• Home
  • Budaya
  • Ini Dia Enam Jenis Kultur Material Batak Toba
KSP Makmur Mandiri
Senin, 23 Mei 2016 09:09:00

Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap:

Ini Dia Enam Jenis Kultur Material Batak Toba

BAGIKAN:
simarmata.or.id
Gorga
Medan (Pelita Batak):
 
Bentuk kultur material dari hasil budaya Batak Toba nampak dalam berbagai bentuk, seperti kultur mengalit, ukiran, gorga, tenun ulos, rumah adat, dan lain-lain. Demikian disampaikan Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap dalam Seminar Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan-Aceh, 21 Mei 2016 di Hotel Danau Toba, Medan. "Ada enam jenis kultur material Batak Toba," jelasnya dalam makalahnya.
 
Pertama, kultur megali adalah suatu tradisi di mana masyarakat pendukung budayanya menghasilkan peralatan yang terbuat dari batu-batu berukuran besar dan peralatan tersebut digunakan dalam aktivitas mereka sehari-hari. Produk budaya megalit berbentuk teras berundak, lumpang batu, arca batu, batu bergores, menhir, dolmen, sarkofagus dan lain-lain. 
 
Di Samosir, ditemukan berbagai bentuk peninggalan tradisi megalitik yang berkaitan dengan penguburan misalnya sarkofag, tempayan batu dan peti kubur batu. Peninggalan lain tradisi megalitik berhubungan dengan aspek religi, adat, dan kehidupan sehari-hari. Temuan meja-kursi batu, patung-patung batu, juga lesung batu.  
 
Tradisi Megalitik dilestarikan oleh orang Batak Toba di Samosir hingga hari ini. Ini nampak dalam bentuk ‘simin’ dan ‘tugu’. Penghormatan kepada nenek moyang masih dilaksanakan hingga hari ini. Budaya ini akan sangat cocok untuk promosi pariwisata Samosir. 
 
Kedua, karya seni ukiran dan gorga sebagai hasil budaya merupakan hiasan yang mengandung filosofi hidup Batak Toba lewat warna dan bentuk-bentuk gorga. Misalnya gorga andor-andor yang menggambarkan kelangsungan dan kelestarian lingkungan. Ada begitu banyak motif-motif gorga yang menggambakan kehidupan dan cita-cita orang Batak Toba. Kemudian tiga warna dominan dalam gorga dan ukiran mengambarkan mitologi, teologi, dan sosiologi Batak Toba. Merah, putih, dan hitam merepresentasi dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Warna-warna itu merepresentasi juga hulahula, dongan sabutuha, dan boru. 
 
Ketiga, karya seni musik dan sastra merupakan pengungkapan pengalaman hidup. Karya instrument musik merupakan bagian pelengkap ritus dalam upacara ritual Batak Toba. Instrumen gondang bolon dan gondang etek merupakan unsur melekat dalam upacara-upacara adat Batak Toba. Lagu-lagu orang Batak Toba merupakan ungkapan hidup mereka, keindahan alam, dan cita-cita di masa depan. Kemudian hasil seni sastra, seperti umpama dan umpasa, berisi nasihat hidup, pedoman hidup, cita-cita, dan hiburan. 
 
Keempat, kerajinan tenun ulos. Pada zaman ulos berfungsi sebagai sandang demi kesehatan dan tata susila. Ulos yang dahulu berfungsi sebagai baju, dipakai oleh orang sudah dewasa. Maka seorang perempuan dewasa disebut namarbaju. Sekarang ulos lebih berfungsi sebagai simbol, yang mengungkapkan kehangatan untuk tondi, demi kesejahteraan orang yang menerimanya. 
 
Kelima, pengolahan lahan sawah dengan sistem teras. Karena daerah Tanah Batak berbukit-bukit maka sistem pengolahan sawahnya dibuat dengan sistem teras. Hal ini menghasilkan panorama indah. Pengolahan sawah ini juga menuntuk kerjasa dan gotong royong penduduk sekitar dalam pengaturan air dan kerjasama sosial dalam pengolahan pertanian sawah. 
 
Keenam, lokasi bersejarah dan sakral. Beberapa tempat di KDT mempunyai nilai sejarah dan religius. Lokasi bersejarah misalnya berkaitn dengan daerah asal marga dan tempat peristiwa bersejarah dalam sejarah bangsa Batak. Setiap Marga mempunyai daerah asal sendiri dan setiap marga mempunyai hak wilayat sendiri di daerah Batak. Dalam hal ini termasuk tempat-tempat pekuburan nenek moyang marga-marga Batak. Tempat bersejarah misalnya, tempat perjuangan Sisingamangaraja XII melawan penjajah Belanda. 
 
kemudian tempat-tempat sakral bagi orang Batak Toba adalah lokasi yang diyakini sejak dahulu dipakai oleh nenek moyang untuk melakukan ritus agama atau tempat sakral untuk komunitas (huta) tertentu. Gunung Pusuk Buhit misalnya termasuk dalam hal ini. Sekarang ini, sesudah orang Batak menjadi Kristen, mereka mempunyai tempat kudus, seperti Taman Iman Sitinjok di Sidikalang dan Salib Kasih di Tarutung.(**) 
 
  BeritaTerkait
  • Wapres Buka Musyawarah Masyarakat Adat Batak 2016

    3 tahun lalu

    Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengatakan, perbedaan suku, adat istiadat dan agama justeru membuat Indonesia kuat. Perbedaan tersebut juga merupakan kekayaan khazanah bangsa yang tidak dimiliki bangsa lain.

  • PT Toba Pulp Lestari Terima Penghargaan Tertinggi Green Industry

    2 tahun lalu

    Toba Samosir (Pelita Batak) :PT. Toba Pulp Lestari, Tbk kembali menerima penghargaan tertinggi dari Kementrian Perindustrian RI sebagai perusahaan Green Industri (Industri Hijau) (20/12). Penghargaan Industri Hijau merupakan program tahunan Kementerian Pe

  • Ini Alasan Mengapa Harus Ke Samosir

    2 tahun lalu

    Jakarta(Pelitabatak): Bagi anda yang sedang merencanakan liburan tahun ini, sebaiknya menempatkan  Danau Toba dan Pulau Samosir menjadi tujuan utama anda. Setidaknya ada enam alasan mengapa Pu

  • Kejar Target Kunjungan Wisman, Silangit Jadi Bandara Internasional

    2 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) :Komitmen pemerintah untuk pengembangan kawasan Danau Toba, Sumatera Utara akan semakin nyata di tahun 2017 ini. Dimana Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan Bandara Silangi

  • Banyak "Jebakan", Jalinsum di Tobasa Telan Korban

    4 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak): Kerapnya kecelakaan mobil dan sepeda motor yang menimbulkan korban meninggal dunia di Jalan Lintas Sumatera Kabupaten Toba Samosir menuai protes dan kekesalan warga di

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb