• Home
  • Agama
  • Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah 2
KSP Makmur Mandiri
Minggu, 10 Maret 2019 10:20:00

Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah 2

BAGIKAN:
Ist
Pdt Robinson Butarbutar
Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP


II. Peran politis warga HKBP: Tinjauan Alkitabiah

A. Luasnya ruang tinjau, pembatasan bahas
Secara defenisi apa yang dikandung dalam kata politik (yang berasal dari kata polis = seluruh penduduk
di satu tempat, daerah,kota, dan politeia = urusan yang kait mengait dengan kepentingan kehidupan 
seluruh penduduk) adalah segala urusan, tindakan dan kegiatan yang dimaksudkan untuk
memaslahatkan seluruh penduduk di satu daerah atau kota, maka peran politik warga HKBP di Distrik 
Tanah Jawa bukanlah dimaksudkan untuk kepentingan diri sendiri saja, melainkan untuk kepentingan 
seluruh penduduk. Hal itu didasarkan pada ajaran Yesus tentang mengasihi sesama sama seperti 
mengasihi Allah. Di dalam pemahaman sedemikian, maka tugas penulis adalah mengungkapkan 
bagaimana Alkitab menggambarkan peran dan tanggung aktif politis umat Allah sebagaimana disaksikan 
oleh Alkitab di dalam menyelenggarakan hal-hal yang tujuannya adalah untuk menyejahterakan 
umatNya, untuk kemaslahatan seluruh rakyat, bukan hanya di dalam komunitas keturunan Abraham 
dari Ishak semata, tetapi juga terhadap komunitas lainnya.

Kita mengetahui bahwa Alkitab mengungkapkan bukan hanya tentang bagaimana Allah melakukan hal-hal yang baik untuk kepentingan hidup manusia dan ciptaan Allah lainnya khususnya terhadap umatNya, 
tetapi juta tentang bagaimana umat Allah berperan di dalam melaksanakan kehendak Allah yang baik 
untuk mereka. Umat dimaksud di dalam Perjanjian Lama adalah umat manusia seluruhnya, secara 
khusus umat pilihanNya, yaitu keturunan Abraham dari Sarah, yang kemudian bernama Israel. 

Sementara yang dimaksud umatNya di dalam Perjanjian Baru adalah para pengikut Yesus Kristus, 
anggota tubuhNya yang berasal dari beraneka bangsa di tempat-tempat yang dikuasai oleh Kekaisaran 
Romawi yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias.
Tempat mencari penampakan perspektif Alkitab tentang peran politis umat Allah di dalam Alkitab 
Perjanjian Lama itu cukup luas. Jika kita memerhatikan kehidupan umat dimaksud di dalam Perjanjian 
Lama, terdapat proses perjalanan yang panjang yang dialami oleh umat Allah yang diceritakan di sana. 

Hal itu dimulai pada masa awal jauh sebelum bapak-bapak leluhur Israel ada, yaitu pada masa setelah 
Adam dan Hawa diciptakan maupun para keturunannya pada masa awal. Hal itu kemudian dilanjutkan 
pada kehidupan para bapak leluhur Israel yang hidup di dalam masyarakat yang nomaden, yaitu yang 
berpindah-pindah di dalam perjalanan yang panjang dari dan menuju tanah Kanaan. Di sini tindakan 
politik dilakukan di dalam konteks keluarga, yang dilanjutkan dalam konteks kepala-kelapa suku, dan 
hakim-hakim yang dikenal dengan masa transisi menuju terbentuknya kerajaan Israel yang kemudian 
terbagi dua sampai masa sebelum pembuangan Israel Utara dan Israel Selatan. Di sana raja-raja sangat 
berperan dan para nabi sebagai rakyat biasa dan sebagai keturunan imam melakukan tugas politiknya 
mengoreksi tindakan para raja yang tidak lagi mengutamakan kemaslahatan umat, malah sebaliknya 
telah menindas rakyat teristimewa kaum kecil dan miskin. Lebih lanjut tindakan politik dilakukan pada 
masa pembuangan maupun sesudah kembali dari pembuangan hingga masa akhir Perjanjian Lama pada 
abad kedua sebelum Masehi. 

Di sana peran politis itu ditinjukkan tidak hanya terkait hubungan di 
antara sesama Israel semata, tetapi juga terkait hubungan mereka terhadap bangsa-bangsa sekitar yang 
ada di sekitar mereka, dan juga yang hidup bersama mereka pada waktu yang berbeda-beda, baik ketika 
belum menjadi suatu bangsa dari suatu kerajaan, maupun saat hidup di dalam sistim kerajaan, dan saat 
menjadi pengungsi di tengah-tengah bangsa lain yang menaklukkan mereka maupun bangsa lainnya. 
Demikian halnya dengan isi Kitab Perjanjian Baru yang menuliskan tentang gerakan Yesus di Palestina 
(Galilea dan Judea), suatu propinsi kekaisaran Romawi yang menguasai bangsa Jahudi, maupun gerakan 
para pengikut Yesus yang bergerak dari Palestina ke diaspora di kota-kota dan propinsi Romawi yang 
memiliki sistim politik patron-klien yang cukup tersusun rapi dengan adanya kesatuan, keamanan dan 
kesejahteraan (pax-Romana). 

Gerakan Yesus di Palestina dituliskan oleh keempat kitab Injil, pergerakan 
para pengikutnya dituliskan di kitab Kisah Rasul-rasul, dan tentang kehidupan kumpulan orang-orang 
yang mengaku Yesus (Baca: jemaat-jemaat di rumah-rumah para patron Kristen) di sana dituliskan di 
dalam surat-surat, baik yang ditulis sebelum injil-injil ditulis (yaitu surat-surat asli dari rasul Paulus) 
maupun yang ditulis pada saat yang bersamaan dengan penulisan injil Lukas dan Mateus, dan Yohannes 
maupun sesudah penulisan injil Markus, yaitu surat-surat lainnya yang ada di dalam Perjanjian Baru. 

Memang ada injil-injil lain dan surat-surat lain yang pernah dituliskan, dari mana kita dapat mencari tahu 
tentang peran politik orang-orang Kristen, tetapi karena mereka tidak masuk kanon Perjanjian Baru kita 
tidak menggunakannya di sini. 

Di dalam kitab-kitab Injil kita mengetahui ajaran-ajaran Yesus tentang bagaimana para pendengarnya, 
khususnya para muridnya seharusnya melakukan peran politisnya di Palestina (Galilea dan Judea) yang 
dipimpin oleh tiga pemerintahan (procurator Romawi yang diangkat oleh Kaisar, para raja-raja keluarga 
Herodes yang merupakan klien Kaisar, dan pemimpin Judaisme yang berpusat di Bait Allah yang 
dipimpin oleh Imam Besar dan ditopang oleh kaum elite lainnya seperti kaum Sadusi, Farisi dan rabi 
yang adalah ahli-ahli Taurat). Di dalam surat-surat kita memiliki ajaran-ajaran rasul dan para murid rasul 
dari generasi kedua Kekristenan yang diungkapkan untuk menuntun bagaimana anggota komunitas 
Kristen di rumah-rumah yang berada di aneka propinsi Romawi di diaspora itu melakukan peran aktif 
politis mereka pada saat ketika komunitas agamawi Kristen itu masih belum diakui oleh Kekaisaran 
Romawi sebagai kumpulan agamawi yang statusnya sejajar dengan agama Judaisme maupun agama-agama Romawi maupun Yunani. 

Surat-surat Perjanjian Baru itu mengungkapkan bagaimana ajaran 
Kristen tentang peran politis orang Kristen di tengah-tengah kekaisaran Romawi dilakukan, di mana 
mereka merupakan penduduk (ada penduduk dengan hak kewarganegaraan, ada penduduk tanpa 
kewarganegaraan Romawi), pada masa ketika orang-orang yang dengannya mereka berinteraksi bertindak tidak toleran terhadap keberadaan dan praktek agamawi mereka, hingga pada masa ketika 
pejabat-pejabat Romawi secara belum diaturkan oleh Kaisar menimbulkan kesulitan-kesulitan berarti 
terhadap para penyembah Yesus dan pengikut ajaran-ajarannya, dan hingga pada masa ketika Kaisar 
sendiri menjadi pihak yang bertanggung jawab dan berkepentingan pada pengejaran dan penganiayaan 
para pengaku Yesus.

Mengingat terbatasnya waktu dan luasnya daerah tinjauan kita untuk mencari tahu bagaimana peran 
dan tanggung jawab politis dilakukan maupun diajarkan di dalam kedua kitab Perjanjian itu, Perjanjian 
Lama dan Perjanjian Baru atau kitab Perjanjian Pertama dan Kitab Perjanjian Kedua itu, tentu di dalam 
tulisan ini kita tidak dapat memeriksa dan menyajikan seluruhnya. Penulis akan menyajikan beberapa 
contoh dari peran politik tersebut. Pada dasarnya Alkitab berisikan nilai-nilai, ajaran-ajaran dan 
kesaksian-kesaksian tentang kegagalan terhadap dan keberhasilan dari pelaksanaan nilai-nilai yang 
disampaikan dan dirumuskan/diungkapkan untuk kemaslahatan manusia, yang dilakukan dengan 
kegiatan politis. Alkitab berisikan kegiatan-kegiatan manusia dasar manusia seperti makanan, minuman, 
sumber-sumber eknomi yang mencoba mengatasi masalah-masalah. Tetapi Alkitab juga 
mengungkapkan interaksi di antara sesama manusia, di mana memang terjadi ketegangan-ketegangan 
di antara satu sama lain., malah hingga konflik dan perang, tetapi di dalam ketegangan-ketegangan itu-
yang terjadi akibat satu atau beberapa pihak hanya memikirkan diri sendiri- diajarkan bagaimana agar 
terjadi perdamaian, keadilan serta kesejahteraan semua pihak, malah bukan saja kesejahteraan dari 
manusia saja, tetapi juga ciptaan lainnya.

B. Tinjauan Alkitabiah tentang peran politis: Beberapa pengalaman pilihan

1. Masa awal
(a) Berteriak kepada Allah melawan penghilangan hidup.

Pada masa awal tindakan politis manusia sang ciptaan Allah, Alkitab telah menunjukkan tindakan politis 
manusia yang tidak menyejahterakan sesamanya, sebaliknya mencelakan malah menghilangkan hidup 
sesamanya. Ketimbang menjagai saudaranya dengan mengatasi perbedaan pengalaman penerimaan 
Allah terhadap persembahan Habel dan Kain, Kain menghilangkan hidup saudara kandungnya, 
sesamanya petani dan peternak. Pada peristiwa di mana tidak ada saksi lain untuk secara politis 
meminta pertanggung jawaban dari Kain, ada dua peran politis yang dicatat pada Kejadian 4: 8-12, yang 
pertama dilakukan oleh pihak yang hidupnya di bumi telah dihilangkan, Habel, dan yang dilakukan oleh 
pihak Allah. 

Ternyata, Habel yang terbuat dari tanah itu tidak tinggal diam di alam kematian. Darah, yang 
merupakan kehidupan itu sendiri- mungkin belum kering tetapi tercurah di tanah di mana Habel 
ditemukan mati terbunuh-tidak tinggal diam. Darahnya (Ibrani: demey) ternyata berteriak (Ibrani: 
tsoaqim) kepada Allah (4: 8). Allah yang mendengar teriakan menuntut keadilan itu bertindak 
menghukum penghilang hidup, Kain. Adalah menarik di sini bahwa hukuman itu tidak menghilangkan, 
tetapi membuat hidup Kain sulit (4: 11-16). Hal berteriak (Ibrani: tsaaqatam, Kel 3:8) ini juga 
merupakan tindakan peran politis yang dilakukan oleh umat Israel di negeri Mesir yang mendapat 
penindasan. 

Tindakan politis berteriak itu didengar oleh Tuhan yang menolak ketidakadilan dan 
memberlakukan keadilan. Warga yang diam seribu bahasa dan berpangku tangan mengalami dan 
mengalami ketidakadilan di dalam masyarakat di mana ia merupakan penduduk tidak memainkan peran 
politisnya untuk memastikan kemaslahatan penduduk. Penguasa yang membiarkan warga atau penduduknya yang ditindakadili hingga kehilangan nyawanya juga bukan merupakan tindakan politis 
yang benar.

(b) Tunduk pada Allah menyelamatkan umat manusia dan ciptaan lainnya: Noah, Kej 6: 1-9: 22)

Menyadari akan rencana Allah untuk memusnahkan penduduk bumi yang melakukan kejahatan, Noah 
melakukan peran politisnya untuk memastikan adanya keturunan manusia setelah air bah. Ia melakukan 
apa yang Allah katakan untuk ia lakukan, mulai dari membangun bahtera dan melakukan hal-hal yang 
Allah sebutkan padanya sampai waktu segala penumpang bahtera diijinkan keluar dari bahtera itu ketika 
air bah sudah benar-benar surut. 

2. Masa Para Leluhur Israel: Masyarakat Nomaden

a. Berpisah untuk kemaslahatan masing-masing: Abraham dan Lot, Kej 13: 1-13
Menghadapi tidak mencukupinya kebutuhan makanan dan minuman untuk ternak-ternak mereka, 
tindakan politis yang diambil oleh Abraham dan Lot. Mengambil prakarsa untuk mengatasi konflik kini 
dan masa depan tidak dengan pertumpahan darah, melainkan dengan perpisahan, dilakukan oleh 
Abraham.

b. Mengungsi menghindari pembunuhan, bertemu menciptakan perdamaian: Yakub dan Esau

Di dalam interaksi politis di antara sesama anggota masyarakat pertanian dan peternakan konflik di 
antara sesama anak dari seorang ayah dan ibu merupakan keniscayaan. Penyebab konflik itu beraneka. 

Ada karena yang satu lebih cerdik dari yang lain, sehingga yang kalah cerdik kehilangan 
keistimewaannya. (atak: "Nabisuk nampuna hata, na oto tu panggadisan"). Bagaimana menghindari 
konflik yang berakibat pada penghilangan nyawa pada masa emosional, tetapi kemudian menyelesaikan 
konflik lama dengan pertemuan untuk menciptakan perdamaian diungkapkan pada Kej 25: 19-28, 27: 1-
40,27: 41-28:9; 32: 1-33:33) pada diri Yakub dan saudaranya Esau.

Tindakan politis yang dilakukan Rebekka dengan menasehati Yakob melakukan tipu muslihat terhadap Ishak sehingga mengambil berkat yang seharusnya diserahkan pada Esau dan mengakibatkan amarah Esau yang telah didahului Yakub harus dibayar oleh Rebekka dengan menyuruh Yakub mengungsi dari tanah Kanaan ke Haran, negeri pamannya Laban. Tindakan politis yang dilakukan oleh Laban menyundangi Yakub dengan tidak 
memberikan Rachel melainkan Lea menjadi istri pertamanya dan tidak memberikan pada Yakub upah 
kerjanya secara wajar (Kej 31: 38-42) direspon oleh Yakub dengan tindakan politis yang merobah 
makanan ternak sehingga menguntungkannya (Kej 30: 37-43) dan akhirnya melarikan diri dari hadapan 
Laban yang menganggap Yakub sebagai miliknya. Di dalam pelarian, Yakub yang diancam pengejaran 
Laban dari satu arah mengadakan perjanjian dengannya, dan menghadapi pengejaran saudaranya Yakub 
dari arah lain memaksa Yakub untuk keluar dari kematian dengan mengadakan prakarsa perdamaian 
dengan saudaranya Esau. 

Perjanjian Laban dan Yakub:
"Timbunan batu inilah pada hari ini menjadi kesaksian antara aku dan engkau..Tuhan kiranya 
berjaga-jaga antara aku dan engkau, apabila kita berjauhan. Jika engkau mengabaikan anak￾anakku, dan jika engkau mengambil istri lain di samping anak-anakku itu, ingatlah, walaupun tidak ada orang dekat kita, Allah yang menjadi saksi antara aju dan engkau..Aku tidak akan 
melewati timbunan batu ini mendapatkan engkau, dan bahwa engkau pun tidak akan melewati timbunan batu dan tubu ini mendapatkan aku, dengan berniat jahat. Lalu Yakub bersumpah 
demi yang Disegani oleh Ishak, azaynya" (Kej 31: 48-53).
Prakarsa pertemuan yang dilakukan oleh Yakub untuk saudaranya Esau telah menghasilkan amarah Esau 
berobah menjadi kasih sayang terhadap adiknya yang sujud di dekatnya: "Tetapi Esau berlari 
mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluhnya lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah 
mereka" (Kej 33: 4). Hal yang berbeda dilakukan kemudian oleh anak-anak Yakub yang membalaskan 
kejahatan dari Sichem anak Hamor orang Hewi terhadap saudari mereka Dina. Dengan tipu muslihat 
mereka membunuh seluruh orang Hewi, suatu tindakan politis yang dilihat Yakub mendatangkan 
kebusukan pada Namanya (Kej 34: 30).

c. Merubah tindakan jahat saudaranya padanya dengan kebaikan menjamin kelangsungan hidup
banyak penduduk: Yakub (Kej 41-47). 

Mendapat tindakan politis penganiayaan oleh saudara-saudaranya terhadapnya tidak membuat 
keberuntungan ahli ekonomi Yakub, yang mendapat anugerah penyertaan Allah dan kuasa dari raja 
Mesir menjadi orang kedua setelah raja mendatangkan kesulitan pada saudara-saudara anak dari 
ayahnya maupun keturunan mereka. Sebalinya, tindakan politis yang besar yang dilakukannya adalah 
menyediakan bahan makanan dan tempat tinggal yang subur untuk saudara-saudaranya dan seluruh 
keturunan ayahnya, maupun untuk penduduk seluruh negeri Mesir dan negeri-negeri di sekitarnya yang 
menghadapi bencana kelaparan berkepanjangan (7 tahun). 

Hal itulah yang menjadi alasan mengapa 
dirinya diberi nama Mesir oleh Firaun, Zaphnath-Paaneach (Kej 41: 45), yang berarti Penyedia 
pertahanan hidup, walaupun ia berusia hanya 30 tahun. Dari ungkapannya yang tercatat pada Kej 45: 4-
8 nampak seorang yang melihat pengalaman pahitnya sebagai jalan untuk kemaslahatan banyak orang 
dalam masa bencana kelaparan: "Akulah Yusuf, saudaramu yang kamu jual ke Mesir. Tetapi janganlah 
bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara 
kehidupalah Allah menyuruh kau mendahului kamu..Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu 
untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di buni ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian 
besar dari padamu tertulong. Jadi bukan kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah...Dialah yang 
menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas 
seluruh tanah Mesir."

Ungkapan Yakub itulah yang merupakan inspirasi bagi para pejabat yang mendapat tugas untuk 
memastikan keberlangsungan kehidupan. Yusuf bisa saja bertindak berbeda dari hal itu. Tetapi ia 
memilih aktif melakukan kehendak Allah untuk memelihara kehidupan. 

3. Masa keluar dari perbudakan menuju dan tinggal menetap di Kanaan

a. Pentingnya partisipasi rakyat tertindas untuk bebas 

Dapat dipahami bahwa kisah pembebasan bangsa Israel keluar dari 400 tahun perbudakan di Mesir (Kel 
12: 40-41) dititik beratkan pada tindakan Jahwe yang merespon teriakan umat Israel di Mesir dengan 
menugaskan Musa yang didampingi saudaranya Harun yang diberi kuasa ilahi yang luar biasa untuk 
membebaskan mereka. Tindakan politis Allah yang membebaskan tidak dapat dipandang rendah, mirip 
dengan tindakannya menyelamatkan seluruh keluarga besar Lot dari pembumi hangusan kota Sodom dan Gomorra dengan juga menari tangan istrinya dan kedua putrinya dan memaksa mereka keluar dari 
kota itu dan menbyuruh mereka lari untuk tidak melihat kebelakang sebelum hukuman dilaksanakan Akan tetapi adalah penting juga untuk menekankan bahwa tindakan penyelamatan oleh Allah itu 
ditopang juga oleh usaha-usaha Allah lewat Musa dan Harun untuk meyakinkan umat Israel terperbudak 
itu untuk mau ikut keluar dari pembuangan Mesir, dan kemudian ketika di Padang Gurun untuk kuat 
menjalani perjalanan ke tanah Kanaan yang penuh tantangan tanpa bersungut-sungut dan kembali ke 
perbudakan di Mesir, atau menyembah allah emas walaupun telah mengalami tindakan Allah yang besar 
di dalam pembebasan mereka. 

Musa yang mengangkat pertanyaan pada Tuhan bagaimana caranya meyakinkan umat Israel yang telah mengetahui tindakannya membunuh orang Mesir yang menganiaya orang Israel semasa kerja paksa dan 
karena itu telah melarikan diri dari Mesir, bahwa ia datang membawa mandate dari Allah yang dikenal 
oleh bangsa itu yang sudah lama hidup di negeri Mesir, negara di mana Allahnya Abraham tidak dikenal. 

Jawaban Tuhan pada Musa merusaha menagkal keraguraguan rakyat pada mandate yang Musa terima 
dari Tuhan (Kel 3: 13-14; 4: 1, 5, 8, 9-14). Ketika Musa dan Harun berbicara dengan orang-orang Israel di 
Mesir melalui para wakil-wakil utama mereka, menyampaikan pesan Tuhan kata demi kata dan juga 
melakukan tanda muzijat di hadapan mereka, mereka pun percaya, berlutut dan berdoa pada Tuhan (Kel 
25: 31). 

Pada pelaksanaannya, ketika raja Firaun memersulit kondisi perbudakan setelah mendengar rencana 
dan permohonan Musa, merekapun bersungut pada Musa (Kel 5: 15-120). Mereka berkata: "Kiranya 
Tuhan memerhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama 
kami kepada Firaun dan hamba-hambaNya dan dengan demikian kamu memberikan pisau kepada mereka 
untuk membunuh kami" (Kel 5: 21). Malah ketika setelah mereka keluar dari Mesir bala tentara Firaun 
mengejar mereka dengan kuda dan kereta Firaun maupun orang-orang berkuda berikut pasukannya, 
orang Israel masih berkata begini: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa 
kami untuk mati di padang gurun ini?...Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah 
mengganggu kami dan biarlah kamu bekerja pada orang Mesir. 

Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja 
pada orang Mesir daripada mati di padang gurun ini" (Kel 14: 12). Dan ketika minuman di padang gurun tidak tersedia di Mara dan di Elim, mereka mengungkapkan begini: "Apakah yang akan kami minum"
(Kel 15: 24)? "Ah, jalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk 
menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke 
padang gurun ini untuk membunuh seluruh Jemaah ini dengan kelaparan"(Kel 16: 3). Di Masa dan 
Meriba, "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum" (17: 2). Ketika Musa tak kunjung turun 
dari gunung Sinai, mereka berkata kepada Harun, "Mari, buatlah unuk kami allah, yang akan berjalan di 
depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir- kami tidak tahu 
apa yang telah terjadi dengan dia" (Kel 32: 1).

Malah ketika menghadapi kesulitan sangat berarti dalam usaha memasuki tanah Kanaan dari bangsa-bangsa yang berada di sana, yang kelihatan lebih kuat dari mereka, mereka berkata: "Ah sekiranya kami 
mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah Tuhan membawa kami ke negeri ini, supaya 
kami tewas oleh pedang, dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami 
pulang ke Mesir?... Baiklah kita mengangkat seorang pemipin, lalu pulang ke Mesir" (Bil 14: 2-4). Itulah 
sebabnya pada Kitab Ulangan mereka diperhadapkan dengan pilihan taat dan setia pada Tuhan atau 
tidak, jika taat mendapat berkat, jika tidak mendapat kutuk (Ul 1-32). Hal sama diingatkan oleh Yosua 
pada Yosua 24: 19-24. 

Walaupun mereka pada setiap kesempatan merespon secara positif permintaan 
agar taat, toh di dalam pelaksanaannya mereka ditemukan tidak setia.Partisipasi aktif orang-orang Israel terhadap tindakan politik pembebasan mereka dari perbudakan di 
Mesir dengan kuat kuasanya boleh dikatakan dapat diragukan dan tak sanggup menghadapi tantangan 
pada proses dan paska pembebasan yang harus dijalani pada awalnya dengan hidup yang 
berkekurangan. Seharusny mereka berpartisipasi lebih aktif, tidak sebalik memersalahkan Musa yang 
telah membawa mereka keluar dari perbudakan. Hal itulah yang menyebabkan mengapa perjalanan 
mereka di padang gurun menuju tanah perjanjian memakan waktu 40 tahun lamanya.

b. Hidup di dalam hukum-hukum Allah

Di dalam kehidupan bangsa Israel yang telah dibebaskan dari perbudakan diatur bagaimana interaksi 
sosial dan politis di antara bangsa itu dan di antara mereka dengan Tuhan. Sebagai bangsa pilihan Tuhan 
mereka diikat oleh perjanjian dengan Allah yang dapat berlangsung terus menerus jika mereka 
melakukan hukum-hukum yang diberikan oleh Allah kepada mereka lewat Musa. Hukum-hukum itu 
diatur sedemikian jelas dan jelimet untuk memastikan bahwa hubungan mereka yang baik dengan Allah 
dapat dinampakkan dalam hubungan mereka yang baik dengan sesamanya manusia. Kitab Keluaran 
hingga kitab Ulangan berisikan sejarah penerimaan dan isi dari hukum-hukum itu dengan segala 
pernyataan tentang berkat bagi yang melakukannya dan hukuman atau kutuk bagi yang tidak 
melakukannya. Berdasarkan hukum-hukum itulah diatur kehidupan sosial, ekonomi, politis dan agama 
dari bangsa itu. 

c. Respons positif terhadap panggilan Allah membebaskan umat: Masa Transisi di bawah Hakim-hakim

Setelah Musa dan Josua berlalu, sementara tugas memasuki tanah Kanaan belum selesai, ketika akibat 
dari pelanggaran-pelanggaran mereka terhadap janji mereka kepada Allah umat Israel ditaklukkan oleh 
bangsa-bangsa di sekitarnya, Allah mengadakan tindakan politis membebaskan mereka ari pengaruh 
dan kekuasaan para raja bangsa-bangsa itu berkali-bali dengan memanggil dan menugaskan para Hakim
yang memimpin militer dan juga bertindak sebagai hakim yang bertindak menurut pandangan sendiri 
berdasarkan hukum Taurat, tanpa suatu pemerintahan pusat. Dari enam belas Hakim Israel pada abad 
tahun 1405-1025 Sebelum Masehi, satu di antaranya yang dapat kita sebut sebagai contoh peran aktif 
perempuan di dalam menaklukkan raja bangsa lain yang mengancam umat Israel adalah Debora seorang 
nabiah yang berhasil mengatasi ketakutan Barak, seorang jenderal yang tidak berani menghadapi 
musuh, dengan dirinya sendiri ikut berperang melawan Sisera. Debora sebaliknya mampu mengalahkan 
Sisera. Hal itu diungkapkan pada Hakim-hakim 4-5 sehingga bangsanya hidup dengan aman selama 40 
tahun (Hakim 5: 31c). Pada seluruh tindakan para hakim, mereka melakukan pembebasan tanpa 
menyaratkan perobahan perilaku moral umat yang mereka pimpin. Penyelamatan rakyat dari kekuasaan 
asing mengutama. (Bersambung)

  BeritaTerkait
  • Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah (1)

    6 bulan lalu

    Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPI. PengantarSebagai Gereja Protestan yang berakar pada ajaran reformator Martin Luther dan para reformator lainnya maupun dari para penge

  • Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah (3-Selesai)

    6 bulan lalu

    Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP4. Masa Kerajaan (Saul hingga Yoyakhin).a. Seruan pertobatan para nabi sebelum pembuangan dan membisunya umatPara nabi dipanggil oleh Tuhan un

  • Ketua Yayasan Sopo Marpingkir HKBP, Edwin P Situmorang Ajak Parhalado Distrik X Medan Aceh Sikapi Tahun Politik

    9 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Ketua Umum Yayasan Sopo Marpingkir Edwin P. Situmorang,SH., MH kembali menjelaskan tujuan pendirian Sopo Marpingkir yang merupakan buah dari perayaan Jubilieum 150 tahun HKBP. Ses

  • Ephorus HKBP Pdt Dr Darwin Lumbantobing Silaturahmi ke Gubernur Sumatera Selatan

    8 bulan lalu

    Palembang(Pelita Batak): Pimpinan HKBP Ompu i Ephorus Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing bersilahturahmi dengan Gubernur Sumatera Selatan bertempat di Kantor Gubernur Sumsel, Selasa 15 Januari 2019.Ompu i E

  • EPHORUS HKBP BERSILAHTURAHMI DENGAN GUBERNUR SUMATERA SELATAN

    8 bulan lalu

    Pelitabatak.com - Palembang 15 Januari 2019, Pimpinan HKBP Ompu i Ephorus Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing bersilahturahmi dengan Gubernur Sumatera Selatan bertempat di Kantor Gubernur Sumsel. Ompu i Epho

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb