• Home
  • Budaya
  • Bahan Dasar Ulos Batak Makin Langka di Bona Pasogit
KSP Makmur Mandiri
Senin, 23 Mei 2016 04:54:00

Prof Posman Sibuea:

Bahan Dasar Ulos Batak Makin Langka di Bona Pasogit

BAGIKAN:
Satuharapan.com/sabar subekti
Prof Posman Sibuea

Medan (Pelita Batak):

Ulos Batak, tenunan indah yang dibuat oleh kaum perempuan Batak. Di dalam tenunan dan motifnya, ada nilai-nilai, gagasan, kepercayaan, dan kisah hidup. Serupa tikar kehidupan. Bagi masyarakat Batak Toba, lembaran tenun itu dapat berkisah tentang bentuk solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat yang tergabung dan terhimpun dalam kesatuan sosial dalihan natolu.

Demikian disampaikan Prof Posman Sibuea, dalam Seminar Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan-Aceh, 21 Mei 2016 di Hotel Danau Toba, Medan. "Kini, para perempuan Batak – sebagian besar –  tidak bisa lagi membuat atau menenun ulos karena bahan dasarnya sudah langka di lokasi (bona pasogit)," ujarnya.

Menurut Guru Besar Unika St Thomas Medan ini, pada dasarnya, bahan utama yang digunakan untuk membau ulos adalah benang yang berasal dari tanaman kapas. Kapas ini akan diolah sedemikian rupa dengan bantuan alat-alat dan teknik yang sangat sederhana  serta didukung oleh  pengetahuan yang terbatas. Setelah kapas menjadi benang akan dilanjutkan dengan proses mewarnai benang.

"Pada masa lampau, proses ini menggunakan bahan-bahan lokal yang disediakan alam sekitarnya, seperti daun nila (salaon) dan akar tumbuhan dan rumput-ruputan di hutan. Mereka harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan tumbuhan salaon  yang hidup di lantai-lantai hutan. Tidak pernah ada pemikiran untuk membudidayakan, misalnya, dari pemerintah. Setelah ada keprihatinan akan punahnya bahan pewarna alami ulos, barulah mulai ada usaha mempertahankan tenunan itu," jelasnya.

Akan tetapi proses  tradisional pembuatan ulos sudah sangat langka dilakukan karena cara ini dianggap tidak efisien mengingat waktu pembuatannya yang lama dan sedikitnya variasi warna yang dihasilkan. Sebaliknya proses mewarnai benang secara modern dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan pewarna sintetik.

"Lantas pertanyaannya, apakah ancaman kepunahan zat pewarna alami  karena semata nilai-nilai globalisasi sehingga perempuan Batak  tidak meminati lagi menenun ulos?" paparnya. Ancaman kepunahan itu lebih karena hutan di sekitar Danau Toba, berubah menjadi perkebunan monokultur. Pemiliknya tidak hanya perusahaan multinasional, tetapi juga perusahaan modal asing.(**)

  BeritaTerkait
  • Ulos Warisan Budaya Bangso Batak Jadi Media Diplomasi Kebudayaan

    3 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) memandang perlu dan penting untuk mengangkat kembali ulos menjadi warisan leluhur bangsa Batak untuk dilestarikan. Karena itu, di Sekretariat YPDT di Cawang, Jakarta Timur, YPDT mengadakan disku

  • Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) Gelar Diskusi Kamisan: Dulu, Ada Doa Khusus untuk Tenun Ulos Batak

    3 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Ulos adalah salah satu kekayaan warisan leluhur bangsa Batak. Kondisi warisan leluhur tersebut makin tergerus oleh minimnya minat kita mencintai ulos. Generasi muda makin tid

  • Pusat Habatakon (Batak Center) Didirikan untuk Menyelamatkan Kebudayaan Batak di Masa Depan

    10 bulan lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Kebudayaan Batak perlahan-lahan ditinggalkan oleh penganutnya yaitu orang-orang Batak itu sendiri, semakin tergerus oleh kemajuan teknologi informasi, pergaulan bebas, hedonisme

  • Marandus Sirait : Hutan Kemasyarakatan Memerlukan Kerjasama

    3 tahun lalu

    Keberhasilan pengelolaan hutan kemasyarakatan memerlukan kerjasama dengan barbagai pihak sehingga tujuan akhirnya berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa dicapai.

  • RE Nainggolan: Harus Satukan Sikap dan Tekad Agar UNESCO Akui Ulos

    3 tahun lalu

    Tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM mengajak seluruh elemen masyarakat menyatukan sikap dan tekad untuk mengajukan ulos sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Rencana dan pekerjaan yang mulia, jika masih ada orang maupun kelompok yang mau memperjuangkan

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb