• Home
  • Budaya
  • Ini Ulos Milik Sumut yang Bernilai Budaya
KSP Makmur Mandiri
Rabu, 20 Juli 2016 11:15:00

Ini Ulos Milik Sumut yang Bernilai Budaya

BAGIKAN:
Internet
Ulos digunakan sebagai busana dipadu dengan busana modern

Ulos adalah kain tenun khas Batak, yang secara harfiah berati selimut yang menghangatkan tubuh; melindungi dari terpaan udara dingin. Ulos bisa merankan berbagai fungsi sandang, sebagai selendang, sarung, penutup kepala, dan lain sebagainya. Hari ini, Ulos masih lestari di lingkungan masyarakat Sumatera Utara. Ulos telah dengan mulus berakulturasi dengan berbagai jenis sandang modern, seperti kemeja dan jas.

Ulos dianggap sebagai peninggalan leluhur orang Batak, yang merupakan bangsa yang hidup di dataran-dataran tinggi pegunugan. Dengan maksud tetap menjaga tubuh tetap hangat, kain Ulos mereka kenakan untuk menghalau dingin selama mereka berladang dan beraktivitas lainnya. Konon, dari tradisi ini juga lahirnya uangkapan bahwa, bagi leluhur orang Batak, ada tiga sumber yang memberi kehangatan pada manusia, yakni matahari, api dan Ulos. Jika sumber panas matahari dan api terbatas oleh ruang dan waktu, maka tidak demikian dengan Ulos, yang bisa memberi kehangatan kapanpun dan dimanapun.

Ulos dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, dari mulai sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain sebagainya. Ulos dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya pada masyarakat Batak Simalungun, Ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri, Ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Ulos dalam pakaian pengantin Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut dalihan natolu, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).

Muhar Omtatok, salah seorang Budayawan Simalungun, berpendapat bahwa, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap (Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian, Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari tren penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik.

Sementara, Ulos penutup kepala pada masyarakat Batak Toba dikenal dengan sebutanSorotali.  Sortali itu sendiri adalah ikat kepala yang fungsinya seperti mahkota. Biasanya dibuat dari bahan tembaga yang disepuh dengan emas, lalu dibungkus dengan kani merah. Sortali ini digunakan pada pesta-pesta besar. Sortali digunakan laki-laki dan perempuan. Akan tetapi sama seperti ulos, penggunaan sortali tidak sembarangan dan memiliki aturan sendiri.

Masyarakat Batak Toba mengenal setidaknya 24 jenis Ulos, yakni:

    1) Pinunsaan,
    2) Ragi idup,
    3) Ragi hotang,
    4) Ragi pakko,
    5) Ragi uluan,
    6) Ragi angkola,
    7) Sibolang pamontari,
    8) Sitolu tuho nagok,
    9) Sitolu tuho bolean,
    10) Suri-suri na gok,
    11) Sirara,
    12) Bintang maratur punsa,
    13) Ragi huting,
    14) Suri-suri parompa,
    15) Sitolu tuho najempek,
    16) Bintang maratur,
    17) Ranta-ranta,
    18) Sadun toba,
    19) Simarpusoran,
    20) Mangiring,
    21) Ulutorus salendang,
    22) Sibolang resta salendang,
    23) Ulos pinarsisi, dan
    24) Ulos tutur pinggir.

Bagi sebagian pemakainya, Ulos, atau Uis menurut orang Batak Karo, lebih dari sekedar kain sandang, melainkan benda bertuah yang mengandung unsur-unsur magis. Tak jarang, Ulos dianggap memiliki daya yang mampu memberikan perlindungan pada pemakainya.(TAp/berbagai sumber)

  BeritaTerkait
  • RE Nainggolan: Harus Satukan Sikap dan Tekad Agar UNESCO Akui Ulos

    3 tahun lalu

    Tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM mengajak seluruh elemen masyarakat menyatukan sikap dan tekad untuk mengajukan ulos sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Rencana dan pekerjaan yang mulia, jika masih ada orang maupun kelompok yang mau memperjuangkan

  • Jika Ingin Go UNESCO, Ulos Harus Menjadi 'Ulos Indonesia'

    3 tahun lalu

    Pengajuan ulos sebagai warisan budaya tak benda menjadi warisan budaya internasional atau dunia harus pertama sekali ulos menjadi milik Indonesia. Tidak lagi disebut sebagai ulos batak atau yang lainnya, melainkan menjadi 'ulos Indonesia'.

  • Anggota DPR RI, Rooslynda Marpaung Dukung Perayaan Hari Ulos 17 Oktober Mendatang

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Anggota DPR RI asal Sumut Rooslynda Marpaung menyatakan mendukung kegiatan hari ulos ke-2 yang akan dilaksanakan pada 17 Oktober 2016 mendatang. Bahkan ia menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam acara yang akan digelar di Hotel Dan

  • Antusias Warga Pada Peringatan Hari Ulos 2016

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Ratusan undangan dan warga memadati Conventionhall Hotel Danau Toba Internasional, Senin (17/10/2016). Warga sangat antusias untuk menyaksikan pagelaran budaya pada peringatah Hari Ulos tahun 2016.

  • Konvensi DMDI Di Medan Tunjukkan Solidaritas Pada Palestina

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi bersama Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi, Presiden DMDI Tan Sri HM Ali Rustam, Ketua Menteri Melaka Datuk Seri

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb