sekolah Pascasarjana USU, Sartika Simamora, Ketua Dekranasda Tapanuli Utara dan Torang Sitorus, sebagai kolektor.
 
Enni juga menyebut, pihaknya telah mempersiapkan bahan-bahan yang diraih dari seminar nasional kali ini. Nantinya hasil seminar akan melengkapi masukan sebagai bahan menuju ke UNESCO.
 
"Tentu kita terus menjalin kerja sama dan koordinasi dengan dinas pariwisata, penenun, pegiat dan wakil rakyat serta pemerintah. Jika koordinasi ini berjalan baik, saya yakin UNESCO bisa menerima ulos Batak menjadi budaya kita," ungkap Enni.(TAp)
 
  BeritaTerkait
  • Bangun Persaudaraan, Kebersamaan dan Rasa Kasih Melalui Natal

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Ribuan umat Kristiani dari seluruh penjuru Kota Medan menghadiri perayaan Natal Oikumene Kota Medan tahun 2016 di Gedung Medan International Convention Centre (MICC) Jalan Gagak Hitam Ring Road Medan,

  • Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos Serta Para Tokoh Bicara Tentang Ulos

    2 tahun lalu

    Ulos semakin santer dibicarakan akhir-akhir ini. Bahkan, sejumlah tokoh masyarakat batak kini sudah sepakat untuk mendaftarkan kain ulos yang secara umum dipahami masyarakat sebagai kain tenun ikatnya masyarakat batak ke lembaga dunia, UNESCO.

  • Bupati Tobasa Darwin Siagian Ajak Seluruh Warganya Bersiap Sambut Wisatawan Dunia

    8 bulan lalu

    Balige (Pelita Batak) :Bupati Toba Samosir Darwin Siagian mengajak seluruh lapisan masyarakat berbenah diri dalam menyambut Danau Toba sebagai kawasan strategis nasional bidang parawisata. Jika ingin

  • Bishop GKPI Resmikan Koordinasi Wilayah VII untuk Dukung Perayaan Natal Nasional di Doloksanggul

    tahun lalu

    Doloksanggul(Pelita Batak): Bishop GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia) Pdt Oloan Pasaribu MTh meresmikan wilayah VII yang meliputi Humbang Hasundutan - Tobasa – Samosir, dan sekaligus m

  • Dr RE Nainggolan dan Pdt WTP Simarmata Narasumber Pertemuan Kaum Bapak PGI-D Medan

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM dan Ephorus (emeritus) HKBP Pdt WTP Simarmata,MA menjadi narasumber dalam Pertemuan Kaum Bapak yang diselenggarakan oleh PGI Daerah Kota Medan, Sabtu (17/12/2016), d

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet