• Home
  • Budaya
  • Ini Tujuh Nilai Budaya Batak Toba sebagai Kearifan Lokal Menurut Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 24 Mei 2016 10:08:00

Ini Tujuh Nilai Budaya Batak Toba sebagai Kearifan Lokal Menurut Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap

BAGIKAN:
imabatousu.blogspot.com
Musik tradisional Batak
Medan (Pelita Batak):
 
Setiap keluarga sebagai anggota masyarakat kiranya perlu menggali dan menghidup nilai-nilai dalam budaya dalam kaitannya dengan sikap hidup dan etika bisnis Batak Toba. Demikian disampaikan Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap dalam Seminar Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan-Aceh, 21 Mei 2016 di Hotel Danau Toba, Medan. Menurutnya ada tujuh nilai budaya Batak Toba yang perlu digali dan dilestarikan.
 
 
Pertama pantun hangoluan, tois hamagoan. Artinya, bila kita berperilaku sopan dan santun akan hidup. Sebaliknya bila kita berperilaku acuh tak acuh terhadap orang akan menerima bencana ayng menjurus kematian. Dalam hidup sehari-hari, orang Batak Toba sangat tergantung pada kaidah moral utama ini untuk mencapai kebahagiaan. 
 
Kedua, jolo nidilat bibir, asa nidok hata. Artinya, setiap kita hendak mengucapkan kata-kata supaya dipikirkan lebih dahulu. Apakah kata-kata, gagasan, atau pendapat itu layak disampaikan atau tidak? Kata-kata yang telah diucapkan tidak bisa ditarik kembali. Hal ini juga mengandaikan bahwa kita dalam bertutur kata harus menyampaikan kata-kata yang tertimbang terlebih dahulu. Dalam pelayanan bisnis, kita harus tetap berbicara dan bersikap sopan kepada para pembeli. 
 
Ketiga, nilangka tu jolo, sinarihan tu pudi. Artinya, setiap kita hendak melangkah maju harus melihat ke belakang. Kita jangan sampai salah langkah, terutama menyangkut visi dan misi yang sudah kita tentukan sebelumnya.
 
Penggunaan ketiga perumpamaan di atas bergantung pada diri kita sendiri agar kita memasuki proses skala kematangan ketergantungan (dependence). Artinya, untuk melakukan ketiga perumpamaan itu bergantung pada diri kita sendiri.
 
Kemudian tiga perumpamaan berikutnya adalah proses skala kematangan kemandirian, yang berhubungan dengan pihak lain, yang disebut menjalin hubungan dengan kesalingtergantungan (interdependensi) dan dijabarkan dalam Dalihan Natolu. 
 
Keempat, manat mardongan tubu (hati-hati berhadapan dengan teman semarga). Artinya, kita harus saling menghormati dan hati-hati kepada orang yang semarga. Kita menjaga perilaku pada situasi apa pun. Kita perlu saling menghormati di antara rekan, kolega, dan teman sejawat.
 
Kelima, somba marhula-hula (bersikap sembah berhadapan dengan kelompok pemberi istri). Artinya, kita harus hati-hati, sopan, dan hormat kepada keluarga pemberi isteri. Secara hirarkis spiritual kelompok pemberi isteri diyakini lebih tinggi posisinya karena kelompok ini telah memberi istri yang akan menjamin kelangsungan hidup (silsilah) marga. Kelompok pemberi istri diyakini sebagai sumber hidup. Dalam hal bisnis, kita harus hormat kepada pembeli barang-barang kita sebab mereka telah memberi hidup kepada kita. Kata orang, pembeli itu adalah raja yang harus dilayani dengan baik.
 
Keenam, elek marboru (penuh kasih sayang kepada pihak penerima istri). Artinya, kita harus selalu bersikap lebih lembut kepada pihak penerima istri. Misalnya, ketika saudari kita sedang hamil atau adik perempuan ayah kita sakit, maka kita membawa makanan ke rumah saudari perempuan. Ini memperlihatkan kasih sayang, meskipun sudah sama-sama berkeluarga. Dalam hal bisnis, kita harus penuh kasih mendampingi penolong kita dan juga anak cabang usaha kita. 
 
Ketujuh, tinallik bulung sihupi, pinarsaong bulung sihala. Unang sumolsol tu pudi ndada sipasingot soada. Artinya, jangan menjesal di kemudian hari karena sudah dinasihati sebelumnya. Ada cukup banyak pengajaran sebelumnya untuk dipedomani dalam hidup. Ada banyak pengalaman hidup, yang mengajar kita untuk lebih bijaksana dalam hidup.
 
Apabila kita terbuka kepada pengajaran dan mau belajar dari pengalaman maka kita tidak akan menyesali pengalaman hidup yang telah menjadi sia-sia dan bahkan merugikan kita sendiri. Dalam hal bisnis, karena kelalaian dan tidak mau mendengar saran-saran baik dari teman bisnis kita tidak maju, malah mundur. Atau kita tidak pernah berefleksi atas tindakan kita sehingga membawa kerugian besar bagi kita. 
 
Inilah beberapa nilai budaya yang perlu perhatikan orang Batak Toba untuk dipedomani dalam hidup dan menjalankan bisnis mereka sehingga mereka dapat maju dengan memberikan pelayanan yang terbaik bagi orang lain, termasuk pada tamu-tamu wisata.(**) 
 
  BeritaTerkait
  • Ini Kekuatan Orang Batak Toba Menurut Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):   Orang Batak Toba memiliki kelebihan-kelebihan. Demikian disampaikan Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap dalam Seminar Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan-Aceh,

  • Ini Dia Enam Jenis Kultur Material Batak Toba

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):   Bentuk kultur material dari hasil budaya Batak Toba nampak dalam berbagai bentuk, seperti kultur mengalit, ukiran, gorga, tenun ulos, rumah adat, dan lain-lain.

  • PARFI Sumut Siap Gali Kearifan dan Kekayaan Budaya Lokal

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Ketua Umum PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) Febriyan Aditya dijadwalkan akan melantik kepengurusan PARFI Sumut, Sabtu (22/7/2017) di Gedung Binagraha Jl Pangeran Diponegoro

  • Hebat ! Festival Budaya Batak di Kalbar Dihadiri Ribuan Orang

    3 tahun lalu

    Kalbar (Pelita Batak) : Merantau jauh dari kampung halaman, bukan berarti harus terlepas dari akar budaya dan kebersamaan dengan kerabat. Hal itu tampaknya yang ingin dibuktikan ribuan orang

  • Pembangunan Danau Toba Tak Boleh Hilangkan Budaya Batak

    3 tahun lalu

    Geliat pembangunan di wilayah Danau Toba, Sumatera Utara, mulai terlihat sejak 2016. Kala itu, melalui Peraturan Presiden Nomor 49/2016 tentang Badan Otorita Pengelola Danau Toba tertanggal 1 Juni

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb