KSP Makmur Mandiri
Jumat, 01 Februari 2019 18:32:00

Pinasa vs Jabi - jabi (1)

BAGIKAN:
Dok Pribadi
Sampe L Purba
Oleh : Sampe L Purba

Pinasa, atau nangka ( bahasa ilmiahnya Artocarpus heterophyllus) atau jack fruit dalam bahasa Inggeris, adalah salah satu jenis pohon yang memiliki arti khusus dalam budaya Batak. 

Nangka, dapat tumbuh hingga setinggi 20-30 meter, berdiameter hingga 1 meter, dengan daun lebar. Menyenangi curah hujan 1500 mm pada cuaca hingga 25 derajat Celsius. 

Mulai berbuah pada usia tanaman 5 tahun, tidak mengenal musim. Usia produktifnya dapat melampaui dua tiga generasi manusia. Buahnya besar-besar dan montok, ranum menggantung berdesakan mulai dari batang tengah hingga ke dahan di pucuk. Enak.

Satu teka-teki Naposo Batak dahulu melukiskan metafora keindahan dan ranumnya buah pohon ini adalah "gantung mokmok, aha ma i ito". 

Di berbagai daerah, seperti di sekitar pulau Jawa dan daerah Minang, nangka dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan, sayuran, uram rendang hingga gudeg. Nangka mentah, nangka matang semua tersaji enak. 

Tidak demikian dengan di tanah Batak. Makanan Batak tidak terlalu variatif, tetapi lebih kepada fungsional. "Butong mangan, mahap marlompan" (kenyang makan, hingga begah makan daging). Sayuran tidak disebut. Hingga saat ini, di desa sekitar danau Toba, kalau ada kenduri, indikator kepuasan jamuan adalah makanan dan lauk, minus sayuran. Malah nilai plusnya adalah tuak atau nira sebagai dessert. 

Tempat asal atau bona pasogit suatu klan atau sub percabangan marga disebut dengan bona pinasa (tanah asal leluhur). Komponis Bonar Gultom menggubah lagu yang sangat populer dan viral tahun 1960 an berjudul "Arga do bona ni pinasa". Sering difestivalkan. Antar kecamatan, sekolah atau gereja. Pernah dioperette kolosalkan di ibu kota pertengahan 2012 berjudul "Arga do bona ni ni pinasa di akka na bisuk marroha" -Tanah leluhur bernilai tinggi, bagi mereka yang bijak bestari. Opera kolosalnya di JHCC waktu itu dibintangi oleh Chocky Sitohang dan Zivanna Letisya. Orangnya cantik. 

Desa tradisional Batak, terdiri dari beberapa rumah yang masih satu Ompu. Sekeliling desa, ditimbun atau uruk dengan benteng tanah. Lobang bekas galian sekeliling berfungsi sebagai selokan pembatas ke desa.

Sekeliling benteng ditanami bambu diselang selingi pohon pinasa. Berfungsi sebagai penahan angin, panah musuh serta binatang buas. Keberadaan selokan akan memperlambat gerak musuh kalau terlanjur dapat menerobos gerbang desa. Konsep desain pertahanan desa ini, saya lihat mirip dengan pedesaan di sekitar Yunnan, pedalaman Selatan China di perbatasan Myanmar dan Himalaya. 

Makna tinggi dan pentingnya tanah luhur, tidak hanya bagi berlaku bagi orang Batak. Orang Tionghoa mengenal tradisi mudik setiap imlek, penduduk Nusantara berlebaran, orang India berendam ke Gangga. Bahkan jauh sebelum tahun Masehi, Kaisar Romawi kunopun memerintahkan penduduk di imperiumnya untuk pencacahan jiwa, kembali ke kampung asal keluhur.

Dalam satu episode cerita kuno, untuk memenuhi perintah agung Kaisar Agustus Romawi, Joseph yang merantau ke Galilea di Tanah Nazereth, mudik ke Bethlehem Ephrata. Asal leluhurnya Raja David, penguasa zaman Purba ribuan tahun sebelumnya. Sementara musim mudik itu, Yesus atau Isa pun lahir. Desa leluhur asal nenek moyang, oleh penterjemah Alkitab disebut Bona ni Pinasa. Yusuf dan Maria mudik ke bona ni pinasana. 

Sebetulnya hal mudik ini, tidak hanya berlaku untuk manusia. Juga binatang. Jutaan Wildeebest (sejenis kerbau kerempeng bertubuh seperti sapi), zebra dan rusa saban tahun mudik melintasi sungai Mara yang penuh buaya di pedalaman Afrika. Tidak semua selamat. Migrasi raksasa ini merupakan ritual alam tahunan yang oleh Pemerintah dan masyarakat dimanfaatkan menjadi event industri pariwisata safari alam.

Ikan salmon di hutan Arizona, atau burung kiwi di Selatan Australia juga mudik setiap tahun ke desa kelahirannya. Burung Kiwi mudik sekaligus mencari pacar, jodoh atau menemui kembali pasangan, yang masing-masing mengembara sepanjang tahun tetapi solid setia dalam hubungan jarak jauh (long distance relationship). Bersambung...
  BeritaTerkait
  • Pinasa vs Jabi - jabi (2)

    5 bulan lalu

    Oleh Sampe L PurbaSimbolisme PinasaBatang pohon nangka yang keras dan anti rayap, sangat cocok dibuat menjadi bahan Solu/ perahu tradisional dari kayu tunggal, soko guru/ pilar utama rumah kayu, tongk

  • Viral, Maaf Saya Merokok di Ruangan Ber-AC

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Seorang nitizen, Natsir Armaya Siregar warga Pematangsiantar yang mengikuti sidang paripurna pemilihan Wakil Wali Kota Pematangsiantar, 11 September 2017 memposting perilaku para

  • Penyerahan Bantuan Bibit Ternak Bagi 8 Kelompok Tani/ Ternak di Kabupaten Tapanuli Selatan

    7 bulan lalu

    Tapanuli Selatan (Pelita Batak): Kegiatan Pengembangan Pembibitan dan Produksi Ternak Sapi Potong 2018, dengan sumber dana APBD 2018 di Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Pemerintah Provinsi Sumate

  • Marga Merupakan Jaminan Sosial Masyarakat Batak Toba

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak): Dari mitologi penciptaan diketahui bahwa semua orang Batak berasal dari Si Rajabatak. Si Rajabatak mempunyai dua putra, yaitu Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon. Kemudian

  • Wow....Sosialisasi yang Dilakukan Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) Sepanjang 2016

    2 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Detik-detik pergantian waktu, Tahun 2016 tinggal hitungan hari, sebagai organisasi kemasyarakatan Orang Batak, Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) merilis kegiatan sosialisas

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb