• Home
  • Agama
  • Khotbah Evangelium: Hidup dalam Ketaatan Kepada Allah (Ester 5: 1-8)
KSP Makmur Mandiri
Minggu, 14 Juli 2019 07:56:00

Khotbah Evangelium: Hidup dalam Ketaatan Kepada Allah (Ester 5: 1-8)

BAGIKAN:
Ist
Pdt Dr Robinson Butarbutar

Oleh: Pdt Dr. Robinson Butarbutar, STT-HKBP Pematangsiantar

Beberapa tahun lalu, ketika masih bertugas di dalam badan misi United Evangelical Mission berkantor di Jerman, ketika Gereja-gereja Protestan Sedunia masih gencar-gencarnya mengadakan kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan  di dalam satu Dekade (2000-2010), saya pernah mendengar  ceramah dari seorang pemimpin gereja di Namibia, negara jiran Afrika Selatan, bernama Dr. Zephania Kameeta. Salah satu isi ceramahnya tersebut, yang diungkapkan dalam usaha untuk mendorong pendengar untuk bertindak aktif dan proaktif mencegah dan menghentikan tindak kekerasan terhadap perempuan, sangat menggugah hati saya. Ijinkan saya mengungkapkannya sebagai pembuka dari khotbah ini.

Ungkapan itu, yang sudah sedikit saya refleksikan lebih jauh adalah sebagai berikut:
"Meningkatnya Tindak Kejahatan Penuh Kekerasan di dunia ini terjadi bukan karena jumlah orang jahat bertambah banyak, melainkan karena jumlah orang baik yang berani melakukan tindakan penuh pengorbanan untuk mencegah dan menggagalkan kejahatan semakin berkurang hari demi hari. Para penjahat merencanakan kejahatan dua puluh empat jam perhari. Tetapi orang-orang baik berharap tindakan baik dilakukan orang lain untuk keamanannya. Ia tidak menghabiskan waktu yang cukup untuk mencegah muncul dan terjadinya kejahatan. Ketika mengetahui adanya rencana licik kejahatan, kita orang-orang baik membiarkannya, sehingga banyak rencana jahat, dari yang kecil-kecilan hingga yang raksasa itu terlaksana dan banyak korban berjatuhan, sehingga air mata dan isak tangis tak terbendung. Penyesalan dan rasa bersalah datang terlambat. Tindakan terorisme yang semakin memakan banyak korban akan semakin meraja lela bukan semata-mata karena jumlah mereka semakin bertambah, melainkan karena orang-orang baik tidak ikut melakukan hal-hal yang harus dilakukan ketika melihat adanya gerak-gerik mencurigakan dari para teroris."

Sebagai contoh: 

Pada tanggal 7 April and 15 July 1994 pada saat perang saudara Genocide di Ruanda, suku Suku Hutu terhadap suku Tutsi dan kelompok moderat Hutu, setelah direncanakan satu tahun penuh, karena orang-orang baik di dunia, termasuk pemerintah Amerika Serikat, Prancis dan Belgia- mantan penjajah mereka, tidak berusaha keras mencegahnya. Tindakan itu dilakukan oleh para pemimpin kelompok elit di pemerintahan setelah pembunuhan Presiden Juvenal Habyarimana , seorang Hutu, dengan menembak jatuh pesawat yang tengah ditumpanginya yang akan mendarat di Kigali, Rwanda. Pada saat itu ia terbang bersama presiden Burundu Cyprien Ntaryamira, juga seorang Hutu. Tidak diketahui apakah penembakan jatuh itu dilakukan oleh pemberontak atau oleh kekuatan pemerintah. Walaupun terjadi perdamaian saat kekosongan pemerintahan, tetapi pembunuhan terhadap Presiden yang adalah suku Hutu telah memunculkan kebencian yang luar biasa di dalam kaum elite Hutu terhadap orang-orang Tutsi. Genocide itu menghilangkan nyawa 500 ribu hingga satu juta orang Tutsi di desa-desa dan kota-kota mereka, termasuk mereka yang bersembunyi di Gedung-gedung gereja dan di Gedung-gedung sekolah. Saya sudah melihat salah satu gereja di mana hal itu terjadi di pinggiran kota Kigali. 70 persen penduduk suku Tutsi dibunuh secara massal. Pemerkosaan dan kekerasan terhadap perempuan Tutsi terjadi.

Sayangnya justru yang melakukan genocide itu adalah polisi, tantara dan militia kaum Hutu. Pada saat ini setiap tahunnya selama dua hari bangsa Rwanda mengadakan libur perenungan. Akibat peristiwa itu sejak 1 Juli 2002 telah berdiri Pengadilan Kriminal Internasional berkantor di Hague, perbulan Maret 2019 telah memiliki 122 Negara Anggota, untuk mengadili  kejahatan-kejahatan genocide, kejahatan-kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan-kejahatan perang, dan kejahatan-kejahatan agresi internasional.  

Empat tahun kemudian bangsa kita hampir mengalami hal sama jika huru-hara Mei 1998 tidak cepat dicegah dari penyebarannya di seluruh negeri menjelang jatuhnya Suharto, dan hal sama hampir terulang pada tanggal 22  Mei 2019 di tengah-tengah bangsa kita Kemeninfo Tidak menghentikan penyebaran berita-berita bohong dengan menindakmungkinkan pengiriman gambar-gambar ujaran kebencian selama tiga hari agar orang-orang bermaksud jahat tidak leluasa mengirimkan gambar-gambar dengan niat jahat untuk mempropokasi rakyat.

Seandainya POLRI dan TNI tidak cepat mengantisipasi rencana dari para otak demonstrasi tidak damai di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum, dan seandainya Kemeninfo tidak mengambil kebijakan darurat yaitu menghentikan jaringan WA dan Facebook untuk dipakai menyebar Gambar-gambat dan Youtube kebohongan mungkin bangsa ini akan dilanda huru hara, dan jumlah korban akan tidak terhitung banyaknya. Saya tidak tahu percis, apakah pelantikan Letnan Jenderal Hinsa Siburian menjadi Kepala Badan Cyber dan Sandi Nasional di Istana Negara oleh Presiden Jokowi sehari sebelum Kemeninfo melakukan tindakan pencegahan itu terkait satu sama lain. Generasi muda kemungkinan di kemudian hari akan mengetahuinya setelah ada yang menulis tentang hal itu.

Di dalam Alkitab kita justru tindakan pencegahan mirip itulah yang dilakukan oleh Ester. Semula ia tidak berkenan untuk berbuat sesuatu mencegah rencana jahat Haman untuk mengadakan pembersihan etnis Jahudi, genocide terhadap kaum Jahudi dahulu kala di seluruh Persia (Sekarang IRAN). Namun setelah dinasehati oleh Pamannya Mordechai agar Ester tidak tinggal diam karena (i) tinggal diam tidak akan menyelamatkannya dan seisi rumahnya, karena toh cepat atau lambat ia dan keluarganya pun akan dilenyapkan juga, dan (ii) jika Ester tidak berkenan orang lain akan dipakai Allah untuk mencegah pembersihan etnis itu, maka ia pun bertindak dengan keberanian dan hikmat yang luar biasa, semuanya dilakukan karena ketaatanNya kepada Allah yang memanggilnya untuk bertindak melalui kata-kata nasehat Mordechai, paman dari Ester, seorang anak yatim yang karena belas kasihan Tuhan telah menjadi Ratu Persia, walaupun ia orang Jahudi.

Jika Haman memakai kelicikan tingkat summit untuk memenuhi hasratnya, Ester pun memakai strategi tingkat tinggi untuk membongkar dan mencegah terlaksananya rencana-rencana jahat Haman.

Ester secara tidak terduga merencanakan rencana baiknya untuk kemanusiaan, setelah berpuasa dan berdoa, untuk bangsanya dengan jitu, yaitu: 

1. Berdiri di pelataran dalam istana raja agar terlihat oleh raja.
2. Menyentuh Tongkat Emas raja Ahasyweros yang tengah diarahkan kepadanya oleh raja.
3. Tidak secara emosional tetapi dengan tenang memanfaatkan keterbukaan raja untuk mendapat belas kasihan raja.
4. Mengundang raja untuk menghadiri jamuan makan di rumahnya permaisuri raja bersama Naaman. 
Ia tidak langsung mengungkapkan inti permohonannya.
(Kita mengetahui pada pasal lainnya surat Ester tentang berhasilnya Ester menggagalkan rencana Haman).

Para pelaku kebaikan membutuhkan strategi yang lebih tinggi dan lebih hebat dari para perencana dan pelaku kejahatan. 


Karena itulah, saudara-saudara sekalian, keteladanan hidup Ester yang mencegah kejahatan genocide dengan memanfaatkan posisinya sebagai ratu, mengandalkan Tuhan melalui doa, dan dengan menggunakan strategi senyap yang luar biasa, berbicara kepada setiap kita orang-orang yang taat pada Tuhan di tengah-tengah bangsa ini, apapun posisi kita di dalam kehidupan ini, apakah sebagai alat negara, sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, dan sebagai insan manusia. 

Mari menjadi alat-alat Tuhan untuk melakukan banyak kebaikan untuk sesama dengan mencegah terjadinya kejahatan. Jika kita pun tidak memiliki keberanian menjadi pencegah kejahatan terhadap manusia dan terhadap ciptaan lainnya, mari tidak menjadi pelaku kejahatan itu. Berbahagialah orang yang menjadi alat Allah melakukan kebaikan dan mencegah kejahatan, walaupun tindakanmu itu tidak diberitakan di koran-koran maupun di facebook. Mari menjadi alat-alat Tuhan itu dalam semangat ketaatan kepada Allah, di dalam keluarga, jejaring, dan lainnya.(*)

  BeritaTerkait
  • Khotbah Evangelium Minggu XXIII Dung Trinitatis 19 Nopember 2017 Teks: Zephania 1: 7, 12-18 "Bersiaplah Menyambut Hari Tuhan"

    2 tahun lalu

    Oleh: Pdt Dr Robinson Butarbutar, Parsamean STT-HKBP Pematangsiantar. 1.Bagi komunitas orang-orang yang percaya kepada Allah yang tidak hanya menciptakan umat manusia tetapi  juga menuntunny

  • Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah (3-Selesai)

    6 bulan lalu

    Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP4. Masa Kerajaan (Saul hingga Yoyakhin).a. Seruan pertobatan para nabi sebelum pembuangan dan membisunya umatPara nabi dipanggil oleh Tuhan un

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Keempat)

    2 tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukII. Bahasa Figuratif dalam Sejarah Penafsiran Alkitab1. Interpretasi Alegoris dan TipologisBahasa figuratif rupanya jadi alat tafsir buat para bapa gereja yang  

  • Pusat Habatakon (Batak Center) Didirikan untuk Menyelamatkan Kebudayaan Batak di Masa Depan

    tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Kebudayaan Batak perlahan-lahan ditinggalkan oleh penganutnya yaitu orang-orang Batak itu sendiri, semakin tergerus oleh kemajuan teknologi informasi, pergaulan bebas, hedonisme

  • Khotbah Natal Pemprovsu, 19 Desember 2018 di Hotel Danau Toba, Medan, pkl 17.00: "Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita" (1 Korintus 1:30)

    9 bulan lalu

    Oleh: Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPHP/WA: 0812-62472015Sub Tema: "Dengan Perayaan Natal Pemprovsu Berhikmat Melayani Masyarakat Menuju Sumut Lebih Bermartabat."PengantarSaudara

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb