• Home
  • Budaya
  • Masihkah Perlu Tarombo, Bagi Orang Batak?
Minggu, 11 Maret 2018 06:29:00

Masihkah Perlu Tarombo, Bagi Orang Batak?

BAGIKAN:
Ist
Ronsen Pasaribu
Oleh: oleh Ronsen LM Pasaribu

Selama ini tarombo sebagai silsilah seseorang, diterima sebagai hal yang given, diterima apa adanya. Tarombo, memang tidak bisa direkayasa, sifatnya apa adanya jujur dan orisinil. Tarombo, dimaksudkan agar mengetahui silsilah seseorang biasanya dimulai dari Raja Batak, sampai kepada saya, anda atau kita.

Inilah kekayaan budaya orang batak memiliki tarombo dan menghargai tarombonya itu sebagai kekayaan tak benda. Seseorang bisa ditelusuri siapa bapaknya, siapa ibunya, siapa nenek, dan seterusnya ke atas sampai beberapa generasi. Orang yang mengetahui tarombonya, katakanlah satu marga maka akan mudah martutur atau saling belajar mencocokkan dinomor berapa sekaligus panggilannya apa antara satu dengan lainnya. Apakah panggil anak, panggil bapak atau sejajarnya atau panggil ompung. Dengan terjawabnya pertanyaan itu, maka kloplah perasaannya sehingga bisa menempatkan diri dalam sistem kekerabatan dalam adat maupun dalam keseharian.

Tarombo itu masih diperlukan bagi orang batak sekarang ini, terlebih bagi mereka yang diperantauan. Kemungkinan ketemu dengan saudara semaraga semakin besar tanpa disengaja atau kita tidak tahu asal usul mereka selama ini mengingat orang batak sejak asalnya dari Samosir sudah kemana mana berkelana sejak jaman dahulu kala. Beranak pinak, sehingga baik jumlah maupaun penyebarannya tidak terhingga. Perkenalan pun takkan mungkin karena disamping tidak pernah ketemu juga wilayahnya sangat luas. Satu satunya cara dengan menanyakan apa yang disebut Tarombo.

Jadi Tarombo inilah sebuah jembatan pemersatu bagi orang batak. Sudah berjalan otomatis, bila sudah diketahui marga dalam perkenalan maka tutur itu sudah akan terbentuk sendiri. Pepatah orang batak mengatakan "molo di tiptip sanggar, gabe binahen huru-huruan, jolo disungkun marga asa bioto partuturan". Betapa petingnya partuturan itu bagi orang batak, sebab itu bagian kebudayaan yang diturunkan oleh nenek moyang sejak lama. 

Dalihan Natolu, tercermin dari tarombo itu. Golongan dongan tubu, teman semarga, golongan boru dan golongan hula hula. Hanya saja, tarombo bagi orang batak lebih membatasi diri hanya turunan satu marga saja, tanpa menyebut borunya. Jikapun ditulis nama boru atau saudara perempuan dan berhenti dinama itu saja. Saudara perempuan itu hanya dibuat keterangan menikah dengan marga apa ditempat mana. Selanjutnya tidak lagi dengan alasan perempuan sudah masuk ke marga boru kita. Tarombonya sudah mengikuti suaminya.

Siapa yang membuat tarombo?. Waktu penulis masih kecil, bapak menceritakan bagaimana seseorang yang khusus membuat tarombo berkenan berkelana dari kampung yang satu ke kampung lainnya. Dia membawa sebuah buku catatan, jika sudah tiba di suatu kampung maka akan menginap di sebuah rumah yang marganya sama. Dia diterima sebagai tamu, diberi perlakuan yang baik, diberikan makanan, minuman, penginapan dan apa saja yang diperlukannya. Ini suatu kewajiban tidak tertulis apabila ada tamu yang belum tentu dikenal secara kekeluargaan. Sang tamu inilah mewawancarai tuan rumah, mencatat nama, istri, anak dan nama-nama ke atasnya sejauh dia masih ingat. 

Proses ini terkadang bisa ketemu dengan orang lain yang sudah dicatat sebelumnya. Akhirnya cabang-cabang itu semakin lengkap dan sempurna. Pekerjaan itu diteruskan dari desa ke desa lainnya, sampai ke daerah dimana dia sanggup berbulan bulan. Sehingga mampu membuat sebuah Tarombo satu marga tertentu. Semakin lengkap tarombo semakin baik, bahkan yang disebut sempurna apabila terjawab tarombo mulai dari Raja Batak sampai dirinya tanpa terputus satu generasipun. Seperti saya sendiri, sudah memiliki Tarombo mulai Raja Batak sampai saya dan anak saya, Marthin Sando Pasaribu. Kelak kemudian hari akan terus sampai cucuku.

Dalam perkembangannya, rasa kekeluargaan akan membentuk organisasi sosial kemasyarakatan dengan membatasi anggotanya karena hubungan darah (genealogis), bisa dengan kriteria satu keturunan kebawah sejauh dapat dijangkau atau kriteria (geografis), orang batak satu marga di suatu wilayah. Tentu, kegiatannya menyangkut kegiatan kesukacitaan perkawinan, kelahiran anak, ulang tahun, memasuki rumah, dan lainnya serta menyangkut kegiatan duka cita meninggal dan kesusahan lainnya. Inilah uniknya orang batak itu, sangat menghormati perkumpulan marganya, apapun pengorbanan biaya, tenaga bahkan pikiran akan diberikan tanpa memperhitungkan untung rugi. Sesuatu nilai positif didapatkan dari perkumpulan ini, sehingga sangat baik dilanjutkan demi bina keluarga yang baik antar keluarga anggotanya.

Kontrol sosial pun bisa dilaksanakan oleh pengurus dan terutama orangtua yang sudah sepuh, dituakan dalam suatu kelompok marga. Inilah pengendali nilai ditengah masyarakat yang masih eksis saat sekarang. Jika ada penyimpangan moral, dikehidupannya, kumpulan ini masih efektif menjadi forum pengadilan untuk meluruskan. Tentu, sangsi morallah yang bisa dijatuhkan atas pelanggaran ini. Inipun sudah bersifat ditakuti, memiliki efek jera. Dan, bila ini dikembangkan sudah akan mengurangi beban Pemerintah Cq. Kepolisian sampai Pengadilan untuk menjaga keadilan ditengah masyarakat. Jadi, punguan Marga dari suatu Tarombo, bisa partner Negara untuk menjaga harmoni ditengah masyarakat.

Bagaimana jika ada yang meniadakan eksistensi sebagai orang batak?. Alat ujinya tentu bisa disorongkan sebuah hipotesa jika seseorang mengaku orang batak maka dia mampu membuktikannya dari Tarombonya. Hal ini menjawab antitesa, tidak semua orang bermarga adalah orang batak. Kok bisa? Ya bisa saja apabila penabalan marga itu tidak dilakukan secara tata aturan yang diterima oleh masayrakat adat disuatu wilayah. Inilah kalau ditelusuri tarombonya akan terbukti, sejatinya asal usulnya dari mana?. Jadi, manfaat ketiga sebagai alat kontrol atas uji kesahihan sebagai orang batak. 

Apa pentingnya diketahui sebagai orang batak?. Bukannya kita ego kesukuan atau sukuisme tidak sama sekali. Pengetahuan tentang "habatahon" itu penting guna menjalankan adat istiadat sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, beragam budaya tapi kita tetap satu bangsa Bangsa Indonesia. Jadi dengan memperkuat Suku Batak pada saat yang sama kita memperkuat Indonesia itu sendiri.(Pemerhati Bonapasogit)
  BeritaTerkait
  • Malapetaka "Martangan Pudi" Dalam Kehidupan Rumah Tangga Suku Batak

    2 tahun lalu

    Dalam membina keharmonisan suatu rumah tangga, perlu ada saling keterbukaan dalam sikap antara si suami dan istri, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dari setiap pasangannya. Banyak yang mengatakan keluarga suku Batak terkenal dengan kesetia

  • Salahkah Ahok Dalam Kasus Surat Al Maidah 51

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : <br></br> Kisruh yang menggelayut penduduk DKI Jakarta jelang Pilkada, terlebih dengan munculnya kasus dugaan penghinaan terhadap ayat suci Alquran yang dituduhkan kepada calon Petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

  • Pendidikan Harga Mati di Lanny Jaya Papua

    2 tahun lalu

    Papua (Pelita Batak) : Dalam sambutannya, Bupati Befa Yigibalom, SE, M,Si menyatakan bahwa pendidikan adalah harga mati untuk membangun di Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua. “Kami tidak

  • 5 Jenis Kanker dengan Harapan Hidup Terbesar

    2 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak):Pertanyaan yang paling umum diajukan pada dokter dan tenaga kesehatan setelah seseorang didiagnosis dengan kanker adalah, "Seberapa besar peluang saya untuk sembuh?"

  • Kalung Bunga Sambut Rombongan Gubernur di Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung

    12 bulan lalu

    Tarutung (Pelita Batak) :Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry  Nuradi bersama Ibu Evi Diana br Sitorus disambut penuh suka cita Ephorus HKBP  Pdt Dr Darwin Lumban Tobing di kantor Pus

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. ariewebnet