• Home
  • Budaya
  • Panitia Hari Ulos Berdiskusi dengan Prof Robert Sibarani
KSP Makmur Mandiri
Kamis, 14 Juli 2016 18:27:00

Peringatan Hari Ulos

Panitia Hari Ulos Berdiskusi dengan Prof Robert Sibarani

BAGIKAN:
Istimewa
Direktur Sekolah Pascasarjana USU Prof Robert Sibarani foto bersama dengan rombongan panitia hari ulos, Rabu (14/7/2016).

Medan (Pelita Batak)
Prof Dr Robert Sibarani mengapresiasi gerakan Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos untuk mengajukan 'ulos' yang telah menjadi Warisan Budaya tak Benda Nasional menjadi warisan budaya dunia yang terdaftar di UNESCO. Menurut Direktur Pascasarjana Universitas Sumatera Utara ini, pelestarian nilai budaya sangat dibutuhkan di tengah zaman yang semakin mempercepat degradasi nilai-nilai budaya itu sendiri.

Prof Robert mengatakan hal itu saat menerima audiensi Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos di kantornya, Rabu (13/7/2016). "Degradasi makna ulos yang sesungguhnya di tengah masyarakat adat batak sudah terjadi, perlu ada penataan ulang tentang makna dan manfaat ulos dalam adat Batak," katanya.

Dikatakannya, termasuk dalam praktek sehari-hari, nilai ulos dalam kehidupan masyarakat Batak sudah sangat melenceng. Semisal saat adanya acara adat pernikahan, dimana undangan memberikan 'ulos holong' yang pada dasarnya sudah tidak layak disebut ulos atau hanya asal ada bermotif ulos. Nilainya sangat rendah, dan bukan merupakan hasil tenunan penenun yang memproduksi ulos. "Harganya sangat murah, sangat tidak layak. Lebih baik hanya dijalankan ulos yang seperlunya saja," katanya.

Ia menjelaskan, degradasi pemberian sipir nitondi (beras) dalam acara adat juga sudah melenceng dari tujuan awalnya. Dikatakannya, jika dahulu pihak hula-hula membawa beras, harus memilih beras yang paling bagus dan paling enak. Karena mangulosi dan sipir nitondi hakekatnya adalah marsiruppa (membantu pihak yang mengadakan pesta). "Bagaimana bisa dikatakan lagi sipir ni tondi, sementara beras yang dibawa sudah beras yang paling murah? Mungkin untuk pakan ayam," katanya. Bahkan ia mengatakan, ke depan di pesta-pesta penerima beras sudah harus membuat dua tempat yaitu tempat beras yang layak konsumsi dan yang tidak layak konsumsi.

Demikianlah halnya dengan ulos ke depan, dengan adanya pemahaman bersama akan makna sesungguhnya, akan memberikan dampak yang lebih besar bagi pengrajin ulos. Meski tidak dipungkiri, saat ini ada manfaat dari motif ulos dimanfaatkan sebagai busana dan kerajian kreatif lainnya. Hal itu tidak salah, namun perlu ditekankan bahwa 'ulos' yang sesungguhnya bukanlah fisik ulos melainkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kemudian, jika ingin mendaftarkan Ulos menjadi warisan budaya dunia yang diakui UNOESCO, ada berbagai hal yang harus dilakukan. Baik oleh kelompok masyarakat, pemerintah daerah lewat regulasi dan anggaran, serta dukungan dari pemerintah pusat. Untuk itu, panitia masih harus bekerja keras dan proaktif berkomunikasi dengan pemerintah kabupaten.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum Panitia Enni Martalena Pasaribu menyampaikan tujuan kehadirannya bersama panitia lainnya adalah untuk berdiskusi dan meminta wejangan dari Prof Robert Sibarani. Enni bersama Pembina Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos RAY Sinambela, Jimmy Siahaan, Seksi Seminar Manguji Nababan, Ketua 1 Suryani Siahaan, Ketua 2 Rismaria Hutabarat Sekretaris Umum, Inong Hanna Simbolon ST, MM, Sekretaris 1, Ir Susilo Karunianingsih, Bendahara Umum, Vera Pasaribu, Bendahara 1, Royana Marpaung SE, Bendahara 2, Sarma Sianipar, KaBid Humas,Jhony Siahaan dan Adol Frian Rumaijuk, STP.

Enni berterimakasih atas nama panitia untuk saran dan kesempatan yang disampaikan Prof Robert Sibarani. Panitia berharap, tetap bisa mendapat masukan dari akademisi budaya Batak itu. Ditambahkan Enni, panitia akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan diantaranya seminar tentang ulos, pameran ulos, pemilihan duta ulos, pameran martonun dan yang lainnya. Seminar akan mengusung tema "Ulos nantuari, sadari on, dohot ulos haduan (ulos masa lalu, masa kini dan ulos masa depan)".

Ia juga menjelaskan bahwa pada 17 Oktober 2014 pemerintah telah menetapkan ulos sebagai warisan budaya tak benda nasional. Di tahun 2015 telah dilaksanakan peringatan hari ulos pertama di Jl Sei Galang Medan. Pengesahan dari pemerintah tersebut panitia berharap pemerintah menetapkan 17 Oktober jadi kalender nasional sebagai hari ulos.

(TAp/rel)

  BeritaTerkait
  • NKRI Sudah Final, Penyeragaman Tidak Relevan

    3 tahun lalu

    ~Oleh:  Dr Bernard Nainggolan, SH, MH, Ketua Pengurus Nasional Perkumpulan Senior GMKISEBAGAI warga negara, kita sangat konsern terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan men

  • Ketua DPRD Medan Dukung Penetapan Hari Ulos Nasional

    3 tahun lalu

    Ketua DPRD Medan Dukung Penetapan Hari Ulos Nasional Medan (Pelita Batak) Ketua DPRD Kota Medan, Henry Jhon Hutagalung menyatakan dukungannya untuk penetapan hari ulos, 17 Oktober, menjadi kalender tahunan. Warisan budaya yang dimiliki bangsa ini, k

  • Sepakat Daftarkan Ulos ke UNESCO, Enni Pasaribu Didaulat Sebagai Koordinator Tim

    3 tahun lalu

    Sejumlah tokoh masyarakat yang konsern dan memberikan perhatian terhadap ulos, sepakat untuk mendaftarkan 'ulos' sebagai warisan budaya dunia. Demi kelancaran proses pengusulan, Enni Martalena Pasaribu SH didaulat sebagai Koordinator Tim yang ak

  • Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos Serta Para Tokoh Bicara Tentang Ulos

    3 tahun lalu

    Ulos semakin santer dibicarakan akhir-akhir ini. Bahkan, sejumlah tokoh masyarakat batak kini sudah sepakat untuk mendaftarkan kain ulos yang secara umum dipahami masyarakat sebagai kain tenun ikatnya masyarakat batak ke lembaga dunia, UNESCO.

  • Jika Ingin Go UNESCO, Ulos Harus Menjadi 'Ulos Indonesia'

    3 tahun lalu

    Pengajuan ulos sebagai warisan budaya tak benda menjadi warisan budaya internasional atau dunia harus pertama sekali ulos menjadi milik Indonesia. Tidak lagi disebut sebagai ulos batak atau yang lainnya, melainkan menjadi 'ulos Indonesia'.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb