• Home
  • Budaya
  • Malapetaka "Martangan Pudi" Dalam Kehidupan Rumah Tangga Suku Batak
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 02 Agustus 2016 11:14:00

Malapetaka "Martangan Pudi" Dalam Kehidupan Rumah Tangga Suku Batak

BAGIKAN:
Ilustrasi
Seluk beluk kehidupan be-rumah tangga tentu menjadi bahan pelajaran bagi keluarga yang selanjutnya. Khususnya dalam keluarga yang berasal dari lingkungan berbudaya dan menanamkan nilai adat istiadat yang kuat. Seperti halnya masyarakat Batak.
 
Dalam membina keharmonisan suatu rumah tangga, perlu ada saling  keterbukaan dalam sikap antara si suami dan istri, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dari setiap pasangannya. Banyak yang mengatakan keluarga suku Batak terkenal dengan kesetiannya, yakni sekali menikah dalam hidupnya.
 
Itu memang ril adanya, memang benar jika pasangan yang dimaksud itu dapat saling menjaga, namun tidak jarang ada juga  pasangan rumah tangga suku Batak diambang kronis stadium tingkat lanjut mengarah keperceraian karena salah satu dari pasangan itu kerap tidak terbuka, suka " Martangan Pudi" atau disebut memberikan dengan diam-diam.
 
Bagi orang batak yang sudah menikah sikap 'Martangan Pudi' sangat tidak dianjurkan dan sangat dilarang keras, sebab adanya sikap martangan pudi adalah bagaikan Virus yang mematikan, berpotensi menghilangkan rasa percaya dari pasangannya jika sudah ketahuan, menimbulkan rasa egois, terkesan hanya mementingkan keluarga sepihak, mengutamakan kepentingan keluarganya sendiri ketimbang keutuhan rumah tangganya, tidak netral, memberikan segala permintaan dari pihak keluarganya tampa melakukan perundingan sama sekali dengan pasangannya. 
 
Tak jarang, pada umumnya  Prilaku seperti ini, kerap akan menghacurkan bahterah pasangan nikah bagi suku Batak. Bukan menutupi, ada banyak keluarga pasangan nikah suku batak hancur berantakan karena salah satu pasangan kerap melakukan hal ini, (Martangan pudi).
 
Definisi dari Martangan pudi adalah, salah satu tindakan dari pasangan nikah yang suka atau gemar memberikan bantuan/permintaan kepada  pihak keluarga sendiri, tampa diketahui pasangannya, suami atau istri. dan istilah Martangan Pudi lebih cendrung dilakukan sang istri.
 
Bagi suku Batak, ada folsofi yang dimaksud dengan " Dalihan na tolu".  Dalihan Na Tolu adalah filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak.
 
Dalihan Natolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. 
 
Dalam adat Batak, Dalihan Natolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga tungku yang dimaksud tersebut adalah:
1. Somba Marhulahula/semba/hormat kepada keluarga pihak Istri.
2. Elek Marboru (sikap membujuk/mengayomi wanita)
3. Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman satu marga) 
 
Maka dengan adanya Dalihan Na Tolu ini, kerukunan antar sesama suku Batak, terjalin keharmonisan yang begitu erat, namun tak jarang, dalam poin 1 yang berbunyi, Somba Marhulahula/semba/hormat kepada keluarga pihak Istri, kerap disalah digunakan oleh pihak orang tua dari siperempuan kepada menantunya. Mungkin karena ia merasa dihormati, maka berani melakukan intervensi kepada menantunya.
 
Biasanya, Orang tua yang baik, akan memberikan bantuan support motivasi kepada anak perempuannya dan menantunya agar keutuhan rumah tangga anaknya tidak terbebani.
 
Namun ini beda, ada orang tua malah ingin merongrong keutuhan rumah tangga putrinya sendiri, seakan mengajari putrinya martangan pudi demi kepentingannya.
 
Tak jarang saban hari selalu meminta bantuan materi kepada Putrinya yang sudah berumah tangga.
 
Terang saja, sebagai anak yang baik dan berbakti luhur pada orang tua, tentu juga siapa saja akan melakukanya, jangankan memberikan berupa uang, nyawanya juga akan diberikan kepada orang tuanya. 
 
Kendati demikian, Namun ada yang perlu diperhatikan, dimana setiap anak perempuan yang sudah menikah hendaknya jangan dibebani dengan hal-hal yang  tidak masuk akal dan harusnya memakai logika.
 
Bagiamanapun putri yang sudah dinikahkan punya kehidupan sendiri, sudah ada tanggungan, ada anak yang harus ditanggung jawabpinya. 
 
Namun tidak semua orang tua dapat memahaminya, banyak orang tua ingin semaunya tampa memerdulikan, memperhatikan perasaan dari para menantu laki-lakinya. 
 
Mengapa itu bisa terjadi, ataukah mungkin karena si mertua merasa Hula-hula (Raja) dalam kultur keluarganya hingga mampu melakukannya?, ada dugaan mungkin itulah faktornya. 
 
Memang sangat ironis sekali jika itu terjadi. Padahal demi kelangsungan kehidupan rumah tangganya, si suami hampir tidak mengenal waktu, rela pontang-pantang kesana kemari mencari mengais rezekinya demi se suap nasi dan menyisihkan sedikit penghasilannya untuk masa depan anak-anaknya Dan itu wajib harus dihargai. 
 
Maka itu jadilah istri baik yang bijak, hargai pengorbanan dari suami jangan suka 'Mertangan Pudi' jika rumah tangga ingin tetap bertahan. 
 
Nah, bagi para perempuan-prempuan Batak yang sudah berumah tangga, maupun bagi yang hendak mau berumah tangga, hendaknya perihal 'Martangan Pudi' ini, dapat menjadi perhatian dan dihindarkan sejauh mungkin. Bukan melarang untuk membantu sanak keluarga pihak sendiri, itu bisa saja dilakukan jika pasangan (suami) tahu dan menyetujuinya. 
 
Apapun yang terjadi, terbukalah kepada pasangan nikahmu, katakan Ya jika Ya, katakan tidak jika tidak, jangan dikatakan Tidak namun kenyataannya Ya. Jika itu terjadi, pasti panjang urusannya.
 
Hendaknya jangan ada dusta diantara pasangan suami-istri. Ingat !, 90 perceraian yang terjadi bagi suku batak, bukan karena selingkuh atau  ingin menikah lagi, namun terjadi karena tidak ada saling mempercayai lagi. semoga pesan ini bermamfaat untuk anda. (TAp) 
 
  BeritaTerkait
  • Jargon Minoritas-Mayoritas Keagamaan Belum Hilang

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Masa Bakti 2015 – 2020, Baktinendra Prawiro,MSc,MH mengatakan persoalan politik di I

  • Dihadiri Dr RE Nainggolan, MM, Christmas Season XII Resmi Digelar di Medan

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Walikota Medan Drs Dzulmi Eldin meminta kepada masyarakat Kota Medan khususnya umat Kristiani agar dapat memaknai serta menjiwai makna Natal untuk bisa merefleksikan kehidupannya kedepannya secara berkesinambungan setelah Natal ini,

  • LPPM UNPRI Gelar Seminar Strategi Pemenangan Hibah Ristekdikti dan Review Proposal Penelitian

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) beserta tim Rektor Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Medan, menggelar Seminar Strategi Pemenangan Hibah Ristekdikti da

  • "Hancur Demi Kawan" Prinsip yang Hanya Dimiliki Orang Batak!

    2 tahun lalu

    BUDAYA Batak memang paling beda dari budaya-budaya lain yang ada di Indonesia bahkan dunia. Mulai dari adat istiadat, kekerabatan, bahasa, kesenian, kepercayaan, serta tidak kalah juga prinsip orang Batak itu sendiri.

  • K-Link Untuk Masyarakat Indonesia: Satu Rumah, Beragam Solusi

    2 tahun lalu

    Medan(Pelita Batak): Awal tahun 2016, website Creative Trader melansir sebuah artikel yang menyatakan bahwa perekonomian Indonesia pada tahun tersebut tidak mengalami pertumbuhan yang diharapkan. H

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb