• Home
  • Budaya
  • Mengenal Budaya Pertanian Batak: 'Mangordang' dalam Menanam Padi Darat
KSP Makmur Mandiri
Senin, 17 Oktober 2016 19:49:00

Mengenal Budaya Pertanian Batak: 'Mangordang' dalam Menanam Padi Darat

BAGIKAN:
bangka pos
Mangordang atau menugal
Orang Batak sudah lama mengenal dunia pertanian. Mereka bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhannya. Selain berburu untuk memenuhi kebutuhan daging, beternak sudah lama membudaya.
 
Untuk kebutuhan peralatan, dibeli dari luar daerah. Sebab tambang besi tak ada di Tanah Batak. Diperkirakan Barus, yang berada di Tapanuli Tengah sekarang yang menjadi daerah perniagaan. Pedagang asing membawa peralatan pertanian, dan dibarter dengan hasil bumi orang Batak.
 
Perkenalan dengan dunia lain itu membawa budaya pertanian baru ke Tanah Batak. Entah sejak kapan, orang Batak mulai menanam padi untuk memenuhi kebutuhan beras lokal. Sebelum mengenal pertanian sawah, kebiasaan menanam padi di darat (padi gogo) sudah membudaya. Bahkan hingga kini, masih ada yang mempertahankan tradisi ini.
 
Sebelum menanam padi yang lazim disebut 'mangordang', tanah digemburkan terlebih dahulu. Biasanya dua kali penanganan. Pertama, 'mangombak balik', yakni mencangkul tanah, dengan mengangkat bagian bawah tanah ke atas, sekitar 30 cm. Kedua, setelah dibiarkan beberapa hari, lalu dicangkul lagi lebih halus untuk menggemburkan tanah.
 
Setelah menunggu hujan turun, atau yakin akan datang hujan dalam waktu sesegera mungkin, barulah dimulai kegiatan 'mangordang'. Pria atau perempuan dewasa memegang dua kayu seperti tongkat yang bagian bawahnya sudah diruncingkan. Dalam bahasa Indonesia, ini disebut dengan 'menugal'.
 
Kayu tadi ditancapkan ke tanah untuk melubangi, sehingga terbentuk deretan lubang yang memiliki jarak yang sama. 'Pangordang'akan diikuti orang yang memasukkan padi (bibit) ke dalam lubang, disusul yang memasukkan pupuk (bisa kompos, bisa pupuk buatan). Lalu, ada yang bertugas menutup dengan kaki atau tangan.
 
Setelah 'mengordang', maka dalam beberapa minggu, padi akan tumbuh. Lalu akan ada kegiatan lanjutan. Apa itu, tunggu dalam tulisan selanjutnya.(Anto Lumbantoruan) 
 
  BeritaTerkait
  • Tidak Menjual Tanah, Budaya Lokal Orang Batak

    3 tahun lalu

    Menarik sekali melihat sistem "subak" di Bali dimana dikatakan para petani sangat taat melaksanakan tehnologi pertanian yang bersifat turun temurun. Kecuali ada tehnologi baru yang tidak

  • MARSIALAP ARI: REFLEKSI BUTIR PANCASILA DI BONAPASOGIT

    2 tahun lalu

    Oleh Ronsen LM PasaribuMenuju suatu perubahan dalam kemajuan suatu pekerjaan sebagai petani, atau non petani perlu menyadari bagaimana cara bekerja agar lebih efisien efektif. Teknologi adalah pilihan

  • Hak 'Ora' Sebagai Budaya Tidak Menjual Tanah Bagi Orang Batak

    2 tahun lalu

    Tidak menjual tanah bagi orang Batak sudah sering penulis suarakan, dengan melihat tidak adanya istilah jual beli tanah di tengah orang batak itu sendiri.  Setelah diteliti didalam peraturan p

  • Menelusuri Liku-liku Jalan di Bonapasogit dan Merajut Semangat Leluhur

    2 tahun lalu

    Pulang ke kampung saya, Sigolang di lereng pebukitan Bukit Barisan di deretan Tapanuli Selatan sangat berkesan. Keberangkatan kali ini, diawali dihari Kamis, tanggal 27 April 2017 dengan bangun san

  • Sekali Lagi Soal Himbauan Tidak Menjual Tanah di Kawasan Danau Toba: Kajian Hukum Batas Minimal dan Maksimal

    2 tahun lalu

    Oleh Ronsen LM PasaribuSejak bergulir rencana Pembangungan Pariwisata di KDT, muncul opini  pro kontra di kalangan orang Batak, tentang  adanya himbauan agar tidak menjual tanah di Kawasan D

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb